Syok Dalam Kehamilan

Syok digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan klinis yang akut pada seorang penderita yang bersumber pada berkurangnya perfusi jaringan dengan darah, akibat gangguan pada sirkulasi mikro. Hipoksia jaringan akibat kekurangan perfusi yuang berlangsung terlalu lama dan progresif akan merusak sel-sel dan pada akhirnya mengakibatkan kematian.
Klasifikasi syok:
1. Syok Hipovolemik, seperti syok karena perdarahan dank arena dehidrasi
2. Syok Septik (karena infeksi)
3. Syok Kardiogenik (karena kegagalan jantung)
4. Syok Anafilatik (karena alergi)
5. Syok Neurogenik (karena rangsangan luar biasa pada urat saraf)
6. Syok Obstruktif (karena penghambata aliran darah ke jantung)

Sirkulasi Mikro dalam syok Hemoragik
Dalam beberapah hal keadaan patofisiologi, sirkulasi mokro pada syok hemoragik menunjukkan perbedaan dengan keadaan pada syok septic. Setelah terjadi perdarahan yang berat, volume darah beredar sangat berkurang. Hipovolumenya mengakibatkan hipotensi sehingga penderita jatuh dalam keadaan syok. Syok berhubungan dengan peningkatan katekolamin dalam darah yang disertai vasokontriksi arteriola dan venula dalam sirkulasi mikro. Vasokontriksi pada pembuluh darah ini berlangsung karena rangsangan simpatikus.
Akibat terjadinya hipotensi, susunan saraf simpatikus mendapat rangsangan dari pusat-pusat vasomotor dalam medulla yang lebih dahulu dirangsang oleh reseptor-reseptor regang yang berada dalam sinus kariotikus dan arkus aorta. Hal ini menyebabkan pembuluh darah tersebut seolah-olah terperas.

Tingkat dan Gambaran Klinik Sindrom Syok
Dari sudut klinis, sehubungan dengan ringan dan beratnya syok dapat dibagi dalam:
1. Syok yang reversible atau primer yang dibagi dalam 2 stadium
• Syok reversible dini (yang masih dapat dikompensasikan)
 systole normal terjadi vasokontriksi pembuluh darah tepi, nadi lebih cepat dari normal, kulit terasa hangat, penderita gelisah, ketakutan dan kedinginan,
 dapat diatasi dengan perawatan yang tepat dan cepat dengan pemberian cairan elektrolit IV
• Syok reversible lanjut (dalam keadaan yang dikompensasi)
 tekanan darah menurun, hipotensi, nadi lebih cepat, penderita berkeringat banyak, kulit dingin, suhu menurun
dalam keadaan yang semakin buruk penderita menjadi pucat, bibir kebiruan, mata cekung, dieresis menjadi kurang dan mulai timbulnya tanda-tanda terganggunya fungsi alat vital
 cairan infuse harus diberikan dalam jumlah banyak disertai dengan pengukuran vena pusat
2. Syok yang irreversible atau sekunder
Dalam keadaan yang irreversible, penderita tidak tertolong lagi. Meskipun demikian, segala sesuatu harus diusahakan untuk menolong penderita sebelum meninggal.

SYOK OBSTETRIK
Dalam kehamilan fisiologik terjadi perubahan hemodinamik yang memberi perlindungan atau justru member predisposisi terhadap timbulnya syok seperti peningkatan curah jantung dan perubahan mekanisme pembekuan darah.
Syok pada waktu kehamilan mengakibatkan syok pula pada janin yang berada dalam kandungan. Peristiwa-peristiwa dalam praktek kebidanan yang dapat menimbulkan syok adalah:
1. Perdarahan
 merupakan sebab utama dari syok sebagai penyebab kematian maternal. Peristiwa dalam kebidanan yang dapat menimbulkan syok adalah abortus, KET, gangguan pelepasan plasenta, atonia uteri, plasenta previa, rupture uteri, dll

2. Infeksi berat
 peristiwa infeksi yang dapat menimbulkan syok antara lain abortus infeksiosus, febris puerperalis, pielo nefritis
3. Solusio plasenta
 akibat solusio selain timbulnya perdarahan,terdapat juga pembebasan banyak tromboplastin dari desidua dan korion pada tempat terjadinya solusio plasenta
4. Perlukaan dalam persalinan
 seperti robekan rahim yang menimbulkan syok sebagai akibat trauma dan juga karena perdarahan yang banyak terjadi
5. Inversio uteri
 biasanya disebabkan karena kesalahan dalam pertolongan kala uri. Syok dalam hal ini lebih banyak bersifat neurogik.
6. Emboli air ketuban
 menimbulkan syok yang sangat mendadak dan biasanya berakhir dengan kematian. Terjadi pada HIS yang kuat dengan ketuban yang biasanya sudah pecah. Emboli masuk ke dalam sinus dinding uterus dan dibawa ke paru-paru.

Penanganan Syok
Pada syok hemoragik, tindakan yang essensial adalh menghentikan perdarahan dan mengganti kehilangan darah tersebut. Setelah diketahui syok hemoragik, dilakukan:
1. Penderita dibaringkan dalam posisi terndelenburg (telentang dengan kaki sedikit tinggi)
2. Jaga agar penderita jangan sampai kedinginan
3. Bebaskan jalan napas dan dapat dilakukan oksigenasi dan diberi oksigen 100% 5 liter/menit
4. Pastikan ada persediaan darah untuk transfusi
5. Pasang infuse dalam bentuk larutan seperti NaCl 0,9 %, RL, Dextrone, Plasma, dll
6. Pemeriksaan hemotokrit yang berguna sebagai pedoman pemberian darah (normal 40 %)
7. Jika dianggap perlu, syok hemoragik diberi cairan bikarbonat natrikus untuk mencegah atau menanggulangi asidosis

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s