SADARI

1. Pengertian SADARI
SADARI merupakan suatu upaya untuk memeriksa dan mendeteksi secara dini kemungkinan kelainan yang terdapat pada payudara secara manual dengan tangan sendiri.

2. Tujuan SADARI
Tujuan dari SADARI adalah untuk membantu wanita melakukan deteksi dini adanya kelainan pada payudara.(Suddarth & brunner,2003)
Bentuk payudara biasanya berubah-ubah. Sebelum memasuki masa menstruasi, biasanya payudara terasa membesar, lunak, atau ada benjolan dan kembali normal ketika masa menstruasi selesai. Yang terpenting adalah mengenali mana perubahan yang biasa terjadi dan mana yang tidak.
Pilihan waktu yang tepat untuk melakukan SADARI adlah antara hari ke 5-10 dari siklus menstruasi dengan menghitung hari pertama haid sebagai hari I.
3. Cara Melakukan SADARI
a. Langkah 1
1. Berdirilah di depan cermin.
2. Periksa payudara terhadap segala sesuatu yang tidak lazim.
3. Perhatikan adanya cairan dari payudara, keriput ataupun kulit yang mengelupas.

b. Langkah 2
Dua langkah berikut ini dilakukan untuk memeriksa segala perubahan dalam bentuk payudara. Ketika melakukannya harus mampu untuk merasakan otot-otot yang terasa meregang.
1. Perhatikan dengan baik di depan cermin ketika anda melipat tangan di belakang kepala dan kemudian menekan tangan anda ke arah depan.
2. Perhatikan setiap perubahan kontur dari payudara tersebut.

c. Langkah 3
1. Selanjutnya tekan tangan anda dengan kuat pada pinggangdan agak membungkuk ke arah cermin sambil menarik bahu dan siku ke arah depan.
2. Perhatikan setiap perubahan bentuk payudara.

d. Langkah 4
1. Angkat tangan kiri anda.
2. Gunakan 3 atau 4 jari tangan kanan untuk meraba payudara kiri anda dengan kuat, hati-hati dan menyeluruh.
3. Mulailah pada tepi terluar, tekan bagian datar dari tangan anda dalam lingkaran kecil, bergerak melingkar dengan lambat di sekitar payudara.
4. Secara bertahap lakukan ke arah puting susu.
5. Pastikan untuk melakukannya pada seluruh payudara.
6. Beri perhatian khusus pada area di antara payudara dan di bawah lengan termasuk bagian dibawah lengan itu sendiri.
7. Rasakan adanya benjolan atau masa yang tidak lazim di bawah kulit.

e. Langkah 5
1. Dengan perlahan remas puting susu dan perhatikan cairan yang keluar.
2. Jika dari payudara keluar rabas selama sebulan yang terjadi ketika anda tidak sedang melakukan SADARI, maka segeralah ke tenaga kesehatan.
3. Ulangi pemeriksaan pada payudara kanan.

f. Langkah 6
1. Langkah 4 dan 5 harus diulangi dalam posisi berbaring.
2. Berbaringlah mendatar terlentang dangan lengan kiri anda di bawah kepala anda dan sebuah bantal yang dilipat di bawah bahu kiri anda (posisi ini akan mendatarkan payudara dan memudahkan untuk memeriksanya)
3. Gunakan gerakan sirkuler yang sama seperti uraian di atas.
4. Ulangi juga pada payudara kanan.
(Suddarth & brunner,2003)

Stimulasi Pendengaran Pada Bayi

1. Tahap perkembangan Indera Pendengaran Bayi : 0-2 tahun
Menyaksikan tahap perkembangan pada anak merupakan pengalaman yang menyenangkan orang tua. Perubahan yang sesuai yang terjadi setiap bulannya mengisyaratkan pertumbuhan yang baik pada setiap fungsi organnya. Setiap fungsi organ tersebut akan terus berkembang mencapai kematangan. Begitu juga dengan panca indera mereka. Setiap perkembangan indera yang terjadi harus terus dirangsang perkembangannya oleh kita, termasuk indera pendengaran. Berikut adalah salah satu hal yang dapat menjadi pegangan anda sebagai orang tua dalam mencermati perkembangan indera pendengaran bayi.
Pada Bayi usia 1 bulan:
• Setelah usia satu bulan pendengaran bayi sudah bisa memberikan respons terhadap suara keras bahkan suara lembut sekalipun. Respons bisa dalam bentuk mengedip-ngedipkan mata, mengernyitkan dahi atau mendadak terbangun dari tidurnya, dan sebagainya.
Pada Bayi usia 2 bulan:
• Umumnya bayi akan memberikan respons positif terhadap suara manusia. Mereka menyukai nyanyian dan celotehan orangtuanya. Tepat usia 2 bulan, kebanyakan bayi sudah bisa mengenal suara orangtuanya dan memberikan respons melalui perubahan ekspresi wajah atau gerakan tubuh.
• Kemampuan berbahasa bayi usia 2 bulan adalah menciptakan bunyi-bunyian, seperti aooh dan aaah…

Pada bayi usia 3 bulan:
• Bayi mulai terkejut atau kaget ketika mendengar suara ribut yang tiba-tiba.
• Terganggu atau terbangun dari tidurnya ketika mendengar orang berbicara dengan keras.
• Mulai memperhatikan orang tuanya bicara dan terkadang membalasnya dengan mengoceh “coo” dan “aaah”.
Bayi usia 3-6 bulan:
• Menoleh ke arah suara yang membuatnya tertarik dan mendengarkannya.
• Terbangun ketika ada suara ribut dan orang bicara.
• Meniru suara mereka sendiri.
• Merespon suara ibu.
Bayi usia 6-12 bulan:
• Mulai mengerti arti “jangan ya…” dan sejenisnya, “da da..”, serta mulai tahu sebutan nama mereka.
• Mulai meniru orang berbicara.
• Menikmati mainan yang mengeluarkan suara, bukan dari bentuknya.
Bayi usia 12-18 bulan:
• Mengucapkan kata pertama mereka, seperti “ma ma” ataupun “pa pa”
Bayi 18-24 bulan:
• Secara spontan mulai bernyanyi dan bersenandung.
• Sudah memiliki kurang lebih 20 kosakata.
• Mulai menyusun 2 sampai 3 kata..
2. Cara menstimulasi umum:
Sering-seringlah bayi diajak bicara, bernyanyi, bersenandung, ngobrol. Diperkenalkan dengan berbagai bunyi-bunyian yang ada di sekitar. Jangan bosan. Biarpun anak diam saja, ia menyerap semua stimulus tersebut dan mengolahnya dalam dirinya. Saat fungsi bahasa pada otaknya matang, dia akan mengekspresikannya.
3. Gangguan pendengaran pada bayi
Gangguan pendengaran pada anak perlu dideteksi seawal mungkin mengingat pentingnya peranan fungsi pendengaran dalam proses perkembangan bicara. Fungsi pendengaran dan perkembangan bicara & bahasa sudah termasuk dalam program evaluasi perkembangan anak secara umum yang dilakukan oleh profesi di bidang kesehatan mulai dari tingkatan Posyandu.
Identifikasi gangguan pendengaran pada anak secara awal dengan cara pengamatan reaksi anak terhadap suara atau tes fungsi pendengaran dengan metode dan peralatan yang sederhana, perlu difahami oleh semua profesi di bidang kesehatan yang banyak menghadapi bayi dan anak. Dokter Puskesmas, petugas Posyandu atau bidan di klinik Ibu dan Anak perlu mengetahui cara identifikasi gangguan fungsi pendengaran secara awal dan kondisi klinis yang perlu dicurigai akan mengakibatkan gangguan pendengaran. Untuk membantu program penanganan awal , identifikasi awal gangguan pendengaran dan bagaimana proses perkembangan bicara pada anak perlu ditingkatkan dengan penyuluhan atau seminar kepada para orang tua .
a. Deteksi dini respon anak terhadap rangsangan suara
• Kecurigaan orang tua akan masalah gangguan pendengaran pada anaknya. Kalau ada kecurigaan, dalam kondisi dan situasi yang bagaimana . Apakah anak ada respons terhadap suara tertentu saja ,tetapi tidak ada respons terhadap suara yang lain. Bagaimana kekerasan suaranya ? Bagaimana kondisi dan situasi saat pengamatan berlangsung. Sepi / ramai. Apakah dibantu input visual atau organ sensorik yang lain
• Usia 0-4 bulan : Apakah bayi kaget kalau mendengar suara yang sangat keras ? Apakah bayi yang sedang tidur terbangun kalau mendengar suara keras ?
• Usia 4-7 bulan : usia 4 bulan apakah anak mulai mampu menoleh kearah datangnya suara diluar lapangan pandang mata ? Apakah anak mulai mengoceh di usia 5-7 bulan Sebelum usia 7 bulan apakah anak mampu menoleh langsung ke arah sumber suara diluar lapangan pandang mata ?
• Usia 7-9 bulan. Apakah anak mampu mengeluarkan suara dengan nada yang naik –turun atau monoton saja ?
• Usia 9-13 bulan. Apakah anak menoleh bila ada suara dibelakangnya ? Apakah anak mampu menirukan beberapa jenis suara ? Apakah anak sudah mampu mengucapkan suara konsonan seperti ‘beh’, ‘geh’ , ‘deh’, ‘ma’
• Usia 13-24 bulan. Apakah dia mendengar bila namanya dipanggil dari ruangan lain ? Apakah anak memberikan respons dengan bervokalisasi atau bahkan datang kepada anda ? Kata-kata apa saja yang mampu diucapkan ? Apakah kwalitas suara dan cara pengucapannya normal ? Berikan contoh!
b. Gejala anak dengan kemungkinan mengalami gangguan pendengaran
• Kurang responsif terhadap suara – suara yang ada disekitarnya : vacuum cleaner, klakson mobil, petir.
• Anak kelihatannya kurang perhatian terhadap apa yang terjadi disekitarnya, kecuali yang bisa dinikmati dengan melihat. Anak tidak mudah tertarik dengan pembicaraan atau suara-suara yang ada disekelilingnya
• Cenderung berusaha melihat muka lawan bicara dengan tujuan mencari petunjuk dari gerak bibir dan ekspresi muka guna mendapat informasi tambahan apa yang diucapkan . Anak kurang responsif apabila diajak bicara tanpa diberi kesempatan melihat muka lawan bicara
• Sering minta kata-kata diulang lagi
• Jawaban yang salah dengan pertanyaan atau perintah sederhana
• Kesulitan menangkap huruf mati/ konsonan
• Anak hanya memberikan respons terhadap suara tertentu atau dengan kekerasan tertentu
• Anak memberikan respons yang tidak konsisten pada waktu yang berbeda. kemungkinan mengalami gangguan pendengaran yang hilang timbul sebagai akibat otitis media serosa. Orang tua sering menganggap karena anak ‘cuek’ atau ‘bandel’, hanya memberikan respons kalau anak sedang mau saja
• Kesulitan menangkap pembicaraan didalam ruangan yang ramai. Anak dengan gangguan pendengaran ringan atau sedang masih mampu menangkap pembicaraan dilingkungan yang ribut seperti di kelas atau dirumah dengan suara-suara TV yang cukup mengganggu. Anak dengan pendengaran yang normal mempunyai kemampuan mengatasi kesulitan di lingkungan mendengar yang sulit
• Ucapan anak yang sulit dimengerti merupakan salah satu kemungkinan anak mengalami gangguan pendengaran. Hal ini disebabkan anak tidak mampu menangkap semua elemen pembicaraan dengan jelas sehingga anak akan mengalami kesulitan meniru ucapan dengan betul dan baik. Anak juga akan mengalami gangguan pola berbicara yang sering rancu dengan masalah intelegensinya
• Bicara anak lemah atau bahkan terlalu keras. Hal ini menunjukkan bahwa anak tidak mendengar suaranya sendiri. Anak yang bicaranya pelan kemungkinan mengalami tuli konduktif karena anak dapat menangkap suaranya sendiri melalui jalur hantaran tulang sekalipun hantaran udaranya mengalami gangguan. Anak dengan tuli sensorineural akan berbicara lebih keras supaya bisa menangkap suaranya sendiri
• Kemampuan berbicara dan pemahaman kata-kata terbatas. Anak dengan gangguan pendengaran akan mengalami penurunan kemampuan mendengar dan memahami arti kata-kata sehingga menghambat proses perkembangan bicara
4. Tes daya dengar pada bayi secara manual
Tanpa pendengaran yang baik, anak tidak dapat belajar berbicara dengan baik. Karena itu,penting sekali mengetahui kemampuan daya dengar sedini mungkin pada masa kanak-kanak.

Kegunaan tes daya dengar:
Jika gangguan pada daya dengar anak dapat diketahui secara dini, berbagai cara dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan menigkatkan kemampuan berbicara pada anak.
Cara melakukan tes daya dengar:
Tes daya dengar ini menggunakan pertanyaan-peranyaan yang dipilih sesuai dengan umur anak.
Jawaban yang sesuai dengan hasil tes itu yaitu:
Ya : anak dapat melakukannnya dulu maupun sekarang
Tidak : anak tidak dapat melakukannya dulu maupun sekarang atau kita tidak yakin bahwa anak dapat melakukan hal tersebut.
Cara menilai:
Tuliskan hasil tes daya dengar pada kartu data tumbuh kembnag anak.
Jawaban ya berarti tidak ditemukan adanya kelainan pada daya dengar anak (kode N).
Jawaban tidak berarti ada gangguan pada daya dengar anak (kode TN).

Tes Daya Dengar pada anak sesuai dengan kelompok umur:
• Umur kurang dari 6 bulan
1. Pada waktu bayi tidur kemudian kita berbicara atau membuat kegaduhan, apakah bayi akan bergerak atau terbangun dari tidurnya?
2. Pada waktu bayi terlentang dan kita duduk di dekat kepalanya, kemudian kita menepuk tangan keras-keras. Apakah bayi terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambil mengangkat kaki tangannya ke atas?
3. Apabila ada suara yang nyaring, misal suara batuk, salak anjing, piring jatuh ke lantai,dll. Apakah bayi akan terkejut atau terlompat?

• Umur lebih dari 6 bulan
1. Pada waktu bayi tidur, kemudian kita berbicara atau membuat kegaduhan, apakah bayi akan bergerak atau terbangun dari tidurnya?
2. Pada waktu bayi terlentang dan kita duduk di dekat kepalanya, kemudian kita menepuk tangan keras-keras. Apakah bayi terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambil mengangkat kaki tangannya ke atas?
3. Apabila ada suara yang nyaring, misal suara batuk, salak anjing, piring jatuh ke lantai,dll. Apakah bayi akan terkejut atau terlompat?
4. Kita berada disisi yang tidak terlihat oleh bayi, sebutlah namanya atau bunyikan sesuatu. Apakah bayi memalingkan kepala mencari sumber suara?

• Umur lebih dari 9 bulan
1. Pada waktu bayi tidur, kemudian kita berbicara atau membuat kegaduhan, apakah bayi akan bergerak atau terbangun dari tidurnya?
2. Pada waktu bayi terlentang dan kita duduk di dekat kepalanya, kemudian kita menepuk tangan keras-keras. Apakah bayi terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambil mengangkat kaki tangannya ke atas?
3. Apabila ada suara yang nyaring, misal suara batuk, salak anjing, piring jatuh ke lantai,dll. Apakah bayi akan terkejut atau terlompat?
4. Kita berada disamping atau belakangnya, disisi yang tidak terlihat oleh bayi, sebutlah namanya atau bunyikan sesuatu. Apakah bayi langsung memalingkan kepala mencari sumber suara tersebut disamping atau belakangnya.

• Umur lebih dari 12 bulan
1. Pada waktu bayi tidur, kemudian kita berbicara atau membuat kegaduhan, apakah bayi akan bergerak atau terbangun dari tidurnya?
2. Pada waktu bayi terlentang dan kita duduk di dekat kepalanya, kemudian kita menepuk tangan keras-keras. Apakah bayi terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambil mengangkat kaki tangannya ke atas?
3. Apabila ada suara yang nyaring, misal suara batuk, salak anjing, piring jatuh ke lantai,dll. Apakah bayi akan terkejut atau terlompat?
4. Tanpa terlihat oleh anak, buatlah suara yang menarik perhatiannya atau bercakap-cakaplah kita, apakah anak langsung mengetahui posisi kita sebagai sumber suara yang berpindah-pindah?
5. Ucapakan kata-kata yang mudah dan sederhana, dapatkah anak menirukan kata-kata tersebut?

• Umur lebih dari 24 bulan
1. Tanpa melihat gerakan bibir, tanyakan pada anak: “mana matamu?, mana kakimu?”. Apakah anak menunjukkan mata dan kakinya dengan berar?
2. Sediakan buku bergambar. Tanpa melihat gerakan bibir, tanyakan pada anak:”mana gambar kucing(anjing, kuda, orang)?”. Dapatkah anak menunjukkan gambar tersebut dengan benar?
3. Tanpa melihat gerakan bibir kita, perintahkan pada anak untuk mengerjakan:”berikan boneka itu kepada ibu”,”taruh balok-balok ini di atas meja atau kursi”. Dapatkah anak mengerjakan perintah tersebut dengan benar?

• Umur lebih dari 36 bulan
1. Perlihatkan benda-benda yang ada disekeliling anak seperti sendok, cangkir, bola, bunga, dsb. Suruh anak menyebutkan nama benda-benda yang kita perlihatkan. Dapatkah anak menyebutkan nama benda-benda tersebut dengan benar?
2. Suruh anak duduk dan kita duduk dalam jarak 3 meter di depannya. Mintalah anak mengulangi angka-angka yang telah kita ucapkan:”satu, lima”, atau menirukan dengan menggunakan jari tangannya. Kemudian tutup mulut kita dengan tangan, ucapkan empat angka yang berlainan. Dapatkah anak mengulangi atau menirukan ucapan kita tadi dengan menggunakan jari tangannya?

Pertanyaan-pertanyaan tes dijawab dengan jawaban “Ya” atau “Tidak”.
5. Tes gangguan pendengaran pada bayi
Ada banyak cara untuk mendeteksi ganguan pendengaran anak yang di pakai dalam ilmu kedokteran, diantaranya:
a. BOA non conditioning
Tehnik BOA sudah lama dikembangkan untuk evaluasi pendengaran anak-anak usia < 18 bulan, sejak belum tersedia alat-alat elektrofisiologik Tehnik yang non conditioning tidak menggunakan re-inforcer, hanya berdasarkan pada hasil observasi reaksi perilaku anak terhadap rangsang bunyi. Tidak ada ketentuan yang khusus mengenai penilaian reaksi bayi terhadap rangsang suara.
Metode sederhana yang selama ini dilakukan untuk screening pendengaran pada neonatus dengan mengamati refleks Moro atau refleks startle . Prosedur tes dapat dilakukan dengan stimulasi suara pada waktu bayi sedang tidur didalam box/tempat tidur bayi di ruangan yang sunyi. Sebaiknya tanpa selimut sehingga gerakan-gerakan anggota tubuhnya dapat diamati lebih jelas 3
Tidak ada definisi yang khusus mengenai reaksi bayi terhadap suara. Respons bayi terhadap stimulus suara yang selama ini dipakai adalah berupa respons motorik gerakan berupa sentakan tangan atau kaki, tangan terangkat kesamping, jari-jari tangan mengembang, kaki terangkat dan kepala tergerak ke arah belakang . Pada bayi dengan pendengaran normal, refleks startle timbul pada intensitas yang agak tinggi yaitu sekitar 85 dB SPL. Dengan intensitas yang lebih tinggi : 105-115 dB SPL dapat menimbulkan refleks auro-palpebral berupa kedipan mata atau mata lebih terpejam pada saat mata tertutup sebagai respons terhadap stimulus suara 11,12
Respons perilaku non conditioning lain yang bisa diamati adalah perubahan ritme gerakan-gerakan tertentu yang sedang dilakukan anak pada saat pemberian stimulus bunyi. Misalnya pada bayi saat menghisap susu , tiba-tiba berhenti atau sebaliknya justru frekuensi menghisapnya menjadi lebih cepat
Pengamatan respons pada tes BOA perlu dipertimbangkan perkembangan anak secara keseluruhan baik dari segi kepekaan menangkap suara dan perkembangan motoriknya.
b. Tes ewing
Ewing dan Ewing 1947 14, pertama kali melakukan tes pendengaran pada bayi dengan menggunakan noise makers yang dibagi menjadi 3 kriteria : kriteria distraksi, kooperatif dan kriteria respons. Ternyata pemberian signal frekuensi 4000 Hz lebih mudah menimbulkan respons dan kemampuan melokalisasi arah suara lebih baik setelah usia 6 bulan 15 .
Tes Ewing, merupakan tes distraksi dengan mengamati respons anak berupa menolehnya kepala tanpaconditioning dengan menggunakan 6 jenis stimulus yang diberikan pada jarak 1 m di belakang anak 14
 Bunyi : “ psss-psss “ untuk menggambarkan suara frekuensi tinggi
 Suara frekuensi rendah : “ uuh- uuh ”
 Suara sendok dan cangkir ( white noise )
 Suara remasan kertas ( frekuensi 6000 Hz )
 Suara bel (frekuensi puncak 2000 Hz )
 Mainan ‘giring-giring’ ( frekuensi puncak 4000 Hz )
c. BOA dengan conditioning
BOA dengan conditioning : VRA, TROCA, VROCA merupakan prosedur tes pendengaran anak dengan menggunakan re-inforcer untuk meningkatkan respons dan lebih memotivasi anak memberikan reaksi terhadap stimulus bunyi. Karakteristik re-inforcer adalah pengalaman sensorik yang menyenangkan atau aktivitas permainan yang diberikan dalam waktu yang pendek.
 Visual Reinforcement Audiometry ( VRA)
VRA merupakan tes pendengaran yang sangat bermakna apabila dilakukan oleh audiologis yang terlatih dan berpengalaman. 10 . Prinsip VRA adalah menilai berpalingnya kepala anak terhadap stimulus suara denganconditioning. Untuk re-inforcer dapat menggunakan lampu berkedip-kedip, mainan yang di beri iluminasi lampu atau manual dengan menggunakan sarung tangan berbentuk boneka. 15. Selain itu dapat juga cara dengan memberikan sanjungan misalnya dengan acungan jempol, tepuk tangan atau menelus tangan/pipi ( pengalaman dengan elusan pipi sangat bermanfaat pada kasus dengan kelainan ganda ) yang membuat anak senang bahwa dia sudah melakukan tugasnya dengan baik. Fungsi pendengaran anak usia 1-3 tahun dapat dinilai dengan metode VRA dengan hasil yang sangat bermakna apabila dilakukan oleh pemeriksa yang terlatih dan berpengalaman 10 .
Ruang tes VRA menggunakan ruang yang cukup luas sehingga dapat menampung sekitar 3 – 4 orang yang terdiri dari pemeriksa yang melakukan distraksi, anak dan orang tua yang mendampingi anak selama tes, ruang untuk penempatan re-inforcer berikut alat pengeras suara.
Prinsip dasar tes VRA adalah reinforce respons behavioral ( gerakan menolehnya kepala terhadap suara dengan frekuensi spesifik disertai upah/hadiah/penghargaan secara visual dengan mainan atau lampu yang berkedip. Anak diusahakan tertarik ke arah bunyi dengan memberikan reinforce secara visual apabila anak menoleh ke arah sumber bunyi. Frekuensi dan intensitas diubah-ubah untuk mendapatkan ambang pada beberapa frekuensi. Gerakan kepala anak menoleh ke arah sumber bunyi dikenal dengan refleks orientasi. Apabila bunyi diberikan berulang kali refleks orientasi akan mengalami habituasi yang membuat anak kurang memberikan respons . Diperlukan selingan tes dengan memberikan stimulus bunyi dari mainan-mainan yang menarik untuk merangsang anak menoleh ke arah sumber bunyi. Hubungan antara stimulus visual dan bunyi juga akan menimbulkan refleks orientasi. Apabila anak cukup tertarik akan stimulus visual dan anak mampu menghubungkan antara stimulus bunyi dan stimulus visual maka terjadi mekanisme conditioning 17,18. Anak akan menoleh ke arah sumber bunyi dengan tujuan melihat stimulus visual yang merupakan prinsip VRA : suara membuat kepala menoleh ke arah suara yang kemudian di reinforce dengan stimulus visual. Stimulus visual tidak selalu menarik perhatian anak-anak. Pada anak yang usianya lebih besar dapat dengan cara memberikan sanjungan setiap kali anak memberikan respons misalnya dengan acungan jempol, tepuk tangan atau menelus tangan/pipi. Pengalaman dalam klinik audiologi pediatri, metode sanjungan dengan elusan dipipi sangat bermanfaat pada kasus dengan kelainan ganda yang membuat anak merasa senang bahwa dia sudah melakukan tugasnya dengan benar.
 Prosedur TROCA dan VROCA
Tangible Reinforcement Operant Conditioning Audiometry / TROCA dan Variant Reinforcement Operant Conditioning Audiometry /VROCA merupakan prosedur tes pendengaran untuk anak-anak usia 24 – 36 bulan 15,16 . Prinsip dasar TROCA dan VROCA , anak harus menekan tombol setiap kali mendengar rangsang bunyi.Reinforcement yang dipakai apabila anak memberikan respon dengan benar menggunakan obyek nyata misalnya kismis atau cereal bergula yang diatur unit TROCA apabila respons yang diberikan benar anak akan menekan tombol dan kismis akan keluar dari dispenser yang sudah tersedia 16 ( J.Gravel ). Anak yang hiperaktif atau yang perhatiannya mudah beralih dapat dipakai metode tangible reinforcement operant conditioning audiometry / TROCA. Anak pada umumnya lebih memberikan respons dengan metode TROCA dan dengan tersedianyaalternate conditioning technique seperti TROCA memungkinkan pengembangan metode tes untuk menilai ambang speech dan ambang hantaran tulang 19 . Anak- anak pada umumnya lebih menyukai metode tes tanpa pakai headphone . Seperti halnya tes pengamatan perilaku / BOA pada umumnya, keberhasilan metode TROCA tergantung pada paradigma conditioning 16 .

Pemeriksaan diagnostik kehamilan

Pemeriksaan diagnostik kehamilan merupakan salah satu cara untuk mengetahui hal-hal lain yang menyangkut dengan kehamilan seseorang.
Meliputi:

Hamil atau tidak
Primi atau multigravida
Tuanya kehamilan
Anak hidup atau mati
Anak tunggal atau kembar
Letak anak
Anak intra uterin atau extrauterin
Keadaan jalan lahir
Keadaan umum penderita

Secara garis besar alasan dilakukannya tes kehamilan ini adalah Untuk memastikan kehamilan setelah menjalani perawatan medis (termasuk pengobatan fertilitas) dan Untuk memastikan kehamilan normal.

Pemeriksaan diagnostik kehamilan ini terdiri atas pemeriksaan lab. dan pemeriksaan canggih.
1. PEMERIKSAAN LABORATORIUM.
Pemeriksaan ini meliputi tes urin dan tes darah. Kedua tes ini sama-sama mencari adanya hCG di dalam sampel yang diambil. Perbedaannya, tes darah dilakukan di rumah sakit sedangkan tes urin bisa di lakukan sendiri di rumah.

a. TES DARAH

Tes darah dapat dilakukan sekitar 10 hari setelah ovulasi. Tes darah biasanya lebih sensitif, tapi harganya lebih mahal dan tidak mudah dilakukan.
Dokter menggunakan dua jenis tes darah untuk memeriksa kehamilan yakni kualitatif dan kuantitatif. Tes darah dapat mendeteksi HCG lebih awal daripada tes urin. Tes darah dapat mendeteksi kehamilan sekitar enam sampai delapan hari setelah Anda berovulasi (melepaskan sel telur dari ovarium). Tes darah kuantitatif atau disebut juga tes beta HCG dapat menunjukkan berapa tepatnya kadar HCG dalam darah Anda bahkan saat kadarnya masih sedikit. Tes darah kualitatif hanya akan menunjukkan apakah ada HCG atau tidak. Jenis tes darah ini memiliki akurasi yang sama dengan tes urin.
Selama hamil, mungkin Ibu perlu melakukan pemeriksaan darah beberapa kali. Jangan khawatir, pemeriksaan ini tidak beresiko terhadap bayi.
Melalui pemeriksaan darah, bisa diketahui:
• Kadar zat besi dalam darah. Bila rendah, Ibu akan merasa mudah lelah dan lesu. Masih ingat kan, makanan sumber zat besi yang perlu Ibu konsumsi? Bayam dan daging merah. Bila kadar zat besi Ibu berubah-ubah selama kehamilan, jangan ragu melakukan tes lagi di kehamilan 28 minggu.
• Golongan darah dan faktor Rhesus Ibu. Dokter harus mengetahui golongan darah Ibu, apakah darah Ibu Rhesus positive (RH+) atau Rhesus negative (RH-). Bila darah Ibu RH- dan Ibu mengandung bayi dengan RH+, tubuh Ibu akan memproduksi antibodi untuk melawan/menentang sel-sel darah RH+ . Ini berbahaya bagi bayi Ibu. Kalau dokter sudah mengetahui golongan darah Ibu, kemungkinan yang akan terjadi bisa diatasi.
• Infeksi akibat virus Toxoplasma, Rubella, dan Cytomegalovirus yang berbahaya bagi kesehatan bayi, pemeriksaan yang sering disebut pemeriksaan TORCH ini perlu untuk melihat adanya antibodi dalam darah Ibu.
• Penyakit lain seperti HIV B, Syphilis, bahkan HIV/AIDS.
Tes darah juga untuk memeriksa adanya anemia (kurang darah), dan mendeteksi adanya sifilis, AIDS, hepatitisB, juga untuk memastikan golongan darah dan antibodi Rh. Jika ibu memiliki darah Rh-negatif, maka dilakukan pemeriksaan antibodi Rh. Jika darah ibu memiliki Rh-negatif dan darah ayah memiliki Rh-positif, maka janin bisa memiliki Rh-positif. Jika darah janin yang memiliki Rh-positif memasuki peredaran darah ibu yang memiliki Rh-negatif, maka tubuh ibu akan membentuk antibodi Rh yang bisa masuk ke aliran darah janin dan merusak sel darah merah sehingga terjadi jaundice (kuning), yang bisa menyebabkan kerusakan otak atau kematian janin.
b. TES URINE

Tes urin biasanya lebih akurat bila dilakukan sekitar 14 hari setelah ovulasi, atau sekitar saat anda tidak mendapatkan haid. Dan dilakukan pada pagi hari, saat Anda pertama kali bangun tidur. Tes urine ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat strip test.
Alat ini dijual pada hampir setiap apotik dan penggunaan mudah, dengan menempatkan sampel urin pada semacam tongkat atau piringan. (Ikuti instruksi pada kotaknya). Hasilnya berupa tanda positif atau negatif. Kadar hCG diatas 5 mIU biasanya sudah dianggap hamil. Sebagian alat untuk tes urin mengukur kadar hCG antara 25 – 200 mIU. Tidak ada resiko bila menjalani tes ini.

Cara kerja tes kehamilan ini.
Alat tes kehamilan mendeteksi hormon khusus yang ada dalam urin atau darah yang hanya ada ketika seorang perempuan sedang hamil. Hormon yang sering disebut dengan hormon kehamilan ini adalah HCG atau human chorionic gonadotropin. HCG diproduksi oleh plasenta dan hormon ini ada dalam tubuh ketika sel telur yang telah dibuahi menempel ke rahim. Hal ini terjadi sekitar enam hari setelah hubungan seksual. Tetapi pada beberapa perempuan, lamanya bisa lebih dari enam hari. Kadar HCG akan meningkat secara drastis seiring dengan bertumbuhnya janin.
Keakuratan tes ini.
Banyak merek alat tes kehamilan mengklaim memiliki akurasi 99% bahkan satu minggu setelah berhubungan seksual. Sedangkan riset menunjukkan bahwa semakin dini melakukan tes, semakin tidak akurat hasilnya. Sebaiknya tunggu satu minggu setelah terlambat menstruasi sebelum melakukan tes. Bila tidak sabar menunggu, lebih baik memeriksakan diri ke dokter. Alat tes kehamilan bisa memiliki akurasi yang baik, namun akurasi ini tergantung dari kapan dan bagaimana Anda menggunakannya.
Pastikan mengikuti petunjuk penggunaan produk dan memperhatikan tanggal kadaluarsa. Produk dengan merek yang berbeda akan memiliki instruksi yang berbeda untuk mengambil sampel urin dan waktu yang dibutuhkan untuk menunggu munculnya hasil tes.
Ketika melihat hasil, Anda tidak perlu memperhatikan seberapa tebal garisnya. Bila itu menunjukkan simbol positif, meski warnanya pudar, itu berarti positif.
Kadar HCG dalam urin meningkat seiring berjalannya waktu. Jadi, semakin awal Anda melakukan tes kehamilan, semakin sulit bagi alat tes untuk mendeteksi keberadaan HCG.
Anda juga bisa meningkatkan akurasinya dengan melakukan tes di pagi hari saat urin masih pekat.
Meski Anda sedang minum obat, termasuk pil KB dan antibiotik, hal ini tidak akan mempengaruhi hasi tes kehamilan Anda. Begitupula dengan alkohol. Namun, begitu Anda tahu positif hamil, Anda sebaiknya berhenti minum alkohol.
Bila sebelumnya Anda mengikuti terapi hormon untuk meningkatkan kesuburan, hasil tes urin maupun tes darah tidak bisa diandalkan. Obat-obatan yang Anda minum tersebut bisa jadi mengandung HCG. Untuk mengetahui kehamilan, Anda perlu USG.
Biasanya tes ini juga dikenal dengan Tes Sensitive. Terdiri atas sensitive STRIP dan COMPACT.
Cara menggunakan sensitive:
Untuk SensitiF STRIP, urin pertama pagi hari di tampung pada wadah yang bersih dan kering. Buka kemasan alumunium foil, keluarkan strip. Celupkan strip ke dalam sampel urin sampai batas maksimum selama 1/2 menit.
Untuk SensitiF COMPACT, sobek kemasan aluminium foil dan keluarkan SensitiF COMPACT. Buka tutupnya dan pegan SensitiF COMPACT ke arah kucuran urin saat buang air kecil. Pegang SensitiF COMPACT dengan posisi ujung resapan menghadap ke bawah selama minimal 10 detik hingga kondisi ujung resapan cukup basah karena dialiri urin. Jangan membasahi jendela petunjuk hasil.
Pada SensitiF STRIP, hasil akan keluar dalam waktu 1-3 menit setelah melakukan tes. Hasil dapat muncul lebih lama jika kehamilan masih sangat dini dan sampel urin yang digunakan bukan urin pertama di pagi hari. Jangan membaca hasil setelah lebih dari 5 menit, karena dikhawatirkan akan timbul garis baru yang membingungkan.
Pada SensitiF COMPACT, hasil akan keluar dalam waktu 3 menit. Jika dalam 3 menit garis merah belum muncul, tunggu 1 menit lagi. Hasil positif baru akan timbul 1 menit lebih lama tergantung dari banyaknya konsentrasi hormon hCG.

Jika hasil tidak muncul dalam 3 menit:
Pada SensitiF STRIP, hal ini dapat terjadi dikarenakan urin yang dicelup melebihi batas maksimal pada strip. Atau strip uji tidak langsung digunakan setelah bungkus dibuka. Lakukan lah kembali tes uji kehamilan dengan SensitiF STRIP yang baru.
Untuk SensitiF COMPACT, hal ini dapat terjadi karena ujung resapan kurang dibasahi urin. Sesuai dengan petunjuk pemakaian, urin dikucurkan minimal 10 detik langsung pada ujung resapan.
Warna garis yang muncul tidak harus selalu sama. Warna dan ketebalan garis bervariasi mulai dari merah muda hingga ungu, tipis hingga tebal. Jika keduanya muncul, itu menandakan bahwa anda hamil (positif). Ketebalan garis kedua disebabkan oleh banyaknya kadar hCG yang terditeksi pada urin anda. Apabila anda ragu, silahkan mengulangi tes dengan SensitiF beberapa hari kemudian.
Pada SensitiF STRIP, hasil negatif ditandai dengan munculnya satu garis merah.
Pada SensitiF COMPACT, hasil negatif ditandai dengan hanya munculnya satu garis merah pada jendela kontrol (berbentuk bulat). Jika hasil tes menunjukkan negatif, artinya saat dilakukan tes, urin anda tidak mengandung hormon hCG dan menunjukan anda tidak hamil. Ulangi lagi tes kehamilan beberapa waktu kemudian dengan SensitiF yang baru. Jika hasil tetap negatif dan anda belum juga datang bulan, perksalah ke dokter kandungan.
Alat tes kehamilan ini mudah digunakan, bersifat pribadi, dan harganya terjangkau. es urin ini bisa menunjukkan hasilnya sekitar dua minggu setelah pembuahan. Bila hasil tes mengatakan Anda positif hamil, Anda perlu segera menghubungi dokter. Dokter kandungan dapat melakukan tes yang lebih sensitif dan pemeriksaan pelvis untuk memastikan kehamilan Anda.
Tes urin tidak hanya dilakukan saat memastikan kehamilan. Setelah hamil, tes urin juga perlu dilakukan untuk mengetahui apakah Ibu terpapar obat-obatan tertentu, alkohol, bahkan narkotika. Efek penggunaan obat tertentu berdampak buruk bagi perkembangan otak bayi. Penggunaan terus menerus, terutama pada awal kehamilan, bisa mengacaukan sistem syaraf bayi.
Selain itu, tes urine juga berguna untuk menghindari:
Infeksi Saluran kencing. Protein dalam urin bisa menjadi tanda adanya.
Diabetes karena glukosa dalam urin dapat mengindikasikan tingginya kadar gula.
Tes urine juga dilakukan untuk mendeteksi adanya gula dan protein dalam air seni. Untuk menilai kemungkinana kencing manis (gula dalam urin) dan menilai kemungkinan adanya kelainan fungsi ginjal (protein dalam urin).

2. PEMERIKSAAN CANGGIH.
Selain dengan tes urine dan darah, pemeriksaan diagnostik kehamilan juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan canggih. Meliputi pemeriksaan dengan menggunakan alat-alat berteknologi tinggi. Dengan keakuratan dan ketepatan yang lebih baik. Tetapi memiliki kerugian karna dapat memberikan dampak yang buruk pada janin.
Pemeriksaan ini dapat berupa:
a. ULTRASONOGRAFI (USG)
Pemeriksaan ultrasonografi (USG) mungkin akan menjadi salah satu pemeriksaan yang paling menyenangkan selama masa kehamilan. Anda dan pasangan Anda dapat melihat bayi yang sedang tumbuh di dalam rahim. Pemeriksaan tersebut juga merupakan alat yang berguna untuk mendapatkan informasi detail dari perkembangan si janin. Pemeriksaan USG tidak menimbulkan bahaya bagi Anda maupun si bayi. Kemungkinan efek yang merugikan tersebut sudah sering diteliti dan terbukti tidak pernah ditemukan masalah.
Ultrasonografi

Keuntungan USG : Non invansif, aman, praktis, dan hasil cukup akurat.Fisik Dasar Gelombang Ultrasonik. Ultrasonografi adalah pemeriksaan yang memberikan hasil gambar dua dimensi tentang janin atau embrio yang sedang berkembang di dalam perut ibu hamil. Pemeriksaan itu mencakup penggunaan gelombang suara yang berfrekuensi tinggi yang dibuat dengan memasang pengubah arus pada suatu alat yang disebut dengan transduser.
Transduser akan menerima dan mengirimkan gelombang suara. Transduser bergerak diatas gel yang sudah dioleskan di atas perut ibu hamil. Transduser tersebut mengumpulkan gelombang suara echo ketika memantul pada bayi, kemudian komputer akan menerjemahkannya ke dalam gambar. Keadaan itu dapat diilustrasikan seperti radar yang digunakan oleh pesawat udara atau kapal selam untuk menciptakan gambaran tanah lapang di kegelapan malam ataupun di dasar lautan. USG bekerja dengan frekuensi tinggi yang terpantul kembali oleh cairan tubuh. Dengan metode ini lah kemudian alat USG dalam kondisi tertentu juga dapat digunakan untuk mendiagnosa otot, hati, ginjal dan jantung. Dokter juga akan memberikan suatu cairan tertentu pada perut ibu hamil dan kemudian menempelkan alat pemindainya di perut. Gambar rahim ibu hamil akan terlihat begitu pula janin. Untuk ibu hamil muda (1 bulan atau 2 bulan), dokter dapat melakukan USG transvaginal (melalui vagina) bila USG cara biasa belum bisa mendeteksi adanya janin, padahal saat itu ibu hamil telah mengalami terlambat datang bulan selama 1 bulan (usia janin 2 bulan).
Namun demikian dokter dapat memastikan si ibu benar-benar hamil hanya dengan melihat kondisi kantung rahim yang telah membesar. Pemeriksaan USG transvaginal hanya dilakukan bila dokter mencurigai adanya tanda-tanda kehamilan yang berbahaya seperti hamil anggur. Sebelum pemeriksaan, Anda mungkin diminta untuk meminum 1 liter air. Dengan meminum air, akan membuat teknisi kesehatan menjadi lebih mudah untuk melihat rahim. Kandung kemih terletak di depan rahim. Jika kandung kemih penuh, maka rahim terdorong ke depan dan keluar dari area panggul dan dapat dilihat dengan mudah melalui USG. Jika kandung kemih sedang kosong, rahim akan terletak lebih jauh ke bawah di dalam panggul dan membuatnya akan sulit untuk dilihat.
FUNGSI USG
Sudah sejak 1961 USG digunakan dalam dunia kedokteran kandungan. Tidak seperti X-ray yang berbahaya bagi bayi, USG menggunakan gelombang suara yang dipantulkan untuk membentuk gambaran bayi di layar komputer yang aman untuk bayi dan ibu. Yang dapat diperiksa dengan USG ntaralain:
Konfirmasi kehamilan. Embrio dalam kantung kehamilan dapat dilihat pada awal kehamilan 51/2 minggu dan detak jantung janin biasanya terobsevasi jelas dalam usia 7 minggu.
Mengetahui usia kehamilan. Untuk mengetahui usia kehamilan dapat dengan mengunakan ukuran tubuh fetus—sehingga dapat memperkirakan kapan tanggal persalinan
Menilai pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan.
Ancaman keguguran. Jika terjadi pendarahan vagina awal, USG dapat menilai kesehatan dari fetus. Jika detak jantung janin jelas maka prospek yang baik untuk melanjutkan kehamilan.
Masalah dengan plasenta. USG dapat menilai kondisi plaasenta dan menilai adanya masalah2 seperti plasenta previa dsb.
Kehamilan ganda/ kembar. USG dapat memastikan apakah ada 1 / lebih fetus di rahim.
Mengukur cairan ketuban. Masalah terjadi ketika kandungan berlebihana caira ketuban atau terlalu sedikit. Volume ( jumlah cairan) dapat dinilai/cek dengan USG.
Kelainan letak janin. Bukan saja kelainan letak janin dalam rahim tapi juga banyak kelainan janin yang dapat di ketahui dengan USG, seperti: hidrosefalus, anesefali, sumbing, kelainan jantung, kelainan kromoson (syndrome down), dll.
Dapat juga untuk menilai jenis kelamin bayi jika anda ingin mengetahuinya.
Mendapatkan informasi penting tentang otak, medulla spinalis, wajah, organ besar, anggota gerak.
Kelainan pada organ lain yang bisa diketahui dari USG adalah abnormalitas ginjal (umumnya policystic kidney disease) dan paru (pulmonary hipoplasi). Policystic kidney disease (PKD) adalah kelainan bawaan yang terdiri dari PKD autosomal resesif dan PKD autosomal dominan. Sedangkan pada pulmonary hipoplasi terlihat lingkar dada yang kecil pada janin.
Sementara itu, kegagalan dalam pertumbuhan janin, yang disebabkan oleh bligted ovum, dan missed abortion fetal death, secara ultrasound akan mudah diketahui. Efek blighted ovum sering menyebabkan pendarahan pada trimester pertama kehamilan. Dalam mendeteksi fetal growth, kelainan yang sering dijumpai adalah IUGR. Sementara, uterus yang terlalu besar, kemungkinan mengalami kehamilan kembar, kesalahan menghitung umur kehamilan, polyhydramnion dan myoma kehamilan.
Terjadinya perdarahan dalam kehamilan kemungkinan disebabkan blighted ovum, mola hydatidosa, missed abortion ataupun ectopic pregnancy. Pada kehamilan mola, USG uterus akan nampak kristal-kristal kecil. Adnexa (jaringan sekitar) uterus juga perlu diperiksa untuk mengetahui janin berada di luar uterus atau tidak (ectopic). Kadang ibu mengira hamil karena merasa tumbuh benjolan di perutnya, yang ternyata jika diperiksa adalah tumor cairan atau cyst di cavum douglasi. Perdarahan pada akhir kehamilan sering disebabkan karena plasenta previa atau migrasi plasenta.
Seringkali dijumpai USG fetus dalam kondisi anatomi maupun faal hormon tidak normal. Hal-hal yang bisa menjadi penyebab adalah penggunaan pil kontrasepsi per oral dan uterus post menopause. Yang terjadi pada uterus bisa berupa penipisan atau penebalan endometrium. Disfunctional uterine bleeding juga bisa terjadi. Kelainan uterus lain yang bisa menyebabkan kecacatan janin adalah polip, keganasan, pada endometrium maupun myometrium.
Untuk mencegah terjadinya kelainan-kelainan kehamilan, Wladimiroff menyarankan, agar ibu mengkonsumsi asam folat 0,5 mg/hari mulai 1 bulan sebelum konsepsi hingga 8 minggu periode gestasi. Jika sudah pernah mengalami kelainan serupa, risiko berulang dicegah dengan mengkonsumsi asam folat 5 mg/hari. Untungnya, menurut ahli USG kehamilan ini, hydrocephalus tidak mengakibatkan kelainan psikomotor pada anak.
Keharusan menjalani pemeriksaan USG atau tidak tergantung pada beberapa faktor seperti masalah perdarahan, masalah kehamilan sebelumnya, dan jaminan asuransi. Umumnya dokter melakukan pemeriksaan USG sedikitnya satu kali selama masa kehamilan. Jika kehamilan Anda berisiko tinggi, maka Anda biasanya akan menjalani beberapa kali pemeriksaan.
Pemeriksaan USG dapat memperlihatkan letak plasenta sehingga informasi tersebut dapat digunakan dengan pemeriksaan lain, seperti amniosentesis. Pemeriksaan tersebut juga dapat memberikan informasi tentang pertumbuhan janin, kondisi tali pusat, dan jumlah cairan ketuban dalam rahim.
Dokter atau teknisi kesehatan biasanya akan melakukan pemeriksaan USG dengan alasan sebagai berikut:
Untuk mengidentifikasi kehamilan dini.
Untuk memperlihatkan ukuran dan kecepatan pertumbuhan embrio atau janin.
Untuk mengukur kepala janin, perut, atau paha untuk menentukan durasi atau lamanya kehamilan.
Untuk mengidentifikasi janin tertentu dengan Sindrom Down.
Untuk mengidentifikasi abnormalitas janin, seperti hidrosefalus.
Untuk mengidentifikasi letak, ukuran, dan kematangan plasenta atau abnormalitas plasenta.
Untuk mendeteksi IUD.
Untuk membedakan antara keguguran maupun kehamilan ektopik (kehamilan di luar uterus).
USG 3 DAN 4 DIMENSI
Pertama kali ditemukan alat USG hanya bersifat dua dimensi dan mendeteksi kondisi kondisi bayi di permukaan saja, seperti ukuran kepala, detak jantung, susunan tulang punggung, dan tentu saja jenis kelamin. Penggambarannya tak dipahami orang awam dan memerlukan bantuan dokter untuk menjelaskannya.
Karena penggambaran yang tidak detail itu, tak sedikit dokter menjadi kurang akurat dalam memberikan diagnosis terhadap perkembangan bayi dan kondisi rahim si ibu. Diagnosa bibir sumbing, misalnya tak bisa dilakukan, juga deteksi jenis kelamin pada 4 bulan pertama kehamilan karena visualisasi yang tidak jernih dan akurat. Selain itu, USG 2 dimensi ini banyak mengandalkan air ketuban agar dokter bisa melihat dengan jelas. Selain itu, posisi bayi di dalam rahim juga ikut menyulitkan dokter untuk melihat bagian-bagian yang penting. Namun, perkembangan teknologi membuat USG kian canggih. Dengan teknologi 3 dan 4 dimensi, USG ini memungkinkan penggambaran lebih detail kondisi bayi dalam rahim ibu. Akurasinya bahkan mencapai 80 persen dan deteksi kondisi bayi secara detail bisa dilakukan sejak trimester pertama kehamilan.
Kelebihan dari alat ini dibanding alat sebelumnya adalah kemampuannya mendeteksi kelainan kromosom sejak hamil muda, dan sama sekali tidak berbahaya. Untuk mendeteksi kelainan pada janin, alat ini sangat tepat digunakan sejak kandungan memasuki usia 11-13 minggu atau pada trimester pertama. Pada usia ini janin sudah terbentuk dengan lengkap. Sebelum pada usia ini, melalui USG tekhnologi 3D atau 4D Real Time, dokter dapat mendeteksi kromosom bayi untuk mendeteksi kelainan. Kelainan ini bisa dideteksi dengan akurasi hingga 80 persen. Bahkan pada saat ini waktu kelahiran atau dating pregnancy bisa ditentukan.
Dengan teknologi canggih ini, kelainan kromosom secara nyata bisa diketahui misalnya melalui struktur tulang. Dengan mengukur tulang hidung, bisa diketahui apakah bayi yang dikandung normal atau tidak. Umumnya, bayi yang tidak memiliki tulang hidung menderita down syndrome atau abnormal. Jumlah jemari tangan dan kaki, struktur tulang punggung, ukuran kepala, termasuk bibir untuk mengetahui cacat sumbing, juga bisa dideteksi lewat USG 3 dan 4 D. Kelainan sekecil apapun, bisa terdeteksi oleh alat berbasis komputer ini. “Di 2D, ini sulit dideteksi,” katanya. Tak heran, jika sebagian pasien yang pernah melihat hasil USG 2D menganggap bayinya normal, tapi pada saat kelahiran sang bayi menderita cacat bawaan.
Untuk mendiagnosa kondisi bayi, alat USG yang canggih ini dioperasikan selama minimal 20 menit. Menurut Dr. Dario, waktu yang cukup lama ini agar detil dari kondisi janin mampu terdeteksi secara keseluruhan. Karena proses USG yang berlangsung cukup lama, pasien juga harus tetap dalam kondisi yang nyaman. Dalam ruangan periksa yang nyaman, disediakan kursi periksa yang nyaman yang bisa diubah-ubah posisinya sesuai kenyamanan pasien. Di hadapan pasien juga tersedia monitor televisi ukuran 24 inci. Dari monitor TV itu, pasien bisa melihat gambar bayi dengan jelas. Gambar ini bisa dicetak dalam bentuk foto hitam putih dan berwarna. Gambar juga bisa ditransfer dalam bentuk CD ROM atau VCD. “Untuk kenang-kenangan keluarga,” kata Dario diiringi tawa.
Sayangnya, karena alat ini termasuk langka, pemeriksaan USG dengan teknologi 4 D dikenakan biaya tak sedikit. Untuk pemeriksaan dan cetak foto, pasien dikenai biaya Rp 750 ribu. Di Indonesia, alat ini juga baru bisa ditemui di RS Ibu dan Anak Family Pluit. Satu alat yang diimpor dari Austria, harganya tak kurang dari Rp 2 miliar. Namun, seperti yang diungkapkan banyak pasien, untuk mengetahui kondisi bayi secara detil dan menentramkan hati orangtua yang tengah menanti si buah hati, berapa pun biayanya akan dikeluarkan.
USG merupakan sarana diagnostik medis yang aman, tidak invasif dan sederhana persiapannya, waktu yang diperlukan untuk pemeriksaan USG relatif singkat dan biaya yang dikeluarkan cukup ekonomis, sehingga tidak membuat ibu hamil malas untuk memeriksakan kandungannya .
Dengan USG dapat diketahui struktur jaringan dengan baik. Instrumen ini berbeda dengan sarana diagnostik lain, seperti X-Ray dan CT Scan. USG juga tidak memberikan efek reaksi ionisasi terhadap tubuh, sehingga tidak merusak jaringan. Hingga saat ini belum ada laporan adanya efek biologis yang ditimbulkan, meski, dari laporan WHO, penyelidikan kemungkinan adanya efek pada DNA masih terus dilakukan.
GELOMBANG USG 2D,3D,4D
Perlu diketahui istilah 2D,3D,4D adalah perkembangan kemajuan teknologi USG yang saat ini bisa menampilkan ketiga dimensi dalam bidang multiplanar sekaligus dari horisontal, frontal dan vertikal (3D) dan kini dgn ditambahkannya dimensi ke-4 yaitu realtime maka terwujudlah 4D USG.
Sedangkan jenis-jenis teknik yang dipakai tidak mengalami perubahan dari teknik B-mode, M-mode, Color Doppler dan Power Doppler, gelombang USG yang dipakai sejak alat itu dipergunakan juga tidak berubah dari 2D,3D, dan 4D.
Hanya dalam pemakaian Color Doppler dan Power Doppler saja yang berbeda, dan menggunakan gelombang ultrasound yang lebih tinggi untuk mendapatkan pantulan echo yang bisa menangkap sampai detil-detil arus darah yang mendarahi suatu jaringan, karena itu pemeriksaan ini tak lazim dipergunakan pada kehamilan trimester pertama karena menghasilkan efek panas, dimana bisa meningkatkan panas minimal 1 C lebih tinggi pada jaringan yang di scan tanpa berpindah-pindah di satu tempat saja !!
Pemeriksaan USG 4D, pada prinsipnya sama dgn pemeriksaan B-mode pada USG 2D, gelombang yang dipakai juga sama, yang berbeda adalah menampilkan gambaran 3D secara realtime. Untuk gelombang Ultrasound yang dipakai dalam tindakan operasi di luar tindakan obstetri dan ginekologi, saya tidak bisa memberikan komentar, karena saya tidak berkecimpung dalam hal itu, yang saya ketahui jelas berbeda dgn yang dipergunakan dalam teknik USG khususnya dalam bidang obstetri dan ginekologi.
WAKTU PEMERIKSAAN USG
USG pertama dilakukan pada kehamilan minggu ke 7 untuk memastikan kehamilan, menilai detak jantung janin, mengukur panjang janin untuk menilai usia kehamilan.
USG ke dua biasanya dilakukan pada kehamilan 18-22 minggu untuk menilai kelainan congenital, kelainan bentuk, posisi plasenta, detak jantung janin, juga untuk menilai perkembangan janin. Pada pemeriksaan di minggu ini anda mungkin dapat juga mengetahui jenis kelamin bayi anda.
USG yang ketiga biasanya dilakukan pada kehamilan minggu ke 34 unutk mengevaluasi ukuran fetus dan menilai pertumbuhan fetus, pergerakan dan pernafasaan, detak jantung bayi juga jumlah air ketuban di sekeliling bayi serta posisi bayi dan plasenta..
Pada dasarnya USG dapat dilakukan kapan saja selama masa kehamilan karena USG tidak berbahaya untuk bayi dan ibu. USG terutama dilakukan bila terjadi masalah kehamilan misalnya adanya detak jantung janin yang tidak teratur.
JENIS-JENIS USG
USG Awal Kehamilan
Pemeriksaan USG di awal kehamilan penting dilakukan bila Ibu mengalami nyeri, perdarahan, atau pernah mengalami keguguran atau kehamilan ectopic pada kehamilan 6-10 minggu.Karena di awal kehamilan ukuran bayi Ibu masih sangat kecil, maka scan dilakukan dengan alat khusus melalui vagina. Walaupun proses ini tidak rumit, wajar bila Ibu takut dan khawatir menjalaninya.
Dating scan (menetapkan tanggal scan)
Scan ini dilakukan pada kehamilan 6 sampai 12 minggu. Proses scan ini hanya berlangsung sekitar 10 menit. Kebanyakan rumah sakit menawarkan scan ini untuk mengetahui beberapa hal penting, seperti:
• Usia bayi Ibu
• Apakah terdapat lebih dari satu bayi
• Memeriksa detak jantung bayi
• Apakah ada kelainan yang jelas.
• Apakah ovarium Ibu dalam kondisi yang sehat
Scan Nuchal Translucency
Scan ini dilakukan untuk mengetahui apakah bayi Ibu mengalami Down’s Syndrome atau kelainan kromosom lainnya. Biasanya scan ini dilakukan pada wanita hamil beresiko tinggi atau berusia di atas 35 tahun. Saat paling baik melakukan scan ini antara usia kehamilan 11 sampai 14 minggu.
Scan di Trimester ke-2
Seperti halnya kenyamanan yang Ibu rasakan di kehamilan trimester ke-2, scan pada kehamilan 18 sampai 21 minggu ini juga jadi hal paling menggembirakan. Seru rasanya melihat melihat bayi Ibu yang sudah berkembang pesat di layar monitor. Ibu juga sudah bisa tahu jenis kelaminnya.Pemeriksaan ini hanya 15 sampai 20 menit. Pihak rumah sakit biasanya mengizinkan Ibu mencetak foto-foto bayi dari pemeriksaan tersebut.
Pada pemeriksaan ini, dokter akan memantau:
• Kepala bayi Ibu, apakah ada masalah pada otak atau bibir sumbing.
• Tulang belakang dan perut bayi lurus dan berkembang dengan baik.
• Ukuran dan bentuk jantung bayi Ibu.
• Melihat sejumlah cairan ketuban (amniotic fluid) tertelan bayi – tampak seperti gelembung hitam dalam perutnya.
• Ginjal dan kandung kemih bayi.
• Perkembangan tangan dan kaki bayi Ibu.
• Plasenta, tali ari-ari (umbilical cord) dan cairan ketuban (amniotic fluid).
• Ukuran kepala, perut dang tulang tumbuh dengan baik.
USG Pertumbuhan (Growth scan)
USG Pertumbuhan ini dilakukan hanya bila ada kekhawatiran pada tumbuh kembang bayi untuk memastikan bayi Ibu tumbuh sehat.
USG 3D dan 4D
Ibu bisa meminta dokter Ibu mengenai USG 3D. Berbeda dari USG biasa yang hanya menunjukkan gambar 2 dimensi dari bayi Ibu, pada USG 3D bayi Ibu akan terlihat lebih jelas. Bagian yang bisa dilihat melalui USG 3D juga lebih luas.

Ibu juga bisa bertanya pada dokter untuk merekam hasil USG 3Dnya ke dalam CD. Hal ini lebih mudah dilihat nanti di rumah daripada sebelumnya ketika IBU hanya bisa membawa pulang foto hasil USG. Rekaman USG 3D ini yang disebut sebagai USG 4D.
Kapan Perlu di USG?
PERSIAPAN UNTUK USG
Persiapan untuk USG tergantung jenis pemeriksaan USG yang dilakukan.
• Jika USG dilakukan melalui vagina, maka biasanya perlu mengosongkan dulu kandung kemih.
• Jika USG dilakukan dari luar, terutama jika usia kehamilan kurang dari 3 bulan, maka sebaiknya minum sekitar 2 – 3 gelas, sehingga kandung kemih cukup penuh. Anda juga akan diminta untuk menahan buang air kecil sebelum dokter melakukan pemeriksaan. Cairan itu dibutuhkan untuk memperjelas rahim dan isinya yang berada di belakang kantung kemih.
7 TIPE PROSEDEUR USG
Pada dasarnya ada tujuh uji USG namun pada proses utamanya sama. Ketujuh tipe prosedur tersebut adalah:
Pindai Transvaginal:
Sebuah alat pemindai yang dirancang khusus digunakan di dalam vagina untuk menghasilkan citra sonogram. Paling sering digunakan di masa awal kehamilan.
Ultrasonografi standar:
Uji USG umum yang menggunakan sebuah pemindai untuk menghasilkan citra dua dimensi dari janin yang berkembang.USG 2D hanya dapat melihat bayi dari salah satu sisi saja
Ultrasonografi lanjutan:
Uji ini mirip dengan USG standar, namun uji ini lebih ditujukan untuk memeriksa penyakit tertentu dan menggunakan peralatan yang lebih canggih
USG Doppler:
Prosedur pencitraan ini mengukur perubahan pada frekuensi gelombang ultrasonografi saat dipantulkan obyek bergerak, seperti sel darah.
USG 3-D:
Dilakukan dengan menggunakan pemindai yang dirancang khusus dan piranti lunak untuk menghasilkan citra tiga dimensi dari janin yang sedang berkembang.Janin dapat terlihat utuh dan jelas, seperti laiknya bayi yang sesungguhnya.
USG 3-D dinamis atau 4-D:
Dilakukan dengan pemindai yang dirancang khusus untuk melihat wajah dan pergerakan bayi sebelum kelahiran.seluruh tubuh bayi , berikut gerak-gerik seperti kita menonton film animasi dapat dilihat.
Echokardiografi Janin:
Menggunakan gelombang suara ultra untuk mengetahui fungsi dan anatomi jantung bayi. Ini digunakan untuk membantu pemeriksaan dugaan cacat jantung kongenital.
TIPS UNTUK MELAKUKAN USG
1. USG minimal dilakukan 2 kali selama masa kehamilan
2. Lakukan pemeriksaan USG pada dokter yang kompeten
3. Keuntungan lain dengan USG 3D-4D gambar dapat direkam dalam bentuk CD-ROM dimana animasi disimpan dalam format jpg dan bisa dilihat di komputer, tidak hanya dicetak seperti hasil USG 2D selama ini.
4. USG 3D-4D ini paling ideal bila dilakukan pada janin yang berumur 24-28 minggu, dimana air ketuban masih cukup sehingga muka bayi dapat terlihat.
5. Pada trimester pertama dan USG dilakukan tidak dengan USG transvaginal, dianjurkan untuk mengosongkan kandung kemih kira-kira satu jam sebelum pemeriksaan kemudian minum 2-3 gelas, jadi diperlukan kandung kemih cukup penuh. Beda dengan USG transvaginal, kandung kemih harus dalam keadaan kosong.
6. USG aman selama dilakukan oleh ahli yang kompeten.

EFEK BIOLOGIK GELOMBANG ULTRASONIK
Perubahan – perubahan siklik yang terjadi pada perambatan gel ultrasonik : getaran partikel, perubahan tekanan, peruabahan densitas, dan perubahan suhu.Semua perubahan diatas bersifat sementara dan penagruhnya sangat kecil, banyaknya panas yang timbul didalam jaringan tubuh ditentukan oleh : intensitas, lamanya pemaparan, dan koefisien absorpsi jaringan. Pemakaian gel ultrasonik dan intensitas tinggi dapat menimbulkan fenomena kavitasi pada medium yang berupa cairan.Faktor yang menambah keamanan penggunaan USG yang banyak dipakai saat ini mempunyai intensits <10 MW/Cm2. Faktor lain yang menambah keamanan penggunaan USG, baik terhadap ibu maupun janin :
1. Gel ultrasonik yang digunakan adalah jenis pulsa, sehingga efek kumulatif di dalam jar sangat kecil
2 Dinding abdomen ibu (pada transabdominal) akan mengabsorpsi sebagian intensitas gel ultrasonik
3. Vaskularisasi pada dinding abdomen ibu dan janin akan menetralisir efek panas dari gel ultrasonik.
4 . Pemakaian USG jenis real tim dan adanya gerakan janin akan menghindari terfokusnya intensitas gelombang ultrasonik pada suatu organ yang lama
INDIKASI PEMERIKSA USG OBSTETRI:
1. Usia kehamilan tidak jelas
2. Tersangka kehamilan multipel
3. Perdarahan dalam kehamilan
4. Tersangka kematian mudiqah (janin)
5. Tersangka kehamilan ektopik
6. Tersangka kehamilan mola
7.Terdapat perbedaan tinggi fundus uteri dan lamanya amenorea
8. Presentasi janin tidak jelas
9. Tersangka pertumbuhan janin terhambat
10.Tersangka janin besar
11.Tersangka oligohidramnion/polihidramnion
12. Penentuan profil tersangka biofisik janin
13. Evaluasi letak dan keadaan plasenta
14. Adanya resiko/tersangka cacat bawaan
15. Alat bantu dalam tindakan obstetri, seperti versi luar, versi ekstraksi, plasenta manual, dsb
16. Tersangka hamil dengan IUD
17. Tersangka kehamilan dengan bentuk uterus abnormal
18. Tersangka kehamilan dengan bentuk uterus abnormal
19. Sebagai alat bantu dalam tindakan intervensi seperti amniosintesis, biopsivili korales, transfusi intrauterine, fetuskopi, dsb.

CARA PEMERIKSAAN USG DAN TEMUAN-TEMUANNYA
KEPALA
Hidrosefalus, Anasefalus, Mikrosefalus, Ensefalokel.
Ensefalokel disebabkan oleh defek tulang kepala, biasanya terjadi di bagian oksipital, kadang-kadang juga dibagian nasal, frontal atau parietal pada defek yang besar sering disertai hermiasi jaringan otak (eksensefalus).Ensefalokel mudah dideteksi dengan USG bila defek tulang kepala cukup besar, apalagi bila sudah herniasi. Akan tetapi lesi pada tulang kepala menjadi sulit dikenali bila terdapat digohidramin.
SPINA
Pada penampang longitudinal, spina terlihat sebagai 2 garis paralel yang ekhogenik menyerupai gambaran rel kereta api.
SPINA BIFIDA
Merupakan kelainan sel neural akibat kegagalan dalam proses penutupan arkus vertebrata. Dapat terjadi di daerah lumbo sakral (90%), toraks (6%), serukal (3%). Pada 70% kasus dijumpai adanya hidrosefalus. Toraks à dengan melihat struktur jangtung di dalamnya.
Bentuk = gell shape dengan bagian apeks menunjuk ke arah kranial dan bagian basal dibatasi diafragma.
USG : yang dipakai penampang longitudinal melalui keempat rongga jantung (four-chamber view)
ABDOMEN
Disertai kelainan jantung, sel kemih atau kelainan pada sindroma down
Obstruksi sel cerna bagian proximal ileum à hidramnio
Hidrops fetalis diserta asites serta pembesarn hepar dan limfa
Kelainan abdomen dapat dideteksi dengan USG :
- Obstruksi traktus gastronitestinal
- Gastrokisis, omfalokel
- Hernia umbilikalis
- Hernia diafragma
TRAKTUS UROGENITALIS
Banyaknya cairan amnion, terutama kehamilan trimester III, sangat ditentukan oleh banyaknya urin yang diproduksi janin.
- Sindrom potter (agenesis renal bilateral, oligohiodramnion, kelainan bentuk wajah, hipoplasia paru)
- Ginjal polikistik bilateral (resesif autosomal) à terlihat massa tumor ekhogenik intra abdomen
- Ginjal multikistik à unilateral à 20% (paling sering) Ø 1-2 cm à 6 cm
- Obstruksi sel kencing distal (uretral) à kandung kencing melebar + hidronefrosis dan dilatasi ureter.
ESKTREMITAS
Untuk mendeteksi adanya diplasia seperti dwafisme, fekomelia, okhondroplasi dan beberapa keadaan hipomineralisasi (akhondrogenesis, osteogenesis, imperfekta, dsb)
Kelainan jari : polidaktili, adakhili, sindaktili dan ektrodakili.
ALAT KELAMIN
Mudah diidentifikasi dengan USG setelah kehamilan 20 mg
Penyulit pada : Oligohidramin, Kehamilan multipel, Janin sungsang

b. RONTGEN
Dengan sinar rontgen kelihatan rangka janin pada usia 15 minggu. Tentu saja pemeriksaan dengan sinar rontgen ini tidak dianjurkan jika hanya bertujuan untuk mengetahui kehamilan, akibat sinarnya tidak aman.
Khusus foto rontgen alias sinar-X memang san4/8/gat tidak dianjurkan bagi ibu hamil. Sinar X dapat mengubah kromosom bayi di dalam kandungan yang berisiko bayi lahir cacat,” ujarnya. Bagaimana bila keadaan gawat darurat? ”Kalaupun terpaksa, perut harus ditutup dengan bahan tertentu yang terbuat dari timah.
Pengertian Sinar X
Sinar X atau sinar rontgen adalah suatu sinar pancaran radiasi yang memiliki daya tembus sifat mengionkan benda yang dilewatinya. Meskipun dia memiliki sifat sinar pada umumnya, yaitu berjalan melalui garis lurus, namun ia juga memiliki efek bias. Itulah sebabnya dokter ahli radiologi selalu bersembunyi di balik tirai berlapis timbal (Pb), atau menggunakan flanel jacket berlapis timbal. Menurut teori, paparan sinar x yang jauh tidak menimbulkan pengaruh bagi janin selama tingkat radiasi paparannya kurang dari 0,5 rad. Namun tidak dapat dipastikan apakah kondisinya akan aman atau tidak, mengingat sinar X adalah cahaya radiasi yang tak terlihat.
Sinar-X adalah sejenis radiasi ion bertenaga besar yang bila terjadi kontak dengan suatu material akan menyebabkan material tersebut kehilangan elektron dan terionisasi. Paparan radiasinya diukur dengan satuan rad atau unit radiasi yang diserap. Satuan lain adalah penghitungan berdasarkan kerusakan biologis akibat paparan radiasinya. Penting untuk diingat, bahwa sinar-x mempengaruhi hanya jaringan tubuh yang mendapat kontak langsung dengan sinarnya. Misalnya rontgen pada tangan tidak menimbulkan pengaruh radiasi ke organ lainnya.

Sinar-X dan Kehamilan
Sinar-X merupakan radiasi berenergi kuat yang tergantung pada dosisnya, dapat mengurangi pembelahan sel, merusak materi genetik, dan menimbulkan efek pada bayi yang belum dilahirkan. Sel-sel yang membelah cepat adalah paling sensitif terhadap paparan sinar-x. Bayi dalam perut ibu sensitif terhadap sinar-x karena sel-selnya masih dalam taraf pembelahan dengan cepat, dan berkembang menjadi jaringan dan organ yang berbeda-beda. Pada dosis tertentu, paparan sinar-x pada wanita hamil dapat menyebabkan keguguran atau cacat pada janin yang dikandungnya, termasuk kemungkinan terjadinya kanker pada usia dewasa. Memang sebagian besar prosedur pemaparan sinar-x menghasilkan radiasi yang relatif ringan. Namun sebagai langkah jaga-jaga, penggunaan sinar-x pada wanita hamil kecuali benar-benar perlu, harus dihindari. Wanita yang melalui pemeriksaan rontgen sebelum mengetahui status kehamilannya harus berbicara kepada dokternya.
Bayi dalam perut ibu adalah sensitif terhadap sinar X karena bayi tersebut sedang mengalami pembelahan sel-sel secara cepat untuk menjadi jaringan dan organ yang bermacam-macam.Tergantung pada tingkat paparannya, sinar X yang dipaparkan kepada wanita hamil dapat berpotensi menimbulkan keguguran, atau cacat janin, termasuk malformasi, pertumbuhan terlambat, terbentuk kanker pada usia dewasanya, atau kelainan lainnya. Komisi pengaturan nuklir memberikan gambaran radiasi 2-6 pada janin akan meningkatkan resiko terbentuknya sel kanker. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paparan 5 – 10 rad pada wanita hamil dan cacat bawaan. Berikut adalah tabel yang merangkum efek sinar-X terhadap janin dalam rahim.
Sebuah penelitian di Inggris memperkirakan jumlah paparan sinar X pada janin setelah ibunya mengalami pemeriksaan rontgen sebelum menyadari bahwa mereka dalam keadaan hamil. Hasil pemeriksaannya cukup menggembirakan, bahwa janin hanya terpapar 0.5 – 1.5 rad setelah pemeriksaan rontgen perut atau punggung bawah ibu, sementara bagian tubuh ibu yang jauh menerima paparan 10-100x lebih rendah. Komisi pengaturan nuklir membatasi satuan 2 rads sebagai ambang radiasi yang mungkin menyebabkan kerusakan janin.

Menggunakan sinar X untuk tes kehamilan.
Bayi dalam perut ibu adalah sensitif terhadap sinar X karena bayi tersebut sedang mengalami pembelahan sel-sel secara cepat untuk menjadi jaringan dan organ yang bermacam-macam.Tergantung pada tingkat paparannya, sinar X yang dipaparkan kepada wanita hamil dapat berpotensi menimbulkan keguguran, atau cacat janin, termasuk malformasi, pertumbuhan terlambat, terbentuk kanker pada usia dewasanya, atau kelainan lainnya. Komisi pengaturan nuklir memberikan gambaran radiasi 2-6 pada janin akan meningkatkan resiko terbentuknya sel kanker. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara paparan 5 – 10 rad pada wanita hamil dan cacat bawaan. Berikut adalah tabel yang merangkum efek sinar-X terhadap janin dalam rahim.
Sebuah penelitian di Inggris memperkirakan jumlah paparan sinar X pada janin setelah ibunya mengalami pemeriksaan rontgen sebelum menyadari bahwa mereka dalam keadaan hamil. Hasil pemeriksaannya cukup menggembirakan, bahwa janin hanya terpapar 0.5 – 1.5 rad setelah pemeriksaan rontgen perut atau punggung bawah ibu, sementara bagian tubuh ibu yang jauh menerima paparan 10-100x lebih rendah. Komisi pengaturan nuklir membatasi satuan 2 rads sebagai ambang radiasi yang mungkin menyebabkan kerusakan janin.

Usia Kehamilan (minggu ke) Efek
0–1 (pre-implantasi) Kematian embryo
2–7 (pembentukan organ) Malformasi, pertumbuhan terhambat, kanker
8–40 (fetal stage) Malformasi, pertumbuhan terhambat, kanker, gangguan pertumbuhan mental

Jadi sinar x itu tidak aman. Apalagi kalau harus melakukan tes kehamilan dengan sinar x tanpa ada indikasi tertentu. Tentunya akan lebih berbahaya lagi bagi janin.

^_^scherly

Post Partum Blues, Depresi Post Partum dan Psikosa

Skrining Akan Adanya Post Partum Blues, Depresi Post Partum dan Psikosa

Pada saat hamil seorang wanita telah mengalami banyak perubahan di dalm dirinya. Baik perubahan secara fisik ataupun yang menyangkut psikologis. Untuk itu perlu kita ketahui bahwa perubahan-perubahan tersebut adalah normal. Dan tidak perlu cemas secara berlebihan karma hal itu justru akan memberikan dampak buruk pada janin.
Memasuki trimester tiga kehamilan biasanya perasaan wanita akan berubah menjadi lebih tak menentu. Karna mulai cemas dengan gambaran persalinan yang akan dihadapi. Hal ini biasanya di sebut dengan gelisah dan takut menjelang persalinan. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian wanita mengganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya. Perubahan fisik dan emisional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosial cultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat.
Pada saat inilah waktu yang tepat untuk meyakinkan ibu dan memberikan dukungan yang adekuat secara psikologis. Meyakinkan ibu bahwa ia pasti akan mampu melalui hal tersebut.
Jika hal ini tidak teratasi, kemungkinan akan muncul efek yang lebih buruk pada ibu. Seperti post partum blues, depresi dan psikosa. Disamping faktor-faktorlain yang dapat memicu gangguan psikologis ini.
Untuk itu sangat perlulah untuk mengadakan skrining atau deteksi dini akan adanya gangguan tersebut. Dengan mengenali gejala awal dari setiap gangguan, melakukan observasi langsung ataupun melalui keluarga.

1. Post Partum Blues

A. Pendahuluan
Post-partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama. Depresi setelah melahirkan sudah dikenali sejak 460 tahun sebelum Masehi, lewat pengungkapan oleh Hippocrates. Deskripsi lebih lengkap kemudian dikembangkan dari waktu ke waktu, namun baru sekitar 15 tahun terakhir ini muncul banyak informasi seputar ini. Savage pada tahun 1875 telah menulis referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pascasalin yang disebut sebagai ‘milk fever ‘ karena gejala disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, post-partum blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan, dan ditandai dengan gejala-gejala seperti : reaksi depresi /sedih/disforia, menangis , mudah tersinggung (iritabilitas), cemas, labilitas perasaan, cenderung menyalahkan diri sendiri, gangguan tidur dan gangguan nafsu makan. Gejala-gejala ini mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Namun pada beberapa minggu atau bulan kemudian, bahkan dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat.
Post-partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab itu sering tidak dipedulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak ditatalaksanai sebagaimana seharusnya, akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan dan dapat membuat perasaan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya, dan bahkan kadang-kadang gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis pasca-salin, yang mempunyai dampak lebih buruk, terutama dalam masalah hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anaknya.

Untuk mendeteksi adanya post partum blues ini kita perlu mengetahui dan melakukan hal-hal berikut

a) Memahami Pngertian Post Partum Blues
Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi.
Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada minggu minggu atau bulan-bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan gangguan psikologis, salah satunya yang disebut Postpartum Blues.

b) Mengetahui dan Mengenali Gejala Post Partum Blues
Perlu kita curigai jika terdapat gejala-gejala seperti ini:
Gejala Utama
• Cemas tanpa sebab.
• Menangis tanpa sebab
• Tidak sabar
• Tidak percaya diri
• Sensitive
• Mudah tersinggung
• Merasa kurang menyayangi bayinya
• Perasaan negatif terhadap bayi yang dilahirkannya
• Kesulitan untuk tidur
• Perubahan drastis berat badan
• Kelelahan dan lesu
• Adanya perasaan untuk membenci pada diri sendiri, perasaan bersalah, individu merasa dirinya tidak berguna untuk orang lain
• Samasekali tidak bisa berkonsentrasi terhadap masalah kecil sekali pun
• Menarik diri dari lingkungan, kehilangan terhadap minat social
• Mudah marah, mudah terhasut dan kegelisahan secara mendalam
• Kehilangan gairah terhadap sesuatu hal (aktivitas)

Gejala Medis
Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung post partum blues. Secara medis, dokter menyimpulkan beberapa simtom yang tampak dapat disimpulkan sebagai gangguan post partum blues bila memenuhi kriteria gejala yang ada. Kekurangan hormon tyroid yang ditemukan pada individu yang mengalami kelelahan luar biasa (fatigue) ditemukan juga pada ibu yang mengalami post partum blues mempunyai jumlah kadar tyroid yang sangat rendah.

Selain gejala di atas perlunjuga kita perhatikan tingkah laku ibu dan hal hal yang mungkin ia keluhkan, seperti:
• Menangis dan ditambah ketakutan tidak bisa memberi asi
• Frustasi karena anak tidak mau tidur
• Ibu merasa lelah, migraine dan cenderung sensitive
• Merasa sebal terhadap suami
• Masalah dalam menghadapi omongan ibu mertua
• Menangis dan takut apabila bayinya meninggal
• Menahan rasa rindu dan merasa jauh dari suami
• Menghabiskan waktu bersama bayi yang terus menerus menangis sehingga membuat ibu frustasi
• Perilaku anak semakin nakal sehingga ibu menjadi stress
• Adanya persoalan dengan suami
• Terganggunya tidur ibu pada malam hari karena bayinya menangis
• Jika ibu mengalami luka operasi, yang rasa sakitnya menambah masalah bagi ibu.
• Setiap kegiatan ibu menjadi terbatas karena hadirnya seorang bayi
• Takut melakukan hubungan suami isteri karena takut mengganggu bayi
• Kebanyakan para ibu baru ingin pulang ke rumah orangtuanya dan berada
didekat ibunya.

c) Mengenali Penyebab Post Partum Blues
Mengenali penyebab post partum blues juga merupakan hal yang berguna dalam mendeteksi adanya gangguan psikologi ini pada ibu. Selain bisa mengantisipasi kita juga bisa memahami kondisi ibu sepenuhnya.
Post partum ini biasanya disebabkan oleh:
• Perubahan Hormon
• Faktor usia ( hamil usia muda, primipara, belum matangnya reproduksi, dll)
• Ketidaksiapan ibu menghadapi persalinan
• Stress
• ASI tidak keluar
• Frustasi karena bayi tidak mau tidur, nangis dan gumoh
• Kelelahan pasca melahirkan, dan sakitnya akibat operasi.
• Suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami.
• Problem dengan Orangtua dan Mertua.
• Takut kehilangan bayi
• Sendirian mengurus bayi, tidak ada yang membantu.
• Problem dengan si Sulung.
• Ibu yang pernah mengalami gangguan kecemasaan termasuk depresi sebelum hamil
• Kejadian-kejadian sebagai stressor yang terjadi pada ibu hamil, seperti kehilangan suaminya.
• Kondisi bayi yang cacat, atau memerlukan perawatan khusus pasca melahirkan yang tidak pernah dibayangkan oleh sang ibu sebelumnya.
• Ketergantungan pada alkohol atau narkoba
• Kurangnya dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga, suami, dan teman
• Kurangnya komunikasi, perhatian, dan kasih sayang dari suami, atau pacar, atau orang yang bersangkutan dengan sang ibu.
• Mempunyai permasalahan keuangan menyangkut biaya, dan perawatan bayi.
• Kurangnya kasih sayang dimasa kanak-kanak

B. Cara Mencegah Post Partum Blues

Berikut ini beberapa kiat yang mungkin dapat mengurangi resiko Postpartum Blues yaitu :
• Pelajari diri sendiri
Pelajari dan mencari informasi mengenai Postpartum Blues, sehingga Anda sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka Anda akan segera mendapatkan bantuan secepatnya.
• Tidur dan makan yang cukup
Diet nutrisi cukup penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang terbaik dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanya penting selama periode postpartum dan kehamilan.
• Olahraga
Olahraga adalah kunci untuk mengurangi postpartum. Lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan setiap hari, sehingga membuat Anda merasa lebih baik dan menguasai emosi berlebihan dalam diri Anda.
• Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan
Jika memungkinkan, hindari membuat keputusan besar seperti membeli rumah atau pindah kerja, sebelum atau setelah melahirkan. Tetaplah hidup secara sederhana dan menghindari stres, sehingga dapat segera dan lebih mudah menyembuhkan postpartum yang diderita.
• Beritahukan perasaan
Jangan takut untuk berbicara dan mengekspresikan perasaan yang Anda inginkan dan butuhkan demi kenyamanan Anda sendiri. Jika memiliki masalah dan merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, segera beritahukan pada pasangan atau orang terdekat.
• Dukungan keluarga dan orang lain diperlukan
Dukungan dari keluarga atau orang yang Anda cintai selama melahirkan, sangat diperlukan. Ceritakan pada pasangan atau orangtua Anda, atau siapa saja yang bersedia menjadi pendengar yang baik. Yakinkan diri Anda, bahwa mereka akan selalu berada di sisi Anda setiap mengalami kesulitan.
• Persiapkan diri dengan baik
Persiapan sebelum melahirkan sangat diperlukan.
• Senam Hamil
Kelas senam hamil akan sangat membantu Anda dalam mengetahui berbagai informasi yang diperlukan, sehingga nantinya Anda tak akan terkejut setelah keluar dari kamar bersalin. Jika Anda tahu apa yang diinginkan, pengalaman traumatis saat melahirkan akan dapat dihindari.
• Lakukan pekerjaan rumah tangga.
Pekerjaan rumah tangga sedikitnya dapat membantu Anda melupakan golakan perasaan yang terjadi selama periode postpartum. Kondisi Anda yang belum stabil, bisa Anda curahkan dengan memasak atau membersihkan rumah. Mintalah dukungan dari keluarga dan lingkungan Anda, meski pembantu rumah tangga Anda telah melakukan segalanya.
• Dukungan emosional
Dukungan emosi dari lingkungan dan juga keluarga, akan membantu Anda dalam mengatasi rasa frustasi yang menjalar. Ceritakan kepada mereka bagaimana perasaan serta perubahan kehidupan Anda, hingga Anda merasa lebih baik setelahnya.
• Dukungan kelompok Postpartum Blues
Dukungan terbaik datang dari orang-orang yang ikut mengalami dan merasakan hal yang sama dengan Anda. Carilah informasi mengenai adanya kelompok Postpartum Blues yang bisa Anda ikuti, sehingga Anda tidak merasa sendirian menghadapi persoalan ini.

C. Cara Mengatasi Post Partum Blues
Cara mengatasi gangguan psikologi pada nifas dengan postpartum blues ada dua cara yaitu :
1. Dengan cara pendekatan komunikasi terapeutik
Tujuan dari komunikasi terapeutik adalah menciptakan hubungan baik antara bidan dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara :
• Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi
• Dapat memahami dirinya
• Dapat mendukung tindakan konstruktif.

2. Dengan cara peningkatan support mental
Beberapa cara peningkatan support mental yang dapat dilakukan keluarga diantaranya :
• Sekali-kali ibu meminta suami untuk membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti : membantu mengurus bayinya, memasak, menyiapkan susu dll.
• Memanggil orangtua ibu bayi agar bisa menemani ibu dalam menghadapi kesibukan merawat bayi
• Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan lebih perhatian terhadap istrinya
• Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang akan lahir
• Memperbanyak dukungan dari suami
• Suami menggantikan peran isteri ketika isteri kelelahan
• Ibu dianjurkan sering sharing dengan teman-temannya yang baru saja melahirkan
• Bayi menggunakan pampers untuk meringankan kerja ibu
• mengganti suasana, dengan bersosialisasi
• Suami sering menemani isteri dalam mengurus bayinya

Selain hal diatas, penanganan pada klien postpartum blues pun dapat dilakukan pada diri klien sendiri, diantaranya dengan cara :
• Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi
• Tidurlah ketika bayi tidur
• Berolahraga ringan
• Ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu
• Tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi
• Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan
• Bersikap fleksibel
• Kesempatan merawat bayi hanya datang 1 x
• Bergabung dengan kelompok ibu

D. Skrining Post Partum Blues di luar negri
Diluar negeri skrining untuk mendeteksi gangguan mood / depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan . Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesinor sebagai alat Bantu. Edinburg Postanal Depression Scale (EDPS) merupan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan suasana depresi selama 7 hari pasca salin. Pertanyaan-pertanyaan berhubungan dengan labilitas persaaan kecemasan persaan bersalah serta mencakup hal-hal yang terdapat pada post-partum blues . Kuesioner ini terdiri dari 10 pertanyaan dimana setiap pertanyan memiliki 4 pilihan jawabanya yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat ini. Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit . Peneliti mendapati bahwa nilai scoring lebih besar dari 12 memiliki sensitifitas 86 % dan nilai predikasi positif 73 % untuk mendiagnosa kejadian post partum blues . EDPS juga telah teruji validitasnya di beberapa negara seperti Belanda, Swadia , Australia, Italia dan Indonesia . EDPS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 minggu kemudian .

2. Depresi Post Partum
Depresi post partum merupakan efek lebih lanjut dari post partum blues yang tidak ditangani dengan baik.
Skrining yang perlu dilakukan tidak jauh beda dengan ce\ara mendetej\ksi pada post partum depression di atas. Yaitu:
a. Memahami Pngertian Depresi Post Partum
Depresi Post Partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari lebih serius dari post partum blues yang dapat terjadi di awal-awal bulan setelah melahirkan bayi.
Postpartum depression dapat membuat ibu sangat merasa sedih, putus asa, dan tidak berarti. Dan ibu mungkin akan mengalami kesulitan membawa dan menggendong bayinya
Untuk itu deteksi dan pencegahan depresi postpartum merupakan suatu yang penting dilakukan oleh para penyedia pelayanan kesehatan,. Suatu kenyataan depresi postpartum tidak mudah dideteksi karena berbagai masalah dapat ditemui dalam melakukan deteksi dan pencegahan depresi postpartum. Hal ini memerlukan penanganan yang serius dari penyedia pelayanan kesehatan termasuk para perawat untuk mencari penyelesaian depresi postpartum.

b. Mengetahui dan Mengenali Gejala depresi Post Partum
Gejalanya merupakan perluasan dari gejal post partum blues, diantaranya:
• Mimpi buruk.
Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpi – mimpi yang menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia.
• Insomnia.
Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.
• Phobia.
Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu yang melahirkan dengan bedah Caesar sering merasakan kembali dan mengingat kelahiran yang dijalaninya. Ibu yang menjalani bedah Caesar akan merasakan emosi yang bermacam–macam. Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi. Wanita yang pernah mengalami bedah Caesar akan melahirkan dengan bedah Caesar pula untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa membuat rasa takut terhadap peralatan peralatan operasi dan jarum.
• Kecemasan.
Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya.
• Meningkatnya sensitivitas.
Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap dirinya sendiri sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya diri dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan meningkatkan sensitivitas ibu (Santrock, 2002).
• Perubahan mood
Menurut Sloane dan Bennedict (1997), menyatakan bahwa depresi postpartum muncul dengan gejala sebagai berikut : kurang nafsu makan, sedih – murung, perasaan tidak berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah dalam kehendak, tidak mempunyai harapan untuk masa depan, tidak mau berhubungan dengan orang lain. Di sisi lain kadang ibu jengkel dan sulit untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan menangis terus serta mengotori kain yang baru diganti. Hal ini menimbulkan kecemasan dan perasaan bersalah pada diri ibu walau jarang ditemui ibu yang benar–benar memusuhi bayinya.
Menurut Nevid dkk (1997), depresi postpartum sering disertai gangguan nafsu makan dan gangguan tidur, rendahnya harga diri dan kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi atau perhatian.
Kriteria diagnosis spesifik depresi postpartum tidak dimasukkan di dalam DSM-IV, dimana tidak terdapat informasi yang adekuat untuk membuat diagnosis spesifik. Diagnosis dapat dibuat jika depresi terjadi dalam hubungan temporal dengan kelahiran anak dengan onset episode dalam 4 minggu pasca persalinan.
Menurut DSM IV, simptom–simptom yang biasanya muncul pada episode postpartum antara lain perubahan mood, labilitas mood dan sikap yang berlebihan terhadap bayi. Wanita yang menderita depresi postpartum sering mengalami kecemasan yang sangat hebat dan sering panik.
Meskipun belum ada kriteria diagnosis spesifik dalam DSM-IV, secara karakteristik penderita depresi postpartum mulai mengeluh kelelahan, perubahan mood, memiliki episode kesedihan, kecurigaan dan kebingungan serta tidak mau berhubungan dengan orang lain.
Selain itu, penderita depresi postpartum memiliki perasaan tidak ingin merawat bayinya, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya.
Gejala depresi pascasalin ini memang lebih ringan dibandingkan dengan psikosis pascasalin. Meskipun demikian, kelainan–kelainan tersebut memiliki potensi untuk menimbulkan kesulitan atau masalah bagi ibu yang mengalaminya .
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gejala–gejala depresi postpartum antara lain adalah trauma terhadap intervensi medis yang dialami, kelelahan, perubahan mood, gangguan nafsu makan, gangguan tidur, tidak mau berhubungan dengan orang lain, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya.

Perlu dikenali adany tris depresi yang juga menjadi ciri kusus,yaitu:
• Berkurangnya energi
• Penurunan afek
• Hilang minat (anhedonia)

c. Mengenali Penyebab Depresi Post Partum
Penyebab depresi post partum ini juga merupaka perluasan dari penyebab post partum blues yang tidak ditangani dengan baik. Diantaranya:
• Memiliki depresi atau postpartum depression sebelumnya
• Tidak mendapat dukungan dari pasangan, teman, atau keluarga.
• Mendapati bayi sakit atau kolik
• Menderita stres di kehidupan perkawinan atau hubungan
• Memiliki Severe Premenstrual Syndrom (PMS)
Beberapa faktor yang mempengaruhi:
• Faktor konstitusional.
Gangguan post partum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetri pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara. Wanita primipara lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara berada dalam proses adaptasi, kalau dulu hanya memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat.
• Faktor fisik.
Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama merupakan faktor penting. Perubahan hormon secara drastis setelah melahirkan dan periode laten selama dua hari diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat berpengaruh pada keseimbangan. Kadang progesteron naik dan estrogen yang menurun secara cepat setelah melahirkan merupakan faktor penyebab yang sudah pasti.
• Faktor psikologis.
Peralihan yang cepat dari keadaan “dua dalam satu” padaakhir kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan Kennel (Regina dkk, 2001), mengindikasikan pentingnya cinta dalam menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara ibu dan anak.
• Faktor sosial.
Paykel (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering menimbulkan depresi pada ibu – ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan.
• Biologis.
Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormon seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat.
• Karakteristik ibu, yang meliputi :
Umur, pengaalaman, pendidikan, faktor selama proses persalinan dan faktor dukungan sosial.

d. Skrining Dengan Menggunakan Kusioner Kusus.

Untuk mendeteksi adanya depresi pascapersalinan atau risiko untuk mengalami depresi pascapersalinan, ada beberapa pertanyaan yang mesti dijawab calon ibu.
Jumlahkan skor yang diperoleh. semakin besar skor, gejala depresi semakin berat. Skor di atas 12 berarti Anda mengalami atau berisiko menderita depresi pascapersalinan.

Contoh lembar kusioner

Selama tujuh hari terakhir:
1) Saya bisa tertawa dan melihat segi-segi lucu sari segala sesuatu, misalnya suatu pertunjukan, bacaan, cerita komedi, lawakan, guyonan, obrolan sehari-hari: (0) sebanyak-banyaknya, (1) sekarang tidak begitu banyak, (2) sangat sedikit, (3) tidak sama sekali.
2) Saya gembira menghadapi segala sesuatu. (0) sebanyak-banyaknya, (1) berkurang sedikit dari biasanya, (2) sangat kurang dari biasanya, (3) hampir tidak pernah.
3) Saya menyalahkan diri sendiri secara tidak semestinya bila keadaan menjadi buruk. (0) tidak pernah, (1) tidak begitu sering, (2) ya, kadang-kadang, (3) ya, hampir selalu.
4) Saya merasa khawatir dan cemas tanpa alasan yang jelas. (0) tidak sama sekali, (1) hampir tidak pernah, (2) ya kadang-kadang, (3) ya sering
5) Saya merasa takut dan panik tanpa alasan yang jelas. (0) tidak sama sekali, (1) tidak banyak, (2) ya kadang-kadang, (3) ya cukup sering.
6) Segala sesuatu terasa membebani saya. (0) tidak, saya bisa mengatasinya dengan baik seperti biasa, (1) tidak hampir selalu saya bisa mengatasinya dengan baik, (2) ya kadang-kadang saya tidak bisa mengatasinya sebaik biasanya, (3) tidak, hampir selalu saya bisa mengatasinya dengan baik.
7) Saya merasa sangat tidak bahagia sehingga saya sulit tidur. (0) tidak sama sekali, (1) tidak begitu sering, (2) ya kadang-kadang, (3) ya hampir setiap waktu .
8) Saya merasa sedih atau jengkel tidak menentu. (0) tidak sama sekali, (1) tidak begitu sering (2) ya cukup sering, (3) ya, (3)hampir setiap waktu.
9) Saya merasa sangat tidak bahagia, sehingga saya menangis. (0) tidak pernah, (1) hanya sekali-kali, (2) ya cukup sering, (3) ya hampir setiap waktu
10) Pernah ada pikiran-pikiran untuk melukai diri sendiri. (0) tidak pernah, (1) jarang, (2) kadang-kadang, (3) ya cukup sering.
e. Tips untuk menagani depresi post partum:
Dorong istri untuk berbicara dan tunjukkan kalau Anda mengerti.
• Buat batasan kunjungan dan beritahu teman-teman “tidak bisa” ketika istri tidak ingin dikunjungi.
• Terima pertolongan dari orang-orang yang sukarela membantu menyelesaikan pekerjaan rumah.
• Izinkan teman-teman mengemong bayi agar istri punya waktu untuk dirinya sendiri dan sementara jauh dari bayi.
• Bertindak setia dan penuh kasih sayang secara fisik tanpa minta dilayani secara seksual.

3. Post Partum Psikosa
Kasus depresi berat yang disebut Postpartum Psychosis ini merupakan keadaan yang paling parah sebagai lanjutan dari depesi post partum,yang merupakan gangguan jiwa berat yang ditandai dengan waham, halusinasi dan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). Penderita akan bertingkah-laku aneh, melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, dan membahayakan dirinya dan bayinya. Kondisi ini sangat berbahaya dan akan semakin buruk bila tidak segera dilakukan terapi. Gangguan jiwa yang serius, yang timbul akibat penyebab organik ataupun emosional (fungsional) dan yang menunjukkan gangguan kemampuan berpikir, bereaksi secara emosional, mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai kenyataan itu, sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan hidup sehari-hari sangat terggantung pada kecakapan ibu dalm menghadapi keadaan ini. Skriningnya pun akan lebih mudah karna gejala gejala yang muncul lebih jelas dan aneh. Sehingga dengan cepat dapat di ketahui. Diantaraya dengan memhami hal berikut:
a. Pengertian Post Partum Psikosa
Adalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.
b. Penyebab Post Partum Psikosa
Disebabkan karena wanita menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik lainnya yang disebut schizoaffektif disorder. Wanita tersebut mempunyai resiko tinggi untuk terkena post partum psikosa.
c. Gejala Post Partum Psikosa
Gejala yang sering terjadi adalah:
1. delusi
2. halusinasi
3. gangguan saat tidur
4. obsesi mengenai bayi
d. Gambaran Klinik, Pencegahan dan Penatalaksanaan
Pada wanita yang menderita penyakit ini dapat terkena perubahan mood secara drastis, dari depresi ke kegusaran dan berganti menjadi euforia dalam waktu singkat. Penderita kehilangan semangat dan kenyamanan dalam beraktifitas,sering menjauhkan diri dari teman atau keluarga, sering mengeluh sakit kepala dan nyeri dada, jantung berdebar-berdebar serta nafas terasa cepat.
Untuk mengurangi jumlah penderita ini sebagai anggota keluarga hendaknya harus lebih memperhatikan kondisi dan keadaan ibu serta memberikan dukungan psikis agar tidak merasa kehilangan perhatian.
Saran kepada penderita untuk:
• Beristirahat cukup
• Mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang
• Bergabung dengan orang-orang yang baru
• Bersikap fleksible
• Berbagi cerita dengan orang terdekat
• Sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

Sumber:

http://zietraelmart.multiply.com/journal/item/8/POST_PARTUM_BLUES
http://pusdiknakes.or.id/fikui1/?show=detailnews&kode=72&tbl=literature
http://bana2.wordpress.com/2008/11/06/post-partum-blues/
http://www.pikirdong.org/psikologi/psi16popb.php
http://diviarsa.wordpress.com/2009/06/28/curhat-post-partum-depression/
http://www.peduli-trauma.com/index.php?option=com_content&view=article&id=108&Itemid=107
http://diviarsa.wordpress.com/2009/06/28/curhat-post-partum-depression/
http://bukankuygbiasa.blogspot.com/2007/02/depresi-post-partum.html