Aspek Fisik, Psikososial dan Isu-Isu Komersial Sepanjang Daur Kehidupan

FASE-FASE PERKEMBANGAN

1. FASE KONSEPSI
A. ASPEK FISIK
B. ASPEK PSIKOSOSIAL
C. ISU-ISU KOMERSILAN
2. FASE BAYI (0-1 TAHUN)
A. ASPEK FISIK
B. ASPEK PSIKOSOSIAL
Pararel dengan Fase Oral dari Freud, namun bagi Erikson kegiatan bayi tidak terikat dengan mulut semata; bayi adalah saat untuk memasukkan (incorporation), bukan hanya melalui mulut (menelan) tetapi juga dari semua indera. Tahap sensori oral ditandai oleh dua jenis inkorporasi: mendapat (receiving) dan menerima (accepting). Tahun pertama kehidupannya, bayi memakai sebagian besar waktunya untuk makan, eliminasi (buang kotoran), dan tidur. Ketika ia menyadari ibu akan memberi makan/minum secara teratur, mereka belajar dan memperoleh kualitas ego atau identitas ego yang pertama, perasaan kepercayaan dasar (basic trust). Bayi harus mengalami rasa lapar, haus, nyeri, dan ketidaknyamanan lain, dan kemudian mengalami perbaikan atau hilangnya kondisi yang tidak menyenangkan itu. Dari peristiwa itu bayi akan belajar mengharap bahwa hal yang menyakitkan ke depan bisa berubah menjadi menyenangkan. Bayi menangkap hubungannya dengan ibu sebagai sesuatu yang keramat (numinous).

C. ISU-ISU KOMERSIAL

3. FASE ANAK-ANAK (1-3 TAHUN)
A. ASPEK FISIK
B. ASPEK PSIKOSOSIAL
Dalam teori Erikson, anak memperoleh kepuasan bukan dari keberhasilan mengontrol alat-alat anus saja, tetapi juga dari keberhasilan mengontrol fungsi tubuh yang lain seperti urinasi, berjalan, melempar, memegang, dan sebagainya. Pada tahun kedua, penyesuaian psikososial terpusat pada otot anal-uretral (Anal-Urethral Muscular); anak belajar mengontrol tubuhnya, khususnya yang berhubungan dengan kebersihan. Pada tahap ini anak dihadapkan dengan budaya yang menghambat ekspresi diri serta hak dan kewajiban. Anak belajar untuk melakukan pembatasan-pembatasan dan kontrol diri dan menerima kontrol dari orang lain. Hasil mengatasi krisis otonomi versus malu-ragu adalah kekuatan dasar kemauan. Ini adalah permulaan dari kebebasan kemauan dan kekuatan kemauan (benar-benar hanya permulaan), yang menjadi ujud virtue kemauan di dalam egonya. Pada tahap ini pola komunikasi mengembangkan penilaian benar atau salah dari tingkah laku diri dan orang lain, disebut bijaksana (judicious).

C. ISU-ISU KOMERSIAL

4. USIA BERMAIN (3-6 TAHUN)
A. ASPEK FISIK
B. ASPEK PSIKOSOSIAL
Pada tahap ini Erkson mementingkan perkembangan pada fase bermain, yakni; identifikasi dengan orang tua (odipus kompleks), mengembangkan gerakan tubuh, ketrampilan bahasa, rasa ingin tahu, imajinasi, dan kemampuan menentukan tujuan. Erikson mengakui gejala odipus muncul sebagai dampak dari fase psikososeksual genital-locomotor, namun diberi makna yang berbeda. Menurutnya, situasi odipus adalah prototip dari kekuatan yang abadi dari kehidupan manusia. Aktivitas genital pada usia bermain diikuti dengan peningkatan fasilitas untuk bergerak. Inisiatif yang dipakai anak untuk memilih dan mengejar berbagai tujuan, seperti kawain dengan ibu/ayah, atau meninggalkan rumah, juga untuk menekan atau menunda suatu tujuan. Konflik antara inisiatif dengan berdosa menghasilkan kekuatan dasar (virtue) tujuan (purpose). Tahap ini dipenuhi dengan fantasi anak, menjadi ayah, ibu, menjadi karakter baik untuk mengalahkan penjahat
C. ISU-ISU KOMERSIAL

5. USIA SEKOLAH (6-12 TAHUN)
A. ASPEK FISIK
B. ASPEK PSIKOSOSIAL
Pada usia ini dunia sosial anak meluas keluar dari dunia keluarga, anak bergaul dengan teman sebaya, guru, dan orang dewasa lainnya. Pada usia ini keingintahuan menjadi sangat kuat dan hal itu berkaitan dengan perjuangan dasar menjadi berkemampuan (competence). Memendam insting seksual sangat penting karena akan membuat anak dapat memakain enerjinya untuk mempelajari teknologi dan budayanya serta interaksi sosialnya. Krisis psikososial pada tahap ini adalah antara ketekunan dengan perasaan inferior (industry – inveriority). Dari konflik antar ketekunan dengan inferiorita, anak mengembangkan kekuatan dasar: kemampuan (competency). Di sekolah, anak banyak belajar tentang sistem, aturan, metoda yang membuat suatu pekrjaan dapat dilakukan dengan efektif dan efisien.
C. ISU-ISU KOMERSIAL

6. ADOLESEN (12-20 TAHUN)
A. ASPEK FISIK
A. ASPEK PSIKOSOSIAL
Tahap ini merupakan tahap yang paling penting diantara tahap perkembangan lainnya, karena orang harus mencapai tingkat identitas ego yang cukup baik. Bagi Erikson, pubertas (puberty) penting bukan karena kemasakan seksual, tetapi karena pubertas memacu harapan peran dewasa pada masa yang akan datang. Pencarian identitas ego mencapai puncaknya pada fase ini, ketika remaja berjuang untuk menemukan siapa dirinya. Kekuatan dasar yang muncul dari krisis identitas pada tahap adolesen adalah kesetiaan (fidelity); yaitu setia dalam beberapa pandangan idiologi atau visi masa depan. Memilih dan memiliki ediologi akan memberi pola umum kehidupan diri, bagaimana berpakaian, pilihan musik dan buku bacaan, dan pengaturan waktu sehari-hari.
A. ISU-ISU KOMERSIAL
Penyebaran Penyakit HIV/AIDS Meluas
Penyebaran penyakit HIV/AIDS tak boleh dianggap sebelah mata. Dari waktu ke waktu jumlah pasien penyakit mematikan ini cenderung melonjak. Di Lamongan terdapat 118 orang dengan HIV/AIDS (ODHA), 38 di antaranya meninggal dunia.Dinas Kesehatan Lamongan mencatat,penyebaran virus itu indikasi penyebaran itu meluas ke Kecamatan Ngimbang berpusat di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Sekaran, Sukodadi, dan Pucuk. Mengkhawatirkannya, muncul karena di kawasan itu ditemukan tujuh ODHA.Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Lamongan Aris Wibawa menyatakan, jarum suntik dan prostitusi merupakan faktor terbesar pemicu penularan virus HIV/ AIDS di Kabupaten Lamongan. Dia menjelaskan, ratarata penderita HIV/AIDS yang terdaftar di voulentaire consultan test telah memasuki stadium II. Aris juga mengakui bahwa penyebaran penyakit HIV/ AIDS tersebut kian hari kian meluas.
Di Lembaga Pemasyarakatan Lamongan juga ditemukan 20 penderita HIV/ AIDS.Penderita ini diketahui setelah mereka melakukan tes darah dan diteruskan tes laboratorium Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri kembali
menemukan seorang penderita penyakit menular HIV/AIDS. Sayangnya, hingga kini petugas masih kesulitan untuk mengamankanâ penderita yang diduga
sebagai waria tersebut. Temuan tersebut disampaikan Kabid Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Nur Munawaroh. Menurut dia,waria berusia 35 tahun tersebut diindikasikan mengidap virus HIV oleh petugas pemantau di lapangan pada akhir September lalu. Setiap hari kami selalu mencari orang orang yang terindikasi HIV/ AIDS. Hasilnya, kembali
kami dapat satu waria, Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri kembali menemukan
seorang penderita penyakit menular HIV/AIDS. Sayangnya, hingga kini petugas masih kesulitan untuk mengamankanâ penderita yang diduga sebagai waria tersebut. Temuan tersebut disampaikan Kabid Pencegahan Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Nur Munawaroh. Menurut dia,waria berusia 35 tahun tersebut diindikasikan mengidap virus HIV oleh petugas pemantau di lapangan pada akhir September lalu. Setiap hari kami selalu mencari orang orang yang terindikasi HIV/ AIDS. Hasilnya, kembali kami dapat satu waria,
Pertumbuhan angka penderita ini lumayan cepat. Setiap bulan kami selalu menemukan minimal 1 orang.Di luar sana mungkin saja ada ribuan yang
belum terdeteksi, kata Nur Munawaroh. Melalui pemetaan yang dilakukan petugas, 9% jumlah penderita HIV/AIDS berasal dari kelompok waria,
19% dari kaum lelaki hidung belang, dan sisanya sebesar 72% terdiri atas kaum perempuan. Khusus kelompok perempuan,jumlah tertinggi disumbangkan
para pekerja seks komersial (PSK),disusul kemudian para TKW Dengan jumlah lokalisasi di Kabupaten Kediri yang mencapai sembilan tempat, penularan penyakit ini berlangsung cukup cepat. Tiga lokalisasi yang paling rawan terjadi penularan berada di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, yang merupakan kompleks lokalisasi. Temuan tersebut terus mengalami peningkatan dari
tahun ke tahun. Pada 2006 jumlah penderita HIV sebanyak 8 orang dan AIDS sebanyak 5 orang Dengan jumlah lokalisasi di Kabupaten Kediri yang mencapai
sembilan tempat, penularan penyakit ini berlangsung cukup cepat. Tiga lokalisasi yang paling rawan terjadi penularan berada di Kecamatan Gurah,Kabupaten Kediri, yang merupakan kompleks lokalisasi. Temuan tersebut terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2006 jumlah penderita HIV sebanyak 8 orang dan AIDS sebanyak 5 orang
KESIMPULAN
Kondisi ini mengundang keprihatinan kalangan dewan yang menganggap pemerintah belum serius menangani persoalan kesehatan masyarakat. Anggota DPRD Kabupaten Kediri dari Partai Amanat Nasional (PAN) Iska menyatakan,seharusnya Pemkab Kediri memberikan perhatian lebih melalui alokasi dana APBD di bidang ini. Kondisi ini seharusnya membuka mata pemerintah untuk tidak terlalu memprioritaskan pembangunan fisik. Anggaran kesehatan dan pendidikan masih jauh di bawah kebutuhan,keluhnya
ABORSI
DEFINISI
Menggugurkan kandungan atau dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah “abortus”. Berarti pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Ini adalah suatu proses pengakhiran hidup dari janin sebelum diberi kesempatan untuk bertumbuh.
Dalam dunia kedokteran dikenal 3 macam aborsi, yaitu:
1.Aborsi Spontan / Alamiah
2.Aborsi Buatan / Sengaja
3. Aborsi Terapeutik / Medis
Aborsi spontan / alamiah berlangsung tanpa tindakan apapun. Kebanyakan disebabkan karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma, sedangkan
Aborsi buatan / sengaja adalah pengakhiran kehamilan sebelum usia kandungan 28 minggu sebagai suatu akibat tindakan yang disengaja dan disadari oleh calon ibu maupun si pelaksana aborsi (dalam hal ini dokter, bidan atau dukun beranak).
Aborsi terapeutik / medis adalah pengguguran kandungan buatan yang dilakukan atas indikasi medik. Sebagai contoh, calon ibu yang sedang hamil tetapi mempunyai penyakit darah tinggi menahun atau penyakit jantung yang parah yang dapat membahayakan baik calon ibu maupun janin yang dikandungnya. Tetapi ini semua atas pertimbangan medis yang matang dan tidak tergesa-gesa.
STATISTIK
Frekuensi terjadinya aborsi sangat sulit dihitung secara akurat,
karena aborsi buatan sangat sering terjadi tanpa dilaporkan – kecuali jika terjadi komplikasi, sehingga perlu perawatan di Rumah Sakit.
Akan tetapi, berdasarkan perkiraan dari BKBN, ada sekitar 2.000.000 kasus aborsi yang terjadi setiap tahunnya di Indonesia. Berarti ada 2.000.000 nyawa yang dibunuh setiap tahunnya secara keji tanpa banyak yang tahu.
Jumlah kematian karena aborsi melebihi kematian perang manapun
Data statistik mengenai kasus aborsi di luar negeri – khususnya di Amerika – dikumpulkan oleh dua badan utama, yaitu Federal Centers for Disease Control (CDC) dan Alan Guttmacher Institute (AGI).
Hasil pendataan mereka menunjukkan bahwa jumlah nyawa yang dibunuh dalam kasus aborsi di Amerika – yaitu hampir 2 juta jiwa – lebih banyak dari jumlah nyawa manusia yang dibunuh dalam perang manapun dalam sejarah negara itu.
Sebagai gambaran, jumlah kematian orang Amerika dari tiap-tiap perang adalah:
1.Perang Vietnam – 58.151 jiwa
2.Perang Korea – 54.246 jiwa
3.Perang Dunia II – 407.316 jiwa
4.Perang Dunia I – 116.708 jiwa
5. Civil War (Perang Sipil) – 498.332 jiwa
Secara total, dalam sejarah dunia, jumlah kematian karena aborsi jauh melebihi jumlah orang yang meninggal dalam semua perang jika digabungkan sekaligus.
Jumlah kematian karena aborsi melebihi semua kecelakaan

7. DEWASA AWAL (20-30 TAHUN)
A. ASPEK FISIK
B. ASPEK PSIKOSOSIAL
Pengalaman adolesen dalam mencari identitas dibutuhkan oleh dewasa-awal. Perkembangan psikosesual tahap ini disebut perkelaminan (genitality). Keakraban (intimacy) adalah kemampuan untuk menyatukan identitas diri dengan identitas orang lain tanpa ketakutan kehilangan identitas diri itu. Cinta adalah kesetiaan yang masak sebagai dampak dari perbedaan dasar antara pria dan wanita. Cinta selain di samping bermuatan intimasi juga membutuhkan sedikit isolasi, karena masing-masing partner tetap boleh memiliki identitas yang terpisah. Ritualisasi pada tahap ini adalah Afiliasi, refleksi dari kenyataan adanya cinta, mempertahankan persahabatan, ikatan kerja.
C. ISU-ISU KOMERSIAL
8. FASE HAMIL / KEHAMILAN
A. ASPEKFISIK
Faktor fisik seorang ibu hamil dipengaruhi oleh status kesehatan dan status gizi ibu tersebut. Status kesehatan dapat diketahui dengan memeriksakan diri dan kehamilannya ke pelayanan kesehatan terdekat, puskesmas, rumah bersalin, atau poliklinik kebidanan. Pemeriksaan itu bertujuan untuk Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima bayi, Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu, Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi, Mempersiapkan ibu agar dapat melahirkan dengan selamat, Mempersiapkan agar masa nifas berjalan normal, Memantau kemajuan kehamilan.
Selain itu status gizi ibu hamil juga merupakan hal yang sangat berpengaruh selama masa kehamilan. Kekurangan gizi tentu saja akan menyebabkan akibat yang buruk bagi si ibu dan janinnya. Ibu dapat menderita anemia, sehingga suplai darah yang mengantarkan oksigen dan makanan pada janinnya akan terhambat, sehingga janin akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Di lain pihak kelebihan gizi pun ternyata dapat berdampak yang tidak baik juga terhadap ibu dan janin. Janin akan tumbuh besar melebihi berat normal, sehingga ibu akan kesulitan saat proses persalinan.
Yang harus diperhatikan adalah ibu hamil harus banyak mengkonsumsi makanan kaya serat, protein (tidak harus selalu protein hewani seperti daging atau ikan, protein nabati seperti tahu, tempe sangat baik untuk dikonsumsi) banyak minum air putih dan mengurangi garam atau makanan yang terlalu asin.

B. ASPEK PSIKOSOSIAL
Faktor Psikologis yang turut mempengaruhi kehamilan biasanya terdiri dari :
Stressor. Stress yang terjadi pada ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Janin dapat mengalami keterhambatan perkembangan atau gangguan emosi saat lahir nanti jika stress pada ibu tidak tertangani dengan baik.
Dukungan keluarga juga merupakan andil yang besar dalam menentukan status kesehatan ibu. Jika seluruh keluarga mengharapkan kehamilan, mendukung bahkan memperlihatkan dukungannya dalam berbagai hal, maka ibu hamil akan merasa lebih percaya diri, lebih bahagia dan siap dalam menjalani kehamilan, persalinan dan masa nifas.

C. ISU-ISU KOMERSIAL

9. DEWASA (30-65 TAHUN)
A. ASPEK FISIK
B. ASPEK PSIKOSOSIAL
Tahap dewasa adalah waktu menempatkan diri di masyarakat dan ikut bertanggung jawab terhadap apapun yang dihasilkan dari masyarakat. Kualitas sintonik tahap dewasa adalah generativita, yaitu penurunan kehidupan baru, serta produk dan ide baru. Kepedulian (care) adalah perluasan komitmen untuk merawat orang lain, merawat produk dan ide yang membutuhkan perhatian. Kepedulian membutuhkan semua kekuatan dasar ego sebelumnya sebagai kekuatan dasar orang dewasa. Generasional adalah interaksi antara orang dewasa dengan generasi penerusnya bisa berupa pemberian hadiah atau sanjungan, sedangkan otoritisme mengandung pemaksaan. Orang dewasa dengan kekuatan dan kekuasaannya memaksa aturan, moral, dan kemauan pribadi dalam interaksi.
C. ISU-ISU KOMERSIAL

10. USIA TUA (>65 TAHUN)
A. ASPEK FISIK
B. ASPEK PSIKOSOSIAL
Menjadi tua sudah tidak menghasilkan keturunan, tetapi masih produktif dan kreatif dalam hal lain, misalnya memberi perhatian/merawat generasi penerus – cucu dan remaja pada umumnya. Tahap terakhir dari psikoseksual adalah generalisasi sensualitas (Generalized Sensuality): memperoleh kenikmatan dari berbagai sensasi fisik, penglihatan, pendengaran, kecapan, bau, pelukan, dan juga stimulasi genital. Banyak terjadi pada krisis psikososial terakhir ini, kualita distonik “putus asa” yang menang. Orang dengan kebijaksanaan yang matang, tetap mempertahankan integritasnya ketika kemampuan fisik dan mentalnya menurun. Pada tahap usia tua, ritualisasinya adalah integral; ungkapan kebijaksanaan dan pemahaman makna kehidupan. Interaksi yang tidak mementingkan keinginan dan kebutuhan duniawi.

C. ISU-ISU KOMERSIAL

Sumber: Alwisol. 2007. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM press

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s