Fisiologi laktasi

1.1 Latar Belakang
Laktasi merupakan pengetahuan yang seharusnya dikuasi oleh para ibu. Hal ini berkaitan dengan kesehatan dan kesuksesan ibu dalam merawat dan memberi asupan yang penting bagi bayinya. Mengenai ASI eksklusif enam bulan juga jarang diketahi oleh ibu. Padahal ini sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kecerdasan intelektual anak. Untuk itu penulis membahas hal ini agar dapat membuka wawasan ibu dan pihak-pihak yang terkait tentang fisiologi laktasi ini.

1.2 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas akir semester pada pelajaran Biologi Reproduksi. Yang ditujukan untuk membantu nilai ujian semester satu nantinya.

1.3 Manfaat
Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah untuk :
1. Memberikan informasi pada pembaca tentang hal-hal yang berhubungan dengan Fisiologi Laktasi.
2. Menambah pengetahuan penulis tentang Fisiologi Laktasi.
3. Menjadikan topik ini sebagai pengetahuan yang tidak asing lagi bagi masyarakat.
4. Mengubah cara pikir yang kuno dengan pembaharuan-pembaharuan dalam bidang kesehatan.

BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN
Fisilogi laktasi

2.1. Pengertian Laktasi
Lakatasi adalah proses sintesis air susu oleh sel-sel epitel “glandula lactifera” dan proses mengalirnya air susu dari sitoplasma ke lumen alveoli, serta pencurahan air susu dari alveoli ke sisterna.
Lebih singkatnya, laktasi adalah proses produksi, sekresi dan pengeluaran ASI.

2.2. Pengaruh hormonal
Mulai dari bulan ke 3 kehamilan tubuh wanita memproduksi hormon yang menstimulasi munculnya ASI dalam sisitem payudara.

Hormon-hormon yang berpengaruh seperti :
 Progesteron
 Estrogen
 Follicle Stimulating Hormone (FSH).
 Luteinizing Hormone (LH).
 Prolactin
 Oksitosin, dll.

Progesteron mempengaruhi pertambahan dan ukuran alveoli. Tingkat progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimulasi produksi hormon estrogen secara besar-besaran. Hormon estrogen ini akan enstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Tingkat estrogen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selama tetap menyusui. Karena itu sebaiknya ibu menyusui menghindari KB hormonal berbasis estrogen karena dapat menurunkan produksi ASI.
Prolaktin berperan dalam membesarkan alveoli dalam kehamilan.
Oksitosin berperan dalam :
 mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat melahirkan dan setelahnya seperti juga dalam orgasme.
 Mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu setelah melahirkan.
 Membantu proses turunnya susu (let down/ milk ejection reflek).

2.3. Human Placental Lactogen (HPL)
Sejak bulan kedua kehamilan placenta mengeluarkan banyak HPL yang berperan dalam pertumbuhan panyaudara, putting dan aveoli sebelum melahirkan.
Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI, namun ASI bisa juga diproduksi tanpa kehamilan (induced lactation).

2.4. Laktogenesis
Dalam proses produksi ASI terbagi menjadi tiga tahap / fase laktogenesis , yaitu:

2.4.1. Laktogenesis I

Pada fase terakhir kehamilan payudara wanita memasuki fase laktogenesis I.. Keadaan buah dada pada 2 hari pertama nifas sama dengan waktu kehamilan. Pada waktu ini buah dada belum mengandung susu, melainkan colostrum, yaitu berupa cairan yang kekuningan. yang dapat di keluarkan dengan memijat aerola mammae.
Colostrum adalah cairan kuning dengan B.D. 1.030-1.035 dan reaksinya alkalis.
Kalau dilihat di bawah mikroskop tampak benda-benda halus yang melayang-layang ialah sel-sel epitel yang telah mengalami degenerasi lemak. Cairan colostrum terdiri dari albumin, yang membeku kalau dipanaskan.
Dibandingkan dengan air susu, colostrum mengandung lebih banyak protein dan garam, gulanya sama tapi lemaknya kurang. Colostrum tidak ada artinya sebagai makanan tapi mempunyai sifat sebagai laxans.
Pada saat itu tingkat progesteron yang tinggi akan mencegah produksi ASI sebenarnya. Tapi bukan merupakan masalah medis apabila ibu hamil mengeluarkan (bocor) colostrum sebelum lahirnya bayi, dan hal ini juga bukan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI sebenarnya nanti.

2.4.2. Laktogenesis II

Saat melahirkan keluarnya placenta menyebabkan turunnya tingkat hormon Progesteron, estrogen dan HPL secara tiba-tiba. Kemudian hormon Prolakin akan tetap tinggi. Hal ini menyebabkan produksi ASI besar-besaran yang dikenal dengan fase Laktogenesis II.
Apabila payudara dirangsang maka level prolaktin dalam darah akan meningkat, dan memuncak dalam periode 45 menit, kemudian keluarnya hormon prolaktin menstimulasi sel di dalam alveoli untuk memproduksi ASI, dan hormon ini juga keluar dalam ASI itu sendiri.
Penelitian mengindikasikan bahwa level prolaktin rendah saat payudara terasa penuh.
Hormon lainya seperti: insulin, tiroksin, dan kortisol juga terdapat dalam proses ini. Namun peran hormon tersebut belum diketahui.
Penanda biokimiawi mengindikasiskan bahwa proses laktogenesis II dimulai sekitar 30-40 jam post partum. Tapi biasanya ibu merasakan payudara penuh sekitar 50-73 jam ( 2 – 3 hari ) post partum. Artinya memang produksi ASI sebenarnya tidak langsung setelah melahirkan.
Colostrum dikonsumsi bayi sebelum ASI sebenarnya. Colostrum juga mengandung sel darah putih dari anti bodi yang tinggi dari pada ASI sebenarnya. Khususnya tinggi dalam level Immunoglobulin A (Ig A) yang membantu melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuksi bayi. Ig A ini juga mencegah alergi makanan dalam 2 minggu pertama setelah melahirkan. colostrum pelan-pelan hilang dan tergantikan oleh ASI sebenarnya.

2.4.3. Laktogenesis III

Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selam kehamilan dan beberapa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil sistem kontrol autokrin dimulai. Fase ini dinamakan laktogenesis III.
Pada kira-kira hari ke-3 post partum, buah dada menjadi besar, keras nyeri. Ini menandai permulaan sekresi air susu dan kalau areola mamme dipijat, keluarlah cairan putih dari puting susu.
Air susu warnanya putih kekuning-kuningan, reaksinya alkalis dan B.D.-nya 1.026 – 1.036. Di bawah mikroskop tampak benda yang halus melayang-layang dalam cairan susu yang jernih. Benda-benda ini adalah tetes lemak.

Susunan Air Susu Ibu, kurang lebih :
Protein 1 – 2 %
Lemak 3 – 5 %
Gula 6,5 – 8 %
Garam 0,1 – 0,2 %
Susunan ini berbeda pada tiap ibu dan tiap waktu. Hal-hal yang mempengaruhi susunan air susu :
 Diet
 Gerak badan (mengurangi protein)
 Keadaan jiwa
Banyaknya air susu sangat tergantung pada banyaknya cairan yang diminum ibu. Juga beberapa obat mempengaruhi banyaknya air susu, misalnya belladonna dan atropine. Obat ini akan mengurangi air susu.
Berbagai obat yang diminum ibu keluar dengan air susu seperti :
 Opiat
 Atropin
 Salicylat
 Iodid
 Bromid
 Timah
 Air rasa dan alkohol
Pada tahap ini apabila ASI banyak dikeluarkan payudara akan memproduksi ASI dengan banyak pula.
Penelitian berkesimpulan bahwa apabila payudara dikosongkan secara menyeluruh juga akan meningkatkan taraf produksi ASI. Dengan demikian, produksi ASI sangat di pengaruhi seberapa sering dan seberapa baik bayi mengisap, dan juga seberapa sering panyudara dikosongkan.
Produksi ASI yang rendah akibat dari kurang seringnya menyusui / memeras payudara
Air susu dapat juga mengandung zat immun , misalnya :
 Difteri anti toxin
 Typhus agglutinin.

Apabila bayi tidak bisa mengisap ASI secara efektif antara lain akibat:
• Stuktur mulut dan rahang yang kurang baik
• Teknik pendekatan yang salah.
• Kelainan endokrin ibu (jarang terjadi).
• Jaringan payudara hipolastik
• Kelainan metabolisme / pencarnaan bayi (sehingga tidak dapat mencerna ASI).
• Kurangnya gizi ibu.

Menyusui setiap 2-3 jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi. Untuk wanita pada umumnya menyusui atau memeras ASI 8 kali dalam 24 jam akan menjaga produksi ASI tetap tinggi pada masa-masa awal menyusui, kususnya 4 bulan pertama. Bukan hal yang aneh bila BBL menyusui lebih dari itu. Karena rata-ratanya adalah 10, 12, bahkan sampai 18 kali menyusui setiap 24 jam.
Menyusui Ondemand adalah menyusui kapanpun bayi meminta (lebih banyak dari rata-rata agar bayi tetap kenyang).
Perlu diingat bahwa sebaiknya menyusui dengan durasi yang cukup lama setiap kalinya dan tidak terlalu sebentar, sehingga bayi menerima asupan foremilk dan hindimilk secara seimbang.

2.5.Refleks Turunnya Susu
Keluarnya hormon oksitosin menstimulasi otot sekitar untuk memeras ASI keluar. Deskripsi ibu saat turunnya turunnya susu : ada yang merasakan sakit pada payudara, merasakan geli, dan ada yang tidak merasakan apa-apa
Refleks turunya susu tidak selalu konsisten. Khususnya pada masa-masa awal. Tetapi refleks ini bisa juga distimulasi dengan hanya memikirkan tentang bayi, atau mendengar suara bayi. Sehingga terjadi kebocoran. Sering juga terjadi payudara yang tidak sedang menyusui keluar ASI saat bayi menghisap payudara yang satu lagi. Biasanya dalam dua minggu refleks turunnya susu akan menjadi lebih stabil. Tetapi akan terhalangi jika ibu mengalami stres.

Refleks turunnya susu yang kurang baik terjadi karena beberapa hal :
 Puting lecet.
 Terpisahnys ibu dari bayi.
 Pembedahan payudara sebelum melahirkan.
 Kerusakan jaringan payudara.

Jika refleks turunnya susu kurang, dapat dibantu dengan :
 Pemijatan payudara.
 Menghangatkan payudara (mandi dengan air hangat).
 Menyusui dengan situasi yang tenang.
 Menghindari stres.

Bagaimana pengarfuh menstruasi atau kehamilan baru pada kwalitas dan kwantitas air susu belum jelas, tetapi kalau ibu hamil lebih baik anak diceraikan demi kepentingan ibu.
Air susu masih tetap merupakan makanan bayi yang terbaik dan harus dianjurkan kalau tidak ada kontraindikasi.

Beberapa keadaan yang melarang ibu menyusukan anaknya, misalnya :
 Mastitis purulenta.
 Penyakit ibu yang menular pada anaknya ( Koch pulmonum, Hepatitis, dll).
 Keadaan ibu yang kurang baik ( infeksi berat, anemia berat).
 Intoksikasi anak.
 Anak prematur.
 Anak sakit keras.

^-^

BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
1. Laktasi merupakan proses produksi, sekresi dan pengeluaran ASI.
2. Laktasi sangat dipengaruhi oleh faktor hormonal. Hormon-hormon yang sangat berpengaruh seperti : estrogen, progesteron, oksitosin, LH, FSH, prolactin, dan adanya efek Human Placental Lactogen (HPL)
3. Laktasi mengalami 3 fase, yaitu Laktogenesis I, Laktogenesis II, laktogenesis III.
4. Refleks turunnya susu yang kurang baik dapat terjadi karena puting lecet, terpisahnya ibu dari bayi, pembedahan payudara sebelum melahirkan, kerusakan jaringan payudara.

3.2. Saran-saran
1. Bagi penulis
Diharapkan penulis lebih paham dan mengerti tentang Fisiologi Laktasi ini. Dan makalah ini semakin dekat dengan kesempurnaan.
2. Bagi pembaca
Agar pembaca memahami setiap detil dari makalah ini. Untuk selanjutnya dapat di manfaatkan bagi diri sendiri ataupun orang lain
3. Bagi masyarakat umum
Supaya masyarakat umum lebih mengetahui tentang fisiologi laktasi ini. Karna pengetahuan tentang ASI merupakan hal yang penting dalam kehidupan, berhubung karena ini berkaitan dengan BBL yang akan menjadi cikal indonesia sehat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s