Lupus eritematosus

Lupus eritematosus sistemik
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Seperti yang diungkapkan dalam buku kecil Care for Lupus (Syamsi Dhuha), Lupus adalah sebutan umum dari suatu kelainan yang disebut sebagai Lupus Erythematosus.
Dalam istilah sederhana, seseorang dapat dikatakan menderita penyakit Lupus Erythematosus saat tubuhnya menjadi alergi pada dirinya sendiri. Lupus adalah istilah dari bahasa Latin yang berarti Serigala.
Hal ini disebabkan penderita penyakit ini pada umumnya memiliki butterfly rash atau ruam merah berbentuk kupu-kupu di pipi yang serupa di pipi Serigala, tetapi berwarna putih.
Penyakit ini dalam ilmu kedokteran disebut Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu ketika penyakit ini sudah menyerang seluruh tubuh atau sistem internal manusia. Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, penyakit ini adalah kebalikan dari kanker atau HIV/AIDS. Pada Lupus, tubuh menjadi overacting terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuat terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditujukan untuk melawan jaringan tubuh sendiri. Dengan demikian, Lupus disebut sebagai autoimmune disease (penyakit dengan kekebalan tubuh berlebihan).
Jenis penyakit Lupus ini memiliki tiga macam bentuk, yang pertama yaitu Cutaneus Lupus, seringkali disebut discoid yang mempengaruhi kulit. Kedua, Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf. Ketiga, Drug Induced Lupus(DIL), timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu. Setelah pemakaian dihentikan, umumnya gejala akan hilang.
dan biasanya odipus (orang hidup dengan lupus)akan menghindari hal-hal yang dapat membuat penyakitnya kambuh dengan :
1. Menghindari stress
2. Menjaga agar tidak langsung terkena sinar matahari
3. mengurangi beban kerja yang berlebihan
4. menghindari pemakaian obat tertentu.
odipus dapat memeriksakaan diri pada dokter2 pemerhati penyakit ini, dokter spesialis penyakit dalam konsultasi hematologi, rheumatology, ginjal, hipertensi, alergi imunologi, jika lupus dapat tertanggulangi, berobat dengan teratur, minum obat teratur yang di berikan oleh dokter (yang biasanya diminum seumur hidup), odipus akan dapat hidup layaknya orang normal.
April 3, 2008
Lupus Eritematosus, Apakah Itu?
Tanya:
Ibu dokter, saya Ibu Marina ingin berkonsultasi tentang penyakit lupus, sebenarnya sakit lupus itu apa bu karena saya pernah mendengar katanya penyakit ini sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kematian.Apakah itu benar bu dokter?
Saya juga pernah membaca bahwa salah satu tanda sakit lupus itu ditandai dengan bercak merah di wajah merupakan salah satu tanda terkena lupus disamping itu pendertia lupus tidak boleh terkena sinar matahari. Bagaimana membedakan bercak merah yang tidak berbahaya. Apakah penyakit ini dapat diobati? Mohon penjelasan. Terimakasih
Ibu Marina Singkawang

Jawab:
Ibu Marina yang terhormat, penyakit lupus eritematosus (LE) merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan gambaran klinik yang karakteristik yang berhubungan dengan produksi autoantibody tertentu yang menyerang sistem konektif dan vaskular. Lupus berasal dari bahasa Yunani yang berarti srigala, karena pada penderita lupus sering terdapat gambaran bercak merah pada wajah terutama di area pipi dan hidung seperti belang warna pada wajah srigala. Secara LE epidemiologi lebih banyak terjadi pada kulit berwarna, onset usia sekitar 30-40 tahun, wanita lebih banyak terserang dibanding pria (8:1).
Lupus eritematosus terdiri atas spectrum ringan sampai berat. Spectrum ringan berupa lupus terlokalisir atau discoid lupus eritematosus (DLE) sedangkan yang berat bahkan mengancam jiwa berupa sistemik lupus eritematosus (SLE). Discoid lupus eritematosus (DLE) bersifat kronis dan tidak berbahaya. Gejala klinis berupa bercak eritem atrofik tanpa ulserasi sedangkan SLE bersifat akut, dan melibatkan multiorgan seperti kulit, otot, sendi, darah, dan ginjal.
Discoid Lupus Eritematosus (DLE)
Manifestasi klinis DLE berupa gangguan kulit terutama terjadi pada area yang terpapar sinar matahari. Distribusi dan presileksi DLE dapat terlokalisir maupun meluas, terutama terjadi pada wajah dan kepala, namun dapat juga muncul pada lengan ,tangan, kaki maupun badan.
Gejala klinis terdapat pada muka terutama hidung dan pipi atau telinga berupa pacth atau plak eritem, berbatas tegas dengan sumbatan keratin pada folikel rambut. Kelainan kulit tersebut pada pipi dan hidung dapat berkonfluen berbentuk kupu-kupu atau dikenal dengan gambaran butterfly rash eritem. Diskoid lupus eritematosus pada kepala menyebabkan alopesia scaring/kebotakan dan sumbatan keratin pada folikel rambut. Penyakit ini dapat meninggalkan sikatrik atrofi maupun hipertrofi.
Penegakkan diagnosis berdasarkan gejala klinis, laboratorium, dan baku emas dengan pemeriksaan histopatologis. Pada kasus DLE 5-10% dapat berkembang menjadi SLE.
Pengobatan penderita DLE selain dengan obat-obatan juga harus dilakukan edukasi pada penderita. Penderita harus menghindari trauma fisik, sinar matahari, stres emosional, dan lingkungan yang sangat dingin. Dengan demikian penderita harus memakai tabir surya baik tabir fisik berupa baju payung topi maupun tabir surya yang dioleskan pada badan.
Pengobatan dapat menggunakan kloroquin 100mg/hari selama 3-6 minggu obat maksimal diberikan selama 3 bulan untuk menghindari kerusakan mata. Kortikosteroid sistemik dapat diberikan pada DLE diseminata. Pengobatan topikal menggunakan steroid topikal poten maupun suntikan triamsinolon asetat.
Sistematik Lupus Eritematosus (SLE)
Gejala klinis sangat bervariasi karena menyerang multiorgan. Spektrum klinis bervariasi dari penyakit yang akut, fulminan dan sangat berat sampai penyakit yang ringan. Manifestasi klinis dapat dibagi menjadi empat kelompok besar sebagai berikut:
1. Gejala konstitusional berupa perasaan cepat lelah, penurunan berat badan dan demam merupakan gejala yang timbul selama berbulan-bulan sebelum ada gejala lain.
2. Kelainan kulit dan mukosa berupa bercak merah pada kulit yang terutama pada area yang terpapar sinar matahari yang bersifat akut sub akut maupun kronis. Kelainan kulit non spesifik berupa vaskulitis, maupun Ranaud’s fenomen. Kelainan mukosa ditandai dengan ulkus/luka pada mukosa mulut. palatum, buccal dan gusi.
3. Kelainan organ dalam yang menyerang ginjal, jantung dan paru serta hati berupa lupus nefritis yang menyebabkan proteinuria. Selain itu terjadi perikarditis, pleuritis dan maupun kolitis ulseratif dan hepatosplenomegali
4. Kelainan pada sendi, tulang. otot, kelenjar getah bening, dan sistem saraf berupa atralgia, limfadenopati, neuropati, gangguan otak.
Ada banyak pendapat bahwa penyakit ini disebabkan oleh interaksi antara faktor genetik dan imunologik, serta faktor hormonal. Penyakit ini dapat juga dinduksi oleh obat tertentu seperti procainamid, hidantoin, fenilbutazon, penisilin, streptomisin, tetrasiklin dan sulfonamid yang dikenal sebagai SLE like sindrom.
Diagnosis SLE ditetapkan berdasarkan kriteria ARA, bila terdapat 4 kriteria dari 11 kriteria maka diagnosis SLE dapat ditegakkan. Kriteria ARA adalah sebagai berikut:
Kriteria Ara
1. Malar rash Discoid rash
2. Photosensitivity
3. Oral ulcers
4. Arthritis
5. Serositis
6. Renal disorder
7. Neurologic disorder
8. Hematologic disorder
9. Immunologic disorder
10. Antinuclear antibody
Pengobatan
Seperti pada penderita DLE maka pada penderita SLE selain dengan obat-obatan juga harus dilakukan edukasi pada penderita. Penderita harus menghindari trauma fisik, sinar matahari, stres emosional, dan lingkungan yang sangat dingin. Dengan demikian penderita harus memakai tabir surya baik tabir fisik berupa baju payung topi maupun tabir surya yang dioleskan pada badan.
Bila penderita SLE yang sedang fase akut harus dirawat. Terapi menggunakan kortikosteroid sistemik terutama pada penderita yang kritis, seperti krisis lupus nefritis, pleuritis, perikarditis, atau banyak mengalami hemoragi.
Dosis kortikosteroid lebih banyak bergantung pada gejala klinis daripada hasil laboratorium, dapat diberikan prednison 1mg/kg berat badan atau 5 mg/minggu dan dicari dosis pemeliharaan yang diberikan selang sehari. Pada penderita kritis dimana SLE dalam kondisi mengancam jiwa penderita seperti pada nefritis dan gangguan kesadaran akibat serangan pada otak dapat diberikan kortikosteroid 1gr /hari selanjutnya bila kondisi telah membaik dapat dilakukan tapering/ penurunan dosis.
Obat-obat antibiotik, antiviral dan antifungal harus diberikan, bila terdapat komplikasi, misalnya infeksi sekunder, pneumonia bakterial, atau infeksi virus, dan mikosis sistemik. Pada penderita SLE dengan anemia hemolitik atau lupus nefropatia acapkali dosis tinggi kortikosreroid tidak efektif, maka harus diberi terapi sitostatik, misalnya azatioprin 50-150 mg per hari, dengan dosis maksimal 200 mg per hari.
Dapat pula diberikan siklofosfamid dengan dosis sama. Bila kurang jelas atau diantara para pembaca ada yang ingin bertanya tentang masalah kulit dan kelamin dapat menghubungi:hp 0818464018 atau pontianak post atau poli Kulit dan Kelamin RS Soedarso atau apotek Mitra jl Jend Urip.
Team Pengasuh
Sumber : Pontianak Post Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s