Mastitis

1. Pengertian
. Mastitis adalah peradangan payudara yang dapat disertai atau tidak disertai infeksi. Penyakit ini biasanya menyertai laktasi, sehingga disebut juga mastitis laktasional atau mastitis puerperalis. Abses (nanah) payudara, pengumpulan nanah lokal di dalam payudara, merupakan komplikasi berat dari mastitis. Dua penyebab utama dari mastitis adalah stasis (terhenti) ASI dan infeksi. Patogen yang paling sering diidentifikasi adalah staphilokokus aureus. Pada mastitis infeksius, ASI dapat terasa asin akibat kadar natrium dan klorida yang tinggi dan merangsang penurunan aliran ASI. Ibu harus tetap menyusui. Antibiotik (resisten-penisilin) diberikan bila ibu mengalami mastitis infeksius.
2. Penyebab
Infeksi payudara biasanya disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan pada kulit yang normal (Staphylococcus aureus). Bakteri seringkali berasal dari mulut bayi dan masuk ke dalam saluran air susu melalui sobekan atau retakan di kulit (biasanya pada puting susu). Mastitis biasanya terjadi pada wanita yang menyusui dan paling sering terjadi dalam waktu 1-3 bulan setelah melahirkan.
Sekitar 1-3% wanita menyusui mengalami mastitis pada beberapa minggu pertama setelah melahirkan. Pada wanita pasca menopause, infeksi payudara berhubungan dengan peradangan menahun dari saluran air susu yang terletak di bawah puting susu.
Perubahan hormonal di dalam tubuh wanita menyebabkan penyumbatan saluran air susu oleh sel-sel kulit yang mati. Saluran yang tersumbat ini menyebabkan payudara lebih mudah mengalami infeksi.
3. Gejala
a. Gejala mastitis non-infeksius:
• Ibu memperhatikan adanya “bercak panas”, atau area nyeri tekan yang akut
• Tiba-tiba muncul rasa gatal pada puting dan berkembang menjadi adanya rasa nyeri saat bayi menyusui
• Ibu dapat merasakan bercak kecil yang keras di daerah nyeri tekan tersebut
• Ibu tidak mengalami demam dan merasa baik-baik saja
b. Gejala mastitis infeksius:
• Ibu mengeluh lemah dan sakit-sakit pada otot seperti flu
• Ibu dapat mengeluh sakit kepala
• Ibu merasakan gejala menyerupai flu seperti demam, rasa dingin sementara tubuh terasa pegal dan sakit
• Terdapat area luka yang terbatas atau lebih luas pada payudara
• Kulit pada payudara dapat tampak kemerahan atau bercahaya (tanda-tanda akhir)
• Kedua payudara mungkin terasa keras dan tegang “pembengkakan”
• Nipple discharge (keluar cairan dari puting susu, bisa mengandung nanah)
• Pembesaran kelenjar getah bening ketiak pada sisi yang sama dengan payudara yang terkena

Gambar mastitis
4. Faktor Predisposisi
Di antaranya adalah daya tahan tubuh seorang wanita, apalagi setelah melahirkan, biasanya masih terasa lelah. Hal itu akan menyebabkan daya tahan seseorang menurun sehingga mudah sakit.
Selain itu, bila ibu tidak telaten untuk menyusui pada bayinya, sehingga payudara menjadi penuh maka dapat mempermudah terjadinya mastitis. Jika seseorang sudah pernah menderita itu, maka tidak menutup kemungkinan akan lebih mudah terkena lagi.
5. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
Jika tidak sedang menyusui, bisa dilakukan mammografi atau biopsi payudara
6. Pencegahan Radang Payudara saat Menyusui
Cara mencegah radang payudara:
1. Keluarkan kelebihan ASI dengan segera. ASI yang tidak dikeluarkan akan menumpuk dan menimbulkan penyumbatan di dalam payudara yang dapat berujung peradangan.
2. Susui bayi sesering mungkin dan jangan memperpanjang jarak antar tiap waktu menyusui.
3. Jika payudara sudah terasa penuh ASI, bujuklah bayi untuk menyusui. Anda tidak perlu menunggu sampai si kecil merasa lapar.
4. Menyusui secara bergantian payudara kiri dan kanan
5. Gunakan teknik menyusui yang baik dan benar untuk mencegah robekan/luka pada puting susu
6. Minum banyak cairan
7. Menjaga kebersihan puting susu
8. Mencuci tangan sebelum dan sesudah menyusui.

Cara mengatasi radang payudara:
1. Istirahat. Istirahat akan menghilangkan stres dan meningkatkan kekebalan tubuh Anda kembali.
2. Kompres payudara. Secara bergantian, kompres payudara Anda dengan kompres hangat dan dingin. Kompres dingin menghilangkan rasa nyeri, sedangkan kompres panas membantu memerangi peradangan.
3. Pijat daerah yang sakit. Pemijatan akan meningkatkan sirkulasi, mengurangi penyumbatan payudara serta membantu meningkatkan faktor imunitas di payudara. Pijatlah payudara Anda sambil mandi air hangat atau berendam air hangat.
4. Jangan berhenti menyusui meskipun payudara meradang. Penghentian ini dapat menyebabkan terjadinya infeksi kuman penyakit pada payudara yang dapat berlanjut menjadi abses payudara (payudara bernanah).
5. Susuilah lebih sering di payudara yang meradang .
 Susuilah payudara yang meradang sampai kosong, karena apabila ada yang tersisa akan lebih mudah terinfeksi lagi.
 Sebaiknya langsung susui bayi (jangan dipompa), kecuali jika terpaksa karena bayi menolak menyusu, keluarkan ASI dengan tangan atau dipompa.
 Mulailah menyusui dengan payudara yang sehat, setelah itu baru ganti ke payudara yang sakit. Cara ini akan mengurangi nyeri saat menyusu.
6. Apabila bayi Anda menolak untuk menyusu pada payudara yang meradang, ini dapat disebabkan karena peradangan kelenjar susu meningkatkan kadar sodium (garam) pada ASI sehingga rasanya jadi asin. Kebanyakan bayi tidak menyadari rasa asin ini, tetapi ada bayi yang menolak untuk meminumnya. Apabila bayi Anda menolak, mulailah menyusui dari payudara yang sehat, baru selanjutnya tukar ke payudara yang meradang.
7. Apabila peradangan terus berlanjut, segeralah periksa ke dokter.

7. Pengobatan
Dilakukan pengompresan hangat pada payudara selama 15-20 menit, 4 kali/hari. Diberikan antibiotik dan untuk mencegah pembengkakan, sebaiknya dilakukan pemijatan dan pemompaan air susu pada payudara yang terkena.
Jika terjadi abses, biasanya dilakukan penyayatan dan pembuangan nanah, serta dianjurkan untuk berhenti menyusui. Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan obat pereda nyeri (misalnya acetaminophen atau ibuprofen). Kedua obat tersebut aman untuk ibu menyusui dan bayinya. Pantau suhu tubuh akan adanya demam. Jika ibu demam tinggi (< 39oC), periksa kultur susu terhadap kemungkinan adanya infeksi streptokokal. Pertimbangkan pemberian antibiotik antistafilokokus kecuali jika demam dan gejala berkurang.
8. Tips untuk mengurangi efek dari mastitis.

• Cepat curiga akan adanya mastitis.
• Segeralah tidur bila menduga adanya mastitis dan istirahatlah dengan benar.Duduklama selama beberapa jam tanpa melakukan aktifitas dapat membantu memperpendek durasi mastitis.
• Konsumsi echinacea dan vitamin C untuk meningkatkan sistem imun dan membantu melawan infeksi. Jika infeksi terjadi hingga berhari-hari konsultasikan kepada dokter.
• Kompres air hangat pada daerah yang mengalami sumbatan duktus.
• Bantuan pancuran air hangat (shower hangat) untuk mandi, akan sangat membantu mempercepat menghilangkan sumbatan.
• Tetap berikan ASI kepada bayi, bila gagal coba lagi, susui terutama payudara yang sakit sesering dan selama mungkin sehingga sumbatan tersebut lama-kelamaan akan menghilang. Bila gagal gunakan pompa sedot.
• Lakukan pemijatan terus menerus saat menyusui juga sangat membantu.

Sumber
http://netfarm.blogsome.com/2007/10/01/mastitis-pada-ibu/
http://www.rahasiapayudara.com/artikel/2009/02/01/infeksi-dan-abses-payudara.html
http://www.menyusui.net/problem-menyusui/bila-payudara-bengkak-saat-menyusui/
http://www.untukku.com/artikel-untukku/serba-%E2%80%93-serbi-menyusui-untukku.html
http://cariobat.blogspot.com/2008/09/infeksi-abses-payudara-mastitis.html

Tugas ASKEB III
Tentang
Mastitis Pada Ibu Menyusui

Sherly Oktaviani

Prodi Kebidanan Bukittinggi
Poltekkes Depkes Padang
2009/2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s