Post Partum Blues, Depresi Post Partum dan Psikosa

Skrining Akan Adanya Post Partum Blues, Depresi Post Partum dan Psikosa

Pada saat hamil seorang wanita telah mengalami banyak perubahan di dalm dirinya. Baik perubahan secara fisik ataupun yang menyangkut psikologis. Untuk itu perlu kita ketahui bahwa perubahan-perubahan tersebut adalah normal. Dan tidak perlu cemas secara berlebihan karma hal itu justru akan memberikan dampak buruk pada janin.
Memasuki trimester tiga kehamilan biasanya perasaan wanita akan berubah menjadi lebih tak menentu. Karna mulai cemas dengan gambaran persalinan yang akan dihadapi. Hal ini biasanya di sebut dengan gelisah dan takut menjelang persalinan. Sebagian besar kaum wanita menganggap bahwa kehamilan adalah peristiwa kodrati yang harus dilalui tetapi sebagian wanita mengganggap sebagai peristiwa khusus yang sangat menentukan kehidupan selanjutnya. Perubahan fisik dan emisional yang kompleks, memerlukan adaptasi terhadap penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Konflik antara keinginan prokreasi, kebanggaan yang ditumbuhkan dari norma-norma sosial cultural dan persoalan dalam kehamilan itu sendiri dapat merupakan pencetus berbagai reaksi psikologis, mulai dari reaksi emosional ringan hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat.
Pada saat inilah waktu yang tepat untuk meyakinkan ibu dan memberikan dukungan yang adekuat secara psikologis. Meyakinkan ibu bahwa ia pasti akan mampu melalui hal tersebut.
Jika hal ini tidak teratasi, kemungkinan akan muncul efek yang lebih buruk pada ibu. Seperti post partum blues, depresi dan psikosa. Disamping faktor-faktorlain yang dapat memicu gangguan psikologis ini.
Untuk itu sangat perlulah untuk mengadakan skrining atau deteksi dini akan adanya gangguan tersebut. Dengan mengenali gejala awal dari setiap gangguan, melakukan observasi langsung ataupun melalui keluarga.

1. Post Partum Blues

A. Pendahuluan
Post-partum blues sendiri sudah dikenal sejak lama. Depresi setelah melahirkan sudah dikenali sejak 460 tahun sebelum Masehi, lewat pengungkapan oleh Hippocrates. Deskripsi lebih lengkap kemudian dikembangkan dari waktu ke waktu, namun baru sekitar 15 tahun terakhir ini muncul banyak informasi seputar ini. Savage pada tahun 1875 telah menulis referensi di literature kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pascasalin yang disebut sebagai ‘milk fever ‘ karena gejala disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, post-partum blues (PPB) atau sering juga disebut maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah persalinan, dan ditandai dengan gejala-gejala seperti : reaksi depresi /sedih/disforia, menangis , mudah tersinggung (iritabilitas), cemas, labilitas perasaan, cenderung menyalahkan diri sendiri, gangguan tidur dan gangguan nafsu makan. Gejala-gejala ini mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Namun pada beberapa minggu atau bulan kemudian, bahkan dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat.
Post-partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab itu sering tidak dipedulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak ditatalaksanai sebagaimana seharusnya, akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan dan dapat membuat perasaan perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya, dan bahkan kadang-kadang gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis pasca-salin, yang mempunyai dampak lebih buruk, terutama dalam masalah hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anaknya.

Untuk mendeteksi adanya post partum blues ini kita perlu mengetahui dan melakukan hal-hal berikut

a) Memahami Pngertian Post Partum Blues
Postpartum blues merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan, biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi.
Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh wanita dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada minggu minggu atau bulan-bulan pertama setelah melahirkan, baik dari segi fisik maupun segi psikologis. Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi sebagian lainnya tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan gangguan psikologis, salah satunya yang disebut Postpartum Blues.

b) Mengetahui dan Mengenali Gejala Post Partum Blues
Perlu kita curigai jika terdapat gejala-gejala seperti ini:
Gejala Utama
• Cemas tanpa sebab.
• Menangis tanpa sebab
• Tidak sabar
• Tidak percaya diri
• Sensitive
• Mudah tersinggung
• Merasa kurang menyayangi bayinya
• Perasaan negatif terhadap bayi yang dilahirkannya
• Kesulitan untuk tidur
• Perubahan drastis berat badan
• Kelelahan dan lesu
• Adanya perasaan untuk membenci pada diri sendiri, perasaan bersalah, individu merasa dirinya tidak berguna untuk orang lain
• Samasekali tidak bisa berkonsentrasi terhadap masalah kecil sekali pun
• Menarik diri dari lingkungan, kehilangan terhadap minat social
• Mudah marah, mudah terhasut dan kegelisahan secara mendalam
• Kehilangan gairah terhadap sesuatu hal (aktivitas)

Gejala Medis
Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung post partum blues. Secara medis, dokter menyimpulkan beberapa simtom yang tampak dapat disimpulkan sebagai gangguan post partum blues bila memenuhi kriteria gejala yang ada. Kekurangan hormon tyroid yang ditemukan pada individu yang mengalami kelelahan luar biasa (fatigue) ditemukan juga pada ibu yang mengalami post partum blues mempunyai jumlah kadar tyroid yang sangat rendah.

Selain gejala di atas perlunjuga kita perhatikan tingkah laku ibu dan hal hal yang mungkin ia keluhkan, seperti:
• Menangis dan ditambah ketakutan tidak bisa memberi asi
• Frustasi karena anak tidak mau tidur
• Ibu merasa lelah, migraine dan cenderung sensitive
• Merasa sebal terhadap suami
• Masalah dalam menghadapi omongan ibu mertua
• Menangis dan takut apabila bayinya meninggal
• Menahan rasa rindu dan merasa jauh dari suami
• Menghabiskan waktu bersama bayi yang terus menerus menangis sehingga membuat ibu frustasi
• Perilaku anak semakin nakal sehingga ibu menjadi stress
• Adanya persoalan dengan suami
• Terganggunya tidur ibu pada malam hari karena bayinya menangis
• Jika ibu mengalami luka operasi, yang rasa sakitnya menambah masalah bagi ibu.
• Setiap kegiatan ibu menjadi terbatas karena hadirnya seorang bayi
• Takut melakukan hubungan suami isteri karena takut mengganggu bayi
• Kebanyakan para ibu baru ingin pulang ke rumah orangtuanya dan berada
didekat ibunya.

c) Mengenali Penyebab Post Partum Blues
Mengenali penyebab post partum blues juga merupakan hal yang berguna dalam mendeteksi adanya gangguan psikologi ini pada ibu. Selain bisa mengantisipasi kita juga bisa memahami kondisi ibu sepenuhnya.
Post partum ini biasanya disebabkan oleh:
• Perubahan Hormon
• Faktor usia ( hamil usia muda, primipara, belum matangnya reproduksi, dll)
• Ketidaksiapan ibu menghadapi persalinan
• Stress
• ASI tidak keluar
• Frustasi karena bayi tidak mau tidur, nangis dan gumoh
• Kelelahan pasca melahirkan, dan sakitnya akibat operasi.
• Suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri maupun persoalan lainnya dengan suami.
• Problem dengan Orangtua dan Mertua.
• Takut kehilangan bayi
• Sendirian mengurus bayi, tidak ada yang membantu.
• Problem dengan si Sulung.
• Ibu yang pernah mengalami gangguan kecemasaan termasuk depresi sebelum hamil
• Kejadian-kejadian sebagai stressor yang terjadi pada ibu hamil, seperti kehilangan suaminya.
• Kondisi bayi yang cacat, atau memerlukan perawatan khusus pasca melahirkan yang tidak pernah dibayangkan oleh sang ibu sebelumnya.
• Ketergantungan pada alkohol atau narkoba
• Kurangnya dukungan yang diberikan oleh anggota keluarga, suami, dan teman
• Kurangnya komunikasi, perhatian, dan kasih sayang dari suami, atau pacar, atau orang yang bersangkutan dengan sang ibu.
• Mempunyai permasalahan keuangan menyangkut biaya, dan perawatan bayi.
• Kurangnya kasih sayang dimasa kanak-kanak

B. Cara Mencegah Post Partum Blues

Berikut ini beberapa kiat yang mungkin dapat mengurangi resiko Postpartum Blues yaitu :
• Pelajari diri sendiri
Pelajari dan mencari informasi mengenai Postpartum Blues, sehingga Anda sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka Anda akan segera mendapatkan bantuan secepatnya.
• Tidur dan makan yang cukup
Diet nutrisi cukup penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang terbaik dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanya penting selama periode postpartum dan kehamilan.
• Olahraga
Olahraga adalah kunci untuk mengurangi postpartum. Lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan setiap hari, sehingga membuat Anda merasa lebih baik dan menguasai emosi berlebihan dalam diri Anda.
• Hindari perubahan hidup sebelum atau sesudah melahirkan
Jika memungkinkan, hindari membuat keputusan besar seperti membeli rumah atau pindah kerja, sebelum atau setelah melahirkan. Tetaplah hidup secara sederhana dan menghindari stres, sehingga dapat segera dan lebih mudah menyembuhkan postpartum yang diderita.
• Beritahukan perasaan
Jangan takut untuk berbicara dan mengekspresikan perasaan yang Anda inginkan dan butuhkan demi kenyamanan Anda sendiri. Jika memiliki masalah dan merasa tidak nyaman terhadap sesuatu, segera beritahukan pada pasangan atau orang terdekat.
• Dukungan keluarga dan orang lain diperlukan
Dukungan dari keluarga atau orang yang Anda cintai selama melahirkan, sangat diperlukan. Ceritakan pada pasangan atau orangtua Anda, atau siapa saja yang bersedia menjadi pendengar yang baik. Yakinkan diri Anda, bahwa mereka akan selalu berada di sisi Anda setiap mengalami kesulitan.
• Persiapkan diri dengan baik
Persiapan sebelum melahirkan sangat diperlukan.
• Senam Hamil
Kelas senam hamil akan sangat membantu Anda dalam mengetahui berbagai informasi yang diperlukan, sehingga nantinya Anda tak akan terkejut setelah keluar dari kamar bersalin. Jika Anda tahu apa yang diinginkan, pengalaman traumatis saat melahirkan akan dapat dihindari.
• Lakukan pekerjaan rumah tangga.
Pekerjaan rumah tangga sedikitnya dapat membantu Anda melupakan golakan perasaan yang terjadi selama periode postpartum. Kondisi Anda yang belum stabil, bisa Anda curahkan dengan memasak atau membersihkan rumah. Mintalah dukungan dari keluarga dan lingkungan Anda, meski pembantu rumah tangga Anda telah melakukan segalanya.
• Dukungan emosional
Dukungan emosi dari lingkungan dan juga keluarga, akan membantu Anda dalam mengatasi rasa frustasi yang menjalar. Ceritakan kepada mereka bagaimana perasaan serta perubahan kehidupan Anda, hingga Anda merasa lebih baik setelahnya.
• Dukungan kelompok Postpartum Blues
Dukungan terbaik datang dari orang-orang yang ikut mengalami dan merasakan hal yang sama dengan Anda. Carilah informasi mengenai adanya kelompok Postpartum Blues yang bisa Anda ikuti, sehingga Anda tidak merasa sendirian menghadapi persoalan ini.

C. Cara Mengatasi Post Partum Blues
Cara mengatasi gangguan psikologi pada nifas dengan postpartum blues ada dua cara yaitu :
1. Dengan cara pendekatan komunikasi terapeutik
Tujuan dari komunikasi terapeutik adalah menciptakan hubungan baik antara bidan dengan pasien dalam rangka kesembuhannya dengan cara :
• Mendorong pasien mampu meredakan segala ketegangan emosi
• Dapat memahami dirinya
• Dapat mendukung tindakan konstruktif.

2. Dengan cara peningkatan support mental
Beberapa cara peningkatan support mental yang dapat dilakukan keluarga diantaranya :
• Sekali-kali ibu meminta suami untuk membantu dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti : membantu mengurus bayinya, memasak, menyiapkan susu dll.
• Memanggil orangtua ibu bayi agar bisa menemani ibu dalam menghadapi kesibukan merawat bayi
• Suami seharusnya tahu permasalahan yang dihadapi istrinya dan lebih perhatian terhadap istrinya
• Menyiapkan mental dalam menghadapi anak pertama yang akan lahir
• Memperbanyak dukungan dari suami
• Suami menggantikan peran isteri ketika isteri kelelahan
• Ibu dianjurkan sering sharing dengan teman-temannya yang baru saja melahirkan
• Bayi menggunakan pampers untuk meringankan kerja ibu
• mengganti suasana, dengan bersosialisasi
• Suami sering menemani isteri dalam mengurus bayinya

Selain hal diatas, penanganan pada klien postpartum blues pun dapat dilakukan pada diri klien sendiri, diantaranya dengan cara :
• Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi
• Tidurlah ketika bayi tidur
• Berolahraga ringan
• Ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu
• Tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi
• Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan
• Bersikap fleksibel
• Kesempatan merawat bayi hanya datang 1 x
• Bergabung dengan kelompok ibu

D. Skrining Post Partum Blues di luar negri
Diluar negeri skrining untuk mendeteksi gangguan mood / depresi sudah merupakan acuan pelayanan pasca salin yang rutin dilakukan . Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesinor sebagai alat Bantu. Edinburg Postanal Depression Scale (EDPS) merupan kuesioner dengan validitas yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan suasana depresi selama 7 hari pasca salin. Pertanyaan-pertanyaan berhubungan dengan labilitas persaaan kecemasan persaan bersalah serta mencakup hal-hal yang terdapat pada post-partum blues . Kuesioner ini terdiri dari 10 pertanyaan dimana setiap pertanyan memiliki 4 pilihan jawabanya yang mempunyai nilai skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat ini. Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu 5 menit . Peneliti mendapati bahwa nilai scoring lebih besar dari 12 memiliki sensitifitas 86 % dan nilai predikasi positif 73 % untuk mendiagnosa kejadian post partum blues . EDPS juga telah teruji validitasnya di beberapa negara seperti Belanda, Swadia , Australia, Italia dan Indonesia . EDPS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 minggu kemudian .

2. Depresi Post Partum
Depresi post partum merupakan efek lebih lanjut dari post partum blues yang tidak ditangani dengan baik.
Skrining yang perlu dilakukan tidak jauh beda dengan ce\ara mendetej\ksi pada post partum depression di atas. Yaitu:
a. Memahami Pngertian Depresi Post Partum
Depresi Post Partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari lebih serius dari post partum blues yang dapat terjadi di awal-awal bulan setelah melahirkan bayi.
Postpartum depression dapat membuat ibu sangat merasa sedih, putus asa, dan tidak berarti. Dan ibu mungkin akan mengalami kesulitan membawa dan menggendong bayinya
Untuk itu deteksi dan pencegahan depresi postpartum merupakan suatu yang penting dilakukan oleh para penyedia pelayanan kesehatan,. Suatu kenyataan depresi postpartum tidak mudah dideteksi karena berbagai masalah dapat ditemui dalam melakukan deteksi dan pencegahan depresi postpartum. Hal ini memerlukan penanganan yang serius dari penyedia pelayanan kesehatan termasuk para perawat untuk mencari penyelesaian depresi postpartum.

b. Mengetahui dan Mengenali Gejala depresi Post Partum
Gejalanya merupakan perluasan dari gejal post partum blues, diantaranya:
• Mimpi buruk.
Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpi – mimpi yang menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia.
• Insomnia.
Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.
• Phobia.
Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya. Ibu yang melahirkan dengan bedah Caesar sering merasakan kembali dan mengingat kelahiran yang dijalaninya. Ibu yang menjalani bedah Caesar akan merasakan emosi yang bermacam–macam. Keadaan ini dimulai dengan perasaan syok dan tidak percaya terhadap apa yang telah terjadi. Wanita yang pernah mengalami bedah Caesar akan melahirkan dengan bedah Caesar pula untuk kehamilan berikutnya. Hal ini bisa membuat rasa takut terhadap peralatan peralatan operasi dan jarum.
• Kecemasan.
Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya.
• Meningkatnya sensitivitas.
Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap dirinya sendiri sebagai seorang ibu. Kurangnya pengalaman atau kurangnya rasa percaya diri dengan bayi yang lahir, atau waktu dan tuntutan yang ekstensif akan meningkatkan sensitivitas ibu (Santrock, 2002).
• Perubahan mood
Menurut Sloane dan Bennedict (1997), menyatakan bahwa depresi postpartum muncul dengan gejala sebagai berikut : kurang nafsu makan, sedih – murung, perasaan tidak berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah dalam kehendak, tidak mempunyai harapan untuk masa depan, tidak mau berhubungan dengan orang lain. Di sisi lain kadang ibu jengkel dan sulit untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan menangis terus serta mengotori kain yang baru diganti. Hal ini menimbulkan kecemasan dan perasaan bersalah pada diri ibu walau jarang ditemui ibu yang benar–benar memusuhi bayinya.
Menurut Nevid dkk (1997), depresi postpartum sering disertai gangguan nafsu makan dan gangguan tidur, rendahnya harga diri dan kesulitan untuk mempertahankan konsentrasi atau perhatian.
Kriteria diagnosis spesifik depresi postpartum tidak dimasukkan di dalam DSM-IV, dimana tidak terdapat informasi yang adekuat untuk membuat diagnosis spesifik. Diagnosis dapat dibuat jika depresi terjadi dalam hubungan temporal dengan kelahiran anak dengan onset episode dalam 4 minggu pasca persalinan.
Menurut DSM IV, simptom–simptom yang biasanya muncul pada episode postpartum antara lain perubahan mood, labilitas mood dan sikap yang berlebihan terhadap bayi. Wanita yang menderita depresi postpartum sering mengalami kecemasan yang sangat hebat dan sering panik.
Meskipun belum ada kriteria diagnosis spesifik dalam DSM-IV, secara karakteristik penderita depresi postpartum mulai mengeluh kelelahan, perubahan mood, memiliki episode kesedihan, kecurigaan dan kebingungan serta tidak mau berhubungan dengan orang lain.
Selain itu, penderita depresi postpartum memiliki perasaan tidak ingin merawat bayinya, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya.
Gejala depresi pascasalin ini memang lebih ringan dibandingkan dengan psikosis pascasalin. Meskipun demikian, kelainan–kelainan tersebut memiliki potensi untuk menimbulkan kesulitan atau masalah bagi ibu yang mengalaminya .
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa gejala–gejala depresi postpartum antara lain adalah trauma terhadap intervensi medis yang dialami, kelelahan, perubahan mood, gangguan nafsu makan, gangguan tidur, tidak mau berhubungan dengan orang lain, tidak mencintai bayinya, ingin menyakiti bayi atau dirinya sendiri atau keduanya.

Perlu dikenali adany tris depresi yang juga menjadi ciri kusus,yaitu:
• Berkurangnya energi
• Penurunan afek
• Hilang minat (anhedonia)

c. Mengenali Penyebab Depresi Post Partum
Penyebab depresi post partum ini juga merupaka perluasan dari penyebab post partum blues yang tidak ditangani dengan baik. Diantaranya:
• Memiliki depresi atau postpartum depression sebelumnya
• Tidak mendapat dukungan dari pasangan, teman, atau keluarga.
• Mendapati bayi sakit atau kolik
• Menderita stres di kehidupan perkawinan atau hubungan
• Memiliki Severe Premenstrual Syndrom (PMS)
Beberapa faktor yang mempengaruhi:
• Faktor konstitusional.
Gangguan post partum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetri pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara. Wanita primipara lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara berada dalam proses adaptasi, kalau dulu hanya memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat.
• Faktor fisik.
Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama merupakan faktor penting. Perubahan hormon secara drastis setelah melahirkan dan periode laten selama dua hari diantara kelahiran dan munculnya gejala. Perubahan ini sangat berpengaruh pada keseimbangan. Kadang progesteron naik dan estrogen yang menurun secara cepat setelah melahirkan merupakan faktor penyebab yang sudah pasti.
• Faktor psikologis.
Peralihan yang cepat dari keadaan “dua dalam satu” padaakhir kehamilan menjadi dua individu yaitu ibu dan anak bergantung pada penyesuaian psikologis individu. Klaus dan Kennel (Regina dkk, 2001), mengindikasikan pentingnya cinta dalam menanggulangi masa peralihan ini untuk memulai hubungan baik antara ibu dan anak.
• Faktor sosial.
Paykel (Regina dkk, 2001) mengemukakan bahwa pemukiman yang tidak memadai lebih sering menimbulkan depresi pada ibu – ibu, selain kurangnya dukungan dalam perkawinan.
• Biologis.
Faktor biologis dijelaskan bahwa depresi postpartum sebagai akibat kadar hormon seperti estrogen, progesteron dan prolaktin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dalam masa nifas atau mungkin perubahan hormon tersebut terlalu cepat atau terlalu lambat.
• Karakteristik ibu, yang meliputi :
Umur, pengaalaman, pendidikan, faktor selama proses persalinan dan faktor dukungan sosial.

d. Skrining Dengan Menggunakan Kusioner Kusus.

Untuk mendeteksi adanya depresi pascapersalinan atau risiko untuk mengalami depresi pascapersalinan, ada beberapa pertanyaan yang mesti dijawab calon ibu.
Jumlahkan skor yang diperoleh. semakin besar skor, gejala depresi semakin berat. Skor di atas 12 berarti Anda mengalami atau berisiko menderita depresi pascapersalinan.

Contoh lembar kusioner

Selama tujuh hari terakhir:
1) Saya bisa tertawa dan melihat segi-segi lucu sari segala sesuatu, misalnya suatu pertunjukan, bacaan, cerita komedi, lawakan, guyonan, obrolan sehari-hari: (0) sebanyak-banyaknya, (1) sekarang tidak begitu banyak, (2) sangat sedikit, (3) tidak sama sekali.
2) Saya gembira menghadapi segala sesuatu. (0) sebanyak-banyaknya, (1) berkurang sedikit dari biasanya, (2) sangat kurang dari biasanya, (3) hampir tidak pernah.
3) Saya menyalahkan diri sendiri secara tidak semestinya bila keadaan menjadi buruk. (0) tidak pernah, (1) tidak begitu sering, (2) ya, kadang-kadang, (3) ya, hampir selalu.
4) Saya merasa khawatir dan cemas tanpa alasan yang jelas. (0) tidak sama sekali, (1) hampir tidak pernah, (2) ya kadang-kadang, (3) ya sering
5) Saya merasa takut dan panik tanpa alasan yang jelas. (0) tidak sama sekali, (1) tidak banyak, (2) ya kadang-kadang, (3) ya cukup sering.
6) Segala sesuatu terasa membebani saya. (0) tidak, saya bisa mengatasinya dengan baik seperti biasa, (1) tidak hampir selalu saya bisa mengatasinya dengan baik, (2) ya kadang-kadang saya tidak bisa mengatasinya sebaik biasanya, (3) tidak, hampir selalu saya bisa mengatasinya dengan baik.
7) Saya merasa sangat tidak bahagia sehingga saya sulit tidur. (0) tidak sama sekali, (1) tidak begitu sering, (2) ya kadang-kadang, (3) ya hampir setiap waktu .
8) Saya merasa sedih atau jengkel tidak menentu. (0) tidak sama sekali, (1) tidak begitu sering (2) ya cukup sering, (3) ya, (3)hampir setiap waktu.
9) Saya merasa sangat tidak bahagia, sehingga saya menangis. (0) tidak pernah, (1) hanya sekali-kali, (2) ya cukup sering, (3) ya hampir setiap waktu
10) Pernah ada pikiran-pikiran untuk melukai diri sendiri. (0) tidak pernah, (1) jarang, (2) kadang-kadang, (3) ya cukup sering.
e. Tips untuk menagani depresi post partum:
Dorong istri untuk berbicara dan tunjukkan kalau Anda mengerti.
• Buat batasan kunjungan dan beritahu teman-teman “tidak bisa” ketika istri tidak ingin dikunjungi.
• Terima pertolongan dari orang-orang yang sukarela membantu menyelesaikan pekerjaan rumah.
• Izinkan teman-teman mengemong bayi agar istri punya waktu untuk dirinya sendiri dan sementara jauh dari bayi.
• Bertindak setia dan penuh kasih sayang secara fisik tanpa minta dilayani secara seksual.

3. Post Partum Psikosa
Kasus depresi berat yang disebut Postpartum Psychosis ini merupakan keadaan yang paling parah sebagai lanjutan dari depesi post partum,yang merupakan gangguan jiwa berat yang ditandai dengan waham, halusinasi dan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality). Penderita akan bertingkah-laku aneh, melihat sesuatu yang sebenarnya tidak ada, dan membahayakan dirinya dan bayinya. Kondisi ini sangat berbahaya dan akan semakin buruk bila tidak segera dilakukan terapi. Gangguan jiwa yang serius, yang timbul akibat penyebab organik ataupun emosional (fungsional) dan yang menunjukkan gangguan kemampuan berpikir, bereaksi secara emosional, mengingat, berkomunikasi, menafsirkan kenyataan dan bertindak sesuai kenyataan itu, sehingga kemampuan untuk memenuhi tuntutan hidup sehari-hari sangat terggantung pada kecakapan ibu dalm menghadapi keadaan ini. Skriningnya pun akan lebih mudah karna gejala gejala yang muncul lebih jelas dan aneh. Sehingga dengan cepat dapat di ketahui. Diantaraya dengan memhami hal berikut:
a. Pengertian Post Partum Psikosa
Adalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.
b. Penyebab Post Partum Psikosa
Disebabkan karena wanita menderita bipolar disorder atau masalah psikiatrik lainnya yang disebut schizoaffektif disorder. Wanita tersebut mempunyai resiko tinggi untuk terkena post partum psikosa.
c. Gejala Post Partum Psikosa
Gejala yang sering terjadi adalah:
1. delusi
2. halusinasi
3. gangguan saat tidur
4. obsesi mengenai bayi
d. Gambaran Klinik, Pencegahan dan Penatalaksanaan
Pada wanita yang menderita penyakit ini dapat terkena perubahan mood secara drastis, dari depresi ke kegusaran dan berganti menjadi euforia dalam waktu singkat. Penderita kehilangan semangat dan kenyamanan dalam beraktifitas,sering menjauhkan diri dari teman atau keluarga, sering mengeluh sakit kepala dan nyeri dada, jantung berdebar-berdebar serta nafas terasa cepat.
Untuk mengurangi jumlah penderita ini sebagai anggota keluarga hendaknya harus lebih memperhatikan kondisi dan keadaan ibu serta memberikan dukungan psikis agar tidak merasa kehilangan perhatian.
Saran kepada penderita untuk:
• Beristirahat cukup
• Mengkonsumsi makanan dengan gizi yang seimbang
• Bergabung dengan orang-orang yang baru
• Bersikap fleksible
• Berbagi cerita dengan orang terdekat
• Sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis

Sumber:

http://zietraelmart.multiply.com/journal/item/8/POST_PARTUM_BLUES
http://pusdiknakes.or.id/fikui1/?show=detailnews&kode=72&tbl=literature
http://bana2.wordpress.com/2008/11/06/post-partum-blues/
http://www.pikirdong.org/psikologi/psi16popb.php
http://diviarsa.wordpress.com/2009/06/28/curhat-post-partum-depression/
http://www.peduli-trauma.com/index.php?option=com_content&view=article&id=108&Itemid=107
http://diviarsa.wordpress.com/2009/06/28/curhat-post-partum-depression/
http://bukankuygbiasa.blogspot.com/2007/02/depresi-post-partum.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s