Psikologi

2.1 GELISAH DAN TAKUT MENJELANG PERSALINAN

Gelisah dan takut menjelang persalinan akan menimbulkan perasaan was-was secara terus menerus pada sang ibu. Perasaan ini aka semakin luas dan berubah menjadi kecemasan yang mendalam. Kecemasan merupakan suatu pengalaman dan perasaan seseorang mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai respon ketidakmampuan menghadapi masalah tersebut. Perasaan yang tidak menyenangkan ini umumnya menimbulkan gejala-gejala fisiologis (seperti gemetar, berkeringat, detak jantung meningkat, dan lain-lain) dan gejala-gejala psikologis (seperti panik, tegang, bingung, tak dapat berkonsentrasi, dan sebagainya).
Tuanya kehamilan meningkatkan kecemasan ibu terhadap hal hal dan resiko yang mungkin terjadi pada kehamilannya. Hal ini menyebabkan kegelisahan dan ketekutan bagi ibu untuk menghadapi persalinan. Kecemasan, ketakutan dan kegelisahan ibu hamil menghadapi kelahiran anak adalah suatu kondisi psikologis atau perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan yang mengancam individu pada masa kandungan tujuh – sembilan bulan dimana objek kecemasan itu tidak jelas atau samar-samar yang dikarenakan adanya perubahan-perubahan fisiologis seperti perubahan bentuk tubuh ataupun rahim yang semakin membesar dan perut menurun serta tekanan-tekanan yang dirasakan dalam perut yang menyebabkan ketidakstabilan kondisi psikologis, seperti merasa takut, kuatir, was-was dan tidak tahu apa yang akan terjadi dan yang harus dia lakukan setelah anaknya lahir.
Kiat-Kiat Mengatasi Rasa Takut dan Gelisah Menjelang Persalinan
Tetap percaya diri Karena belum mengerti dan belum pernah mengalami persalinan, kebanyakan Ibu akan stress dan gelisah. Tapi jangan takut berlebihan. Coba cari tahu apa saja yang harus disiapkan menjelang, saat persalinan dan sesudahnya. Kalau sudah punya pengetahuan mengenai hal ini, biasanya Ibuakan lebih percaya diri menghadapinya.
Coba lihat lagi catatan rencana persalinan Ibu Percaya diri itu biasanya timbul kalau kita merasa siap. Jadi coba pelajari tiga tahap persalinan. Tapi yang paling penting adalah jangan simpan ketakutan Ibu sendiri. Ajak dokter untuk berdiskusi.
Berdoa untuk menenangkan diri Berda merupakan cara yang ampuh dalam menghadapi ketakutan dan kegelisahan. Dengan itu kita akan merasa lebih dekat dan terlindungi oleh ALLah.
DOA MENGHADAPI KELAHIRAN
Laa ilaaha illallaahul ‘adliimulhaliimu laa ilaaha illallaahu robbul ‘arsyil ‘adliimi. Laa ilaaha illalaahu robbus samaawati wal ardhi wa robbul ‘arsyil kariimi.
Artinya : “Tiada Tuhan yang patut untuk disembah melainkan hanya Allah Dzat Yang Maha Agung lagi Maha Penyantun. Tiada Tuhan yang patut untuk disembah melainkan hanya Allah tuhannya ‘Arsy yang agung. Tiada Tuhan yang patut untuk disembah melainkan hanya Allah, Tuhannya langit dan bumi dan Tuhan arsy yang mulia”.
Mencari dan mengatasi penyebab takut Salah satu ketakutan kecemasan para ibu menjelang melahirkan adalah menghadapi rasa sakit dan nyeri. Apalagi bagi calon yang belum pernah melahirkan sebelumnya. Nyeri menghadapi persalinan karena rasa sakit yang ditimbulkan. Seiring kemajuan teknologi, untuk menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri saat persalinan, selain teknik analgesia epidural yang sudah lama kita kenal, ada pula teknik analgesia spinal yang disebut ILA (Intrathecal Labor Analgesia). Anggapan bahwa nyeri selama persalinan adalah sesuatu yang normal dan wajar serta “wajib” dialami oleh setiap ibu agar hubungan bayi dan ibu menjadi lebih dekat, itu sudah salah kaprah. Nyeri selama persalinan akan menimbulkan perubahan fungsi tubuh yang tidak normal. Seperti tekanan darah meningkat, denyut jantung berpacu, kegelisahan dan kecemasan yang bertambah serta mengganggu konsentrasi ibu dalam proses persalinan. Sehingga ibu akan semakin takut dan gelisah. Hal ini secara tidak langsung akan memperburuk kondisi ibu. Makanya, akan lebih baik bila nyeri persalinan dapat dikurangi (bahkan dihilangkan) tanpa mengganggu masalah hubungan psikologis ibu-bayi.
Metode Intrathecal Labor Analgesia (ILA)
Persalinan dengan ILA dilakukan dokter kandungan dan dokter anastesi yang menyuntikkan obat ke dalam cairan saraf tulang belakang si ibu. Cairan inilah yang menghilangkan rasa sakit. Calon ibu tak perlu kuatir, obat ini sama sekali tidak akan mempenagruhi janin. Pada tekhik ILA, obat anestesi disuntikkan ke rongga daerah serabut saraf di tulang belakang bagian bawah (posisi ibu duduk atau berbaring miring) sehingga nyeri dapat dikurangi atau dihilangkan tanpa mengganggu proses persalinan dan ibu dalam kondisi tetap sadar. Dengan cara ini ibu tetap merasakan gejala peregangan ketika bayi akan keluar. Sementara pada teknik epidural,. obat dimasukkan ke rongga epidural. Obat ini hanya bekerja pada satu saraf, sehingga tidak terserap ke pembuluh darah dan masuk ke tubuh bayi. Obat tersebut disuntikkan ke punggung ketika posisi si ibu duduk atau berbaring miring/ Ini berbeda dengan teknik epidural yang menyuntikkan obat ke dalam rongga epidural. Efek samping persalinan dengan bantuan ILA bisa dibilang amat ringan dan tidak mempengaruhi kondisi janin. Meski jarang, beberapa efek samping yang mungkin terjadi adalah mual, muntah, penurunan tekanan darah. Dengan solusi ini salah satu penyebab ketakutan ibu akan teratasi. Hal ini nantinya akan membuat ibu mejadi lebih tenang menghadapi persalinan.
Dukungan keluarga untuk menenangkan sang ibu
Dukungan keluarga sangat bermanfaat dalam pengendalian seseorang terhadap tingkat kecemasan dan dapat pula mengurangi tekanan-tekanan yang ada pada konflik yang terjadi pada dirinya. Dukungan tersebut berupa dorongan, motivasi, empati, ataupun bantuan yang dapat membuat individu yang lainnya merasa lebih tenang dan aman. Dukungan didapatkan dari keluarga yang terdiri dari suami, orang tua, ataupun keluarga dekat lainnya. Dukungan keluarga dapat mendatangkan rasa senang, rasa aman, rasa puas, rasa nyaman dan membuat orang yang bersangkutan merasa mendapat dukungan emosional yang akan mempengaruhi kesejahteraan jiwa manusia. Dukungan keluarga berkaitan dengan pembentukan keseimbangan mental dan kepuasan psikologis.
Berdasarkan paparan diatas, dukungan keluarga yang diberikan kepada wanita hamil dapat menumbuhkan perasaan tenang, aman, dan nyaman sehingga dapat mempengaruhi ketakutan dan kegelisahan ibu hamil. Melahirkan bayi, apalagi untuk kali pertama, kadang membuat ibu-ibu cemas. Rasa sakit luar biasa tak jarang menghantui. Untuk mengurangi rasa sakit saat melahirkan itu, kini ada terapi hypnobirthing.
Terapi hypnobirthing Terapi hypnobirthing menjadi solusi bagi calon ibu mempersiapkan diri menyambut kehadiran jabang bayi. Proses persalinan yang sakit dan menguras tenaga, sering menjadi pemicu stres para calon ibu dalam menanti masa itu. Dengan hypnobirthing ibu-ibu tak perlu takut menjalani persalinan normal. Sebab, ada terapi untuk mengurangi rasa sakit ketika melahirkan, hypnobirthing. Syaratnya, harus relaks agar menjelang persalinan bisa menerapkan gerakan hypnobirthing. Ada tiga macam relaksasi dalam hypnobirthing.
Relaksasi otot. Ketika mengejan, otot-otot dasar panggul tak boleh tegang. Jika tegang, bayi sulit keluar. Akibatnya, si ibu merasakan sakit luar biasa. Sebaliknya, jika kita bisa relaks, otot dasar panggul jadi elastis. Ini akan mempermudah bayi lahir. Disinilah pentingnya relaksasi otot.
Relaksasi pernapasan. Selain otot-otot rileks, ketika mengejan, nafas diatur melalui perut. Bukan dari dada. Ini yang membuat kita kuat mengejan lebih lama dibanding mengatur nafas lewat dada. Pernafasan perut berguna untuk mendorong bayi agar cepat keluar.
Relaksasi pikiran. Jauh-jauh hari sebelum hari H persalinan, mental ibu harus siap. Antara lain dengan berfikir positif sambil berdoa agar bisa menjalani persalinan dengan lancar.
2.2 GANGGUAN BOUNDING ATTACHEMENT
Kelahiran anggota keluarga baru dalam sebuah keluaga merupakan satu hal yuang membawa perubahan terhadap anggota keluarga lainnya. Mereka beradaptasi dan meneysauikan diri terhadap bayi yang baru dilahirkan. Berbagai perasaan dan tingkah laku mengalami perubahan, ada yang makin bahagia dengan kehadiran bayi namun tidak sedikit juga yang mengingkarinya. Sikap dan perasaan anggota keluarga tersebut akan membawa pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan bayi itu nantinya. Akan tetapi sebelum menghadapi respon terhadap bayi baru lahir, orang tua akan melalui suatu proses untuk menjadi orang tua.
A. BOUNDING ATTACHMENT
Kelahiran adalah sebuah momen yang dapat membentuk suatu ikatan antara ibu dan bayinya. Pada sat bayi dilahirkan adalah saat yang sangat menakjubkan bagi seorang ibu ketika ia dapat melihat, memegang dan memebrikan ASI pada bayinya untuk pertama kali. Dan masa tenang setelah melahirkan disaat ibu merasa rileks, membenrikan peluang ideal untuk memulai pembentukan ikatan batin. Seorang bayi yang baru lahir mempunyai kemampuan yang banyak misalnya bayi dapat mencium, merasa, mendengar dan melihat. Kulit mereka sangat sensitif terhadapt suhu dan sentuhan dan selama satu jam pertama setelah melahirkan mereka sangat wasapada dan siap untuk mempelajari dunia baru mereka.
Jika tidak ada komplikasi yang serius stelah bayi lahir dapat langsug diletakkan di atas perut ibu , kontak segera ini akan sangat bermanfaat baik bagi ibu maupun bayinya telah terjadi sejak masa kehamilan dan pada saat persalinan ikatan itu akan semakin kuat. Bidan sebagai tenaga kesehatan dapat menfasilitasi perilaku ikatan awal ini dengan cara menyediakan sebuah lingkungan yang mendukung sehingga kontak dan interaksi yang baik dari orang tua kepada anak dapat terjadi.
Pengertian Bounding Attachment
Bounding attachment terjadi pada kala IV, dimana diadakan kontak antar ibu, ayah-anak dan berada dalam ikatan kasih. Bounding merupakan suatu hubungan yang berawal dari saling mengikat diantara orangtua termasuk orangtua dan anak, ketika pertama kali bertemu. Attachment adalah suatu perasaan kasih sayang yang meningkat satu sama lain setiap waktu dan bersifat unik dan memerlukan kesabaran .Secara keseluruhan Bounding Atachmen adalah kontak awal antara ibu dan bayi setelah kelahiran, untuk memberikan kasih sayang yang merupakan dasar interaksi antara keduanya secara terus menerus atau bersifat unik, spesifik dan bertahan lama. Dengan kasih sayang yang diberikan terhadap bayinya maka akan terbentuk ikatan antara orang tua dan bayi..
Beberapa Prakondisi yang mempengaruhi ikatan, yaitu:
Kesehatan emosional orang tua
Sistem dukungan social yang meliputi pasangna hidup, teman dan keluarga
Suatu tigkat keterampilan alam berkomunikasi dan dalam member asuhan yang kompeten
Kedekatan orang tua dengan bayi
kecocokan orang tua-bayi (termasuk keadaan, temperamen, dan jenis kelamin)
Tahap-tahap bounding attachment
perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.
Bounding (keterikatan)
Attachment, perasaan kasih sayang yang mengikat individu dengan indivudu lain.

Elemen-elemen bounding attachment
Touch ( sentuhan ).
Ibu memulai dengan ujung jarinya untuk memeriksa bagian kepala dan ekstremitas bayinya. Dalam waktu singkat secara terbuka perubahan diberikan untuk membelai tubuh. Dan mungkin bayi akan dipeluk dilengan ibu. Gerakan dilanjutkan sebagai gerakan lembut untuk menenangkan bayi. Bayi akan merapat pada payudara ibu. Menggenggam satu jari atau seuntai rambut dan terjadilah ikatan antara keduanya. Sentuhan, atau indera peraba, dipakai seara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru loahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya. Penelitian telah menemukan suatu pola sentuhan yang hampir sama yakni pengasuh memulai eksplorasi jari tangan ke bagian kepala dan tungkai kaki. Tidak lama kemudian pengasuh memakai telapak tangannya untuk mengelus badan bayi dan akhirnya memeluk dengan tangannya. Gerakan ini dipakai menenangkan bayi.
Eye To Eye Contact (Kontak mata)
Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak wktu utuk salaing memandang. Beberap ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat degan bayinya Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan segera. Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai factor yang penting sebagai hubungan manusia pada umumnya. Bayi baru lahir dapat memusatkan perhatian pada suatu obyek, satu jam setelah kelahiran pada jarak sekitar 20-25 cm, dan dapat memusatkan pandangan sebaik orang dewasa pada usia kira-kira 4 bulan, perlu perhatian terhadap factor-faktor yang menghambat proses tersebut. Mis ; Pemberian salep mata dapat ditunda beberapa waktu sehingga tidak mengganggu adanya kontak mata ibu dan bayi.
Voice ( Suara )
Respon antara ibu dan bayi berupa suara masing-masing orang tua akan menantikan tangisan pertama bayinya. Dari tangisan tersebut ibu merasa tenang karena merasa bayinya baik ( hidup ). Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak mengherankan bila ia dapat mendengar suara-suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak lahir, meskipun suara-suara itu terhalang selama beberapa hari terhalang cairan amniotic dari rahim yang melekat pada telinga. Banyak Penelitian memperhatikan bahwa bayi-bayi baru lahir bukan hanya mendengar secara pasif melainkan mendengarkan dengan sengaja dan mereka nampaknya lebih dapat menyesuaikan diri dengan suara-suara tertentu daripada yang lain. Contoh ; suara detak jantung ibu.
Odor (Aroma)
Indra penciuman bayi sudah berkembang dengan baik dan masih memainkan peranan dalam nalurinya untuk mempertahankan hidup. Penelitian menunjukan bahwa kegiatan seorang bayi, detak jantung dan pola bernapasnya berubah setiap kali hadir bau yang baru, tetapi bersamaan makin dikenalnya bau itu sibayipun berhenti bereaksi. Pada akhir minggu I seorang bayi dapat mengenali ibunya dari bau badan dan air susu ibunya. Indra Penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya ASI pada waktu tertentu.
Body Warm ( Kehangatan Tubuh )
Jika tidak ada komplikasi yang serius seorang ibu akan dapat langsung meletakan bayinya diatas perut ibu, baik setalah tahap kedua dari proses melahirkan atau sebelum tali pusat dipotong. Kontak yang segera ini memberikan banyak manfaat baik bagi ibu maupun sibayi kontak kulit agar bayi tetap hangat.
Entraiment ( gaya bahasa )
Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraaan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikut nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mula berbicara. Irama ini berfungsi member umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif. Entrainment BBL menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa artinya perkembangan bayi dalam bahasa dipengaruhi diatur, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi ( komunikasi yang positif ).
Biorhytmicity ( Irama Kehidupan )
Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibuya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan member kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsive. Hal ini dapat meningkatkan interaksi social dan kesempatan bayi untuk belajar.
Kontak dini Beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini:
Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat
Reflek menghisap dilakukan dini
Pembentuk kekebalan aktif dimulai
Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak
Prinsip-prinsip dan upaya meningkatkan bounding attachment
Menit pertama jam pertama
Sentuhan orang tua pertama kali
Adanya ikatan yang baik dan sistematis
Terlibat proses persalinan
Persiapan PNC sebelumnya
Adaptasi
Kontak sedini mungkin sehingga dapat membangut dalam member kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta member rasa nyaman
Fasilitas untuk kontak lebih lama
Penekanan pada hal-hal positif
Perawat meternitas khusus (bidan)
Libatkan anggota keluarga lainnya
Informasi bertahap mengenai bounding attachment
Dampak positif bounding attachment
Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap social
Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi
Hambatan bounding attachment
Kurang support sistem
Ibu dengan risiko
Bayi dengan risiko
Kehadiaran bayi yang tidak diinginkan
B. RESPON AYAH DAN KELUARGA
Sebagai ayah baru, peran ayah tidak kurang rumitnya dibandingkan peran istri. Tentu sang ayah tidak mengandung si bayi selam 9 bulan, tetapi harus membuat penyesuaian secara fisik dan emosi ketika waktu persalinan semakin dekat dan persiapan untuk bayi menjadi penting sekali. Di satu pihak, sang ayah ungkin merasa seolah-olah tidak ada hubungan dengan persalinan tetapi pada sisi lain ini adalah bayinya juga.Ketika bayi akhirnya lahir, sang ayah mungkin merasa sangat lega dan juga gembira serta gugup. Sewaktu menyaksikan kelahiran bayi, perasaan komitmen dan cinta membanjir ke permukaan menghilangkan kekhwatiran bahwa sang ayah tidak akan pernah mempunyai keterikatan dengan bayinya. Sang ayah juga merasakan penghargan yang besar dan cinta kepada istri lebih dari pada sebelumnya. Pada waktu yang sama, merenungkan tanggung jawab untuk merawat baka ini salam 20 tahun ke depan dapat membuat sang ayah lemah.Pendekatan terbaik adalah menjadi ayah yang seaktif mungkin. Ayah akan mengenal bayinya dari permulaaan juga memungkinkan ayah berbagi pengalaman emonsional dengan istirnya. Begitu selurh keluarga berada di rumah, sang ayah dapat dan harus membantu memakaikan popok, memandikan dan membuat senang bayi. Kebalikan dengan sterotype kuno, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan eksklusif wanita. Tidak ada alasan mengapa seorang ayah tidak mampu melaksanakan pekerjaan sehari-hari mengurus rumah dan anak sebaik ibu. Umumnya ayah yang bersedia mengurus rumah tangga hanya untuk menyenangkan istrinya saja. Alangkah baiknya jika pekerjaan ini dikerjakan dengan perasaan bahwa sudah selayaknya menerima tanggung jawab di dalam rumah yaitu merawat anak dan rumah tangga sehari-hari.
C. SIBLING RIVALLY
Salah satu peristiwa kunci dalam kehidupan anak adalah kelahiran adik baru. Kehamilan itu sendiri merupkan waktu ideal bagi anak-anak untuk memahami darimana bayi berasal dan bagaimana bayi itu dilahirkan. Anak mungkin memiliki reaksi campuran terhadap adik baru, bergairalah karena mendapat teman bermain baru, takut akan ditelantarkan dan sering kecewa ketika sang adik tidak mau segera bermain. Akan tetapi persaingan sengit yang ditakutkan oleh banya orang tua bukan tidak dapat dihindari. Temperamen anak tertentu itu dan cara orang tua memperlakukan anak adalah faktor kunci yang menentukan seberapa besar persaigan yang terjadi di antara saudara kandung.
2.3 POST PARTUM BLUES / BABY BLUES
Baby Blues merupakan kondisi depresi pasca persalinan yang jika tidak ditangani akan berdampak pada perkembangan anak. Baby Blues Syndrome atau postpartum syndrome adalah kondisi yang dialami oleh hampir 50% perempuan yang baru melahirkan. Kondisi ini dapat terjadi sejak hari pertama setelah persalinan dan cenderung akan memburuk pada hari ketiga sampai kelima setelah persalinan. Baby Blues cenderung menyerang dalam rentang waktu 14 hari terhitung setelah persalinan. Sebuah kondisi depresi pascapersalinan, yang jika tidak ditangani, akanberdampak pada perkembangan anak. Dalam dekade terakhir ini, banyak peneliti dan klinisi yang memberi perhatian khusus pada gejala psikologis yang menyertai seorang wanita pasca salin, dan telah melaporkan beberapa angka kejadian dan berbagai faktor yang diduga mempunyai kaitan dengan gejala-gejala tersebut.
Pengertian Baby Blues / Post Partum Blues
Melahirkan adalah karunia terbesar bagi wanita dalam hidupnya. Sayangnya tak semua menganggap seperti itu, bahkan ada juga wanita yang mengalami depresi setelah melahirkan. Depresi ini dalam bahasa kedokterannya adalah depresi postpartum atau baby blues.
Baby Blues merupakan tekanan jiwa sesudah melahirkan, mungkin seorang ibu baru akan merasa benar – benar tidak berdaya dan merasa serba kurang mampu, tertindih oleh beban tanggung jawab terhadap bayi dan keluarganya, tidak bisa melakukan apapun untuk menghilangkan perasaan itu. Wanita yang menderita depresi postpartum adalah mereka yang secara sosial dan emosional merasa terasingkan atau mudah tegang dalam setiap kejadian hidupnya. merasa sedih atau tidak karuan dalam tiga hari melahirkan-hal yang biasa setelah melahirkan. Ibu baru seharusnya tidak memikirkan secara berlebihan perasaan ini karena biasanya akan hilang dalam 2 minggu. Baby blues adalah depresi pasca melahirkan yang paling ringan. Jangka waktunya sangat singkat, setelah melahirkan sampai sebulan. Jika lingkungan memahami kondisi yang dialami si ibu, sindrom ini relatif bisa sembuh dengan sendirinya.Tapi jika kondisi sekitarnya tidak mendukung malah membiarkan ibu mengalami kelelahan fisik dan psikis, sindrom bisa berlanjut ke postpartum depression.

Penyebab Baby Blues Penyebab kesedihan atau depresi sehabis melahirkan tidak jelas. Penurunan tingkat hormon yang tiba-tiba, terutama sekali estrogen dan progesterone, dapat berperan. Babby blues terjadi karena tubuh anda sedang mengadakan perubahan fisikal yang besar setelah ibu melahirkan. Baby blues terjadi karena kelelahan fisik setelah melahirkan dan masa penyesuaian mengurus bayi (bangun malam, kurang tidur, dll), yang dikombinasikan dengan faktor2 psikologis akibat perubahan fisik (masih gendut, rambut rontok, luka jahitan, dll) dan perubahan status menjadi seorang ibu.
Secara garis besar ada beberapa faktor penyebab babby blues ini, diantaranya:
Faktor Hormonal
Usai bersalin, kadar hormon kortisol (hormon pemicu stres) pada tubuh ibu naik hingga mendekati kadar orang yang sedang mengalami depresi. Di saat yang sama hormon laktogen dan prolaktin yang memicu produksi ASI sedang meningkat. Sementara pada saat yang sama kadar progesteron sangat rendah. Pertemuan kedua hormon ini akan menimbulkan keletihan fisik pada ibu dan memicu depresi.
Faktor Psikologis Berkurangnya perhatian keluarga, terutama suami karena semua perhatian tertuju pada anak yang baru lahir. Padahal usai persalinan si ibu yang merasa lelah dan sakit pascapersalinan membuat ibu membutuhkan perhatian. Kecewa terhadap penampilan fisik si kecil karena tidak sesuai dengan yang diinginkan juga bisa memicu baby blues.
Faktor Fisik Kelahan fisik karena aktivitas mengasuh bayi, menyusui, memandikan, mengganti popok, dan menimang sepanjang hari bahkan tak jarang di malam buta sangatlah menguras tenaga. Apalagi jika tidak ada bantuan dari suami atau anggota keluarga yang lain. Perubahan fisik setelah proses kelahiran dan memuncaknya gangguan mental selama 2 minggu pertama menunjukkan bahwa faktor fisik dihubungkan dengan kelahiran pertama merupakan faktor penting.
Faktor Sosial Si ibu merasa sulit menyesuaikan diri dengan peran baru sebagai ibu. Apalagi kini gaya hidupnya akan berubah dratis. Merasa dijauhi oleh lingkungan dan merasa akan terasa terikat terus pada si kecil.
Faktor konstitusional
Gangguan post partum berkaitan dengan status paritas adalah riwayat obstetri pasien yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin serta apakah ada komplikasi dari kehamilan dan persalinan sebelumnya dan terjadi lebih banyak pada wanita primipara. Wanita primipara lebih umum menderita blues karena setelah melahirkan wanita primipara berada dalam proses adaptasi, kalau dulu hanya memikirkan diri sendiri begitu bayi lahir jika ibu tidak paham perannya ia akan menjadi bingung sementara bayinya harus tetap dirawat.
Karakteristik ibu, yang meliputi :
• Faktor umur. Sebagian besar masyarakat percaya bahwa saat yang tepat bagi seseorang perempuan untuk melahirkan pada usia antara 20–30 tahun, dan hal ini mendukung masalah periode yang optimal bagi perawatan bayi oleh seorang ibu. Faktor usia perempuan yang bersangkutan saat kehamilan dan persalinan seringkali dikaitkan dengan kesiapan mental perempuan tersebut untuk menjadi seorang ibu.
• Faktor pengalaman. Pengalaman pada kenyataannya mempengaruhi baby blues ini. Umumnya lebih banyak terjadi pada primipara. Karna secara teori primipara masih banyak membutuhkan penyesuaian terhadap perubahan-perubahan signifikan yang terjadi pada dirinya.
• Faktor pendidikan. Perempuan yang berpendidikan tinggi menghadapi tekanan sosial dan konflik peran, antara tuntutan sebagai wanita karir atau menjadi ibu rumah tangga yang baik.
• Faktor selama proses persalinan. Hal ini mencakup lamanya persalinan, serta intervensi medis yang digunakan selama proses persalinan. Diduga semakin besar trauma fisik yang ditimbulkan pada saat persalinan, maka akan semakin besar pula trauma psikis yang muncul dan kemungkinan perempuan yang bersangkutan akan menghadapi depresi pascasalinan.
• Faktor dukungan sosial. Banyaknya kerabat yang membantu pada saat kehamilan, persalinan dan pascasalin, beban seorang ibu karena kehamilannya sedikit banyak berkurang.
Ada banyak hal yang dapat memicu terjadinya baby blues ini, seperti takut tidak bisa memberi ASI pada bayi, frustasi anak tidak mau tidur , kelelahan, migrain, marah-marah, sensitif, kesal pada suami,takut terjadi apa-apa dengan bayi , kelelahan pasca melahirkan, sakitnya akibat operasi, Suami yang tidak membantu, tidak mau mengerti perasaan istri, problem dengan Orangtua dan Mertua dan masih banyak lagi hal-hal lain yang sebetulnya tidak perlu dicemaskan. Faktor lain yang dianggap sebagai penyebab munculnya gejala ini adalah masa lalu ibu tersebut, yang mungkin mengalami penolakan dari orang tuanya atau orang tua yang overprotective, kecemasan yang tinggi terhadap perpisahan, dan ketidakpuasaan dalam pernikahan. Perempuan yang memiliki sejarah masalah emosional rentan terhadap gejala depresi ini, kepribadian dan variabel sikap selama masa kehamilan seperti kecemasan, kekerasan dan kontrol eksternal berhubungan dengan munculnya gejala depresi.
Karakteristik wanita yang berisiko mengalami depresi postpartum
Wanita yang mempunyai sejarah pernah mengalami depresi
Wanita yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis
Wanita yang kurang mendapatkan dukungan dari suami atau orang–orang terdekatnya selama hamil dan setelah melahirkan
Wanita yang jarang berkonsultasi dengan dokter selama masa kehamilannya misalnya kurang komunikasi dan informasi
Wanita yang mengalami komplikasi selama kehamilan.
Gejala Baby Blues
Beberapa gejala yang bisa diartikan sebagai Baby Blues yaitu menangis tanpa sebab, berkeringat dingin, sesak napas, sulit tidur, gelisah, tegang, bingung, merasa sendiri, sedih, tampak murung, sakit, marah, merasa bersalah dan tak berharga, punya pikiran negatif pada suami, dan kehilangan nafsu makan, dipenuhi oleh perasaan kesedihan, tidak memiliki tenaga atau sedikit saja, menjadi tidak tertarik dengan bayi anda atau menjadi terlalu memperhatikan dan kuatir terhadap bayinya, peningkatan berat badan yang disertai dengan makan berlebihan, penurunan berat badan yang disertai tidak mau makan, perasaan takut untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya, tidak dapat tidur atau terlalu berlebihan, terjadi perubahan emosi yang cepat, sebentar sedih dan tak lama kemudian senang, kesulitan berkonsentrasi, gangguan tidur, kehilangan minat pada seks, gelisah, nafsu makan berubah, dan merasa tidak puas atau putus asa.
Pada psychosis postpartum, depresi kemungkinan dikombinasi dengan berpikir bunuh diri atau melakukan kekerasan, halusinasi, atau berkelakuan aneh. Kadangkala postpartum psychosis termasuk sebuah hasrat untuk melukai bayi. Gejala-gejala prodromal meliputi sulit tidur, gelisah, lelah dan letih, semangat menurun, mudah tersinggung, dan sakit kepala, serta afek yang labil. Gangguan selanjutnya, curiga berlebihan, kebingungan, sulit konsentrasi, bicara meracau atau inkoheren, irasional, pikiran obsesif, menolak makan, agresif, dan impulsif.
Depresi postpartum mempunyai karakteristik yang spesifik antara lain :
Mimpi buruk. Biasanya terjadi sewaktu tidur REM. Karena mimpi – mimpi yang menakutkan, individu itu sering terbangun sehingga dapat mengakibatkan insomnia.
Insomnia. Biasanya timbul sebagai gejala suatu gangguan lain yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi atau gangguan emosi lain yang terjadi dalam hidup manusia.
Phobia. Rasa takut yang irasional terhadap sesuatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh pasien, biarpun diketahuinya bahwa hal itu irasional adanya.
Kecemasan. Ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya.
Meningkatnya sensitivitas. Periode pasca kelahiran meliputi banyak sekali penyesuaian diri dan pembiasaan diri. Bayi harus diurus, ibu harus pulih kembali dari persalinan anak, ibu harus belajar bagaimana merawat bayi, ibu perlu belajar merasa puas atau bahagia terhadap dirinya sendiri sebagai seorang ibu.
Perubahan mood. Mood yang tidak karuan seperti kurang nafsu makan, sedih ,murung, perasaan tidak berharga, mudah marah, kelelahan, insomnia, anorexia, merasa terganggu dengan perubahan fisik, sulit konsentrasi, melukai diri, anhedonia, menyalahkan diri, lemah dalam kehendak, tidak mempunyai harapan untuk masa depan, tidak mau berhubungan dengan orang lain. Di sisi lain kadang ibu jengkel dan sulit untuk mencintai bayinya yang tidak mau tidur dan menangis terus serta mengotori kain yang baru diganti. Hal ini menimbulkan kecemasan dan perasaan bersalah pada diri ibu walau jarang ditemui ibu yang benar–benar memusuhi bayinya.
Mengatasi Baby Blues
Ada beberapa cara mengatasi Baby Blues ini, seperti:
 Mintalah bantuan orang lain, misalnya kerabat atau teman untuk membantu mengurus si kecil.
 Ibu yang baru saja melahirkan sangat butuh istirahat dan tidur yang cukup. Lebih banyak istirahat di minggu-minggu dan bulan-bulan pertama setelah melahirkan. Hal ini untuk mencegah depresi dan memulihkan tenaga yang seolah terkuras habis.
 Hindari makanan manis serta makanan dan minuman yang mengandung kafein, karena kedua makanan ini berpotensi memperburuk depresi.
 Konsumsilah makanan yang bernutrisi agar kondisi tubuh cepat pulih, sehat dan segar.
 Cobalah berbagi rasa dengan suami atau orang terdekat lainnya, karena dukungan dari mereka bisa membantu mengurangi depresi.
 Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi
 Tidurlah ketika bayi tidur
 Berolahraga ringan
 Ikhlas dan tulus dgn peran baru sebagi ibu
 Tidak perfeksionis dlm hal mengurusi bayi dll
 Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan
 Bersikap fleksibel
 Kesempatan merawat bayi hanya datang 1 x
 Mencari kesibukan
Langkah-langkah yang dapat dilakukan bila terserang baby blues.
Langkah pertama Sebelum si bayi lahir, waspadalah dan kenalilah gejala-gejala baby-blues seperti di atas. Hal ini sangat berguna dalam menghadapi ’sambaran’ si baby blues. Misalnya, ketika perasaan kita kacau-balau setelah melahirkan, pengetahuan tentang gejala baby-blues akan membuat kita berpikir, “Oh, ini normal, dan akan hilang seminggu-dua minggu lagi.”
Langkah kedua Lepaskan saja emosi, tidak usah ditahan. Mau menangis atau marah, dikeluarkan saja. Sadarilah, bahwa kondisi ini normal dan dialami oleh hampir semua ibu, jadi tidak perlu ada rasa bersalah, apalagi merasa ”Aku ini bukan ibu yang baik”. Di sini pemahaman suami sangat diperlukan, jadi sebelum melahirkan, perkenalkan apa itu baby-blues pada suami.
Langkah ketiga Usahakan tidur sebanyak mungkin (bahkan kalau ada kesempatan 10 menit pun, gunakan untuk tidur). Namun, supaya si ibu bisa tidur enak, ada hal-hal yang perlu dilakukan. Jangan pedulikan keadaan rumah yang berantakan, cucian yang menumpuk, dll. Memikirkan hal itu malah membuat resah dan susah tidur. Yang penting tidur dahulu, urusan lain menyusul.
Langkah keempat Segarkan diri, antara lain dengan cara mandi berlama-lama (tentu saja, ketika ada si ayah yang menunggui bayi). Dandan yang cantik (melihat diri di cermin dan menatap penampilan lusuh dan lesu diri sendiri pasca melahirkan sangat mungkin akan menambah stress). Telponlah ibu, kakak, adik, atau teman-teman (jadi sebelum melahirkan, anggaran telepon pasti akan membengkak). Berbicara dengan orang lain adalah salah satu obat terbaik dalam mengatasi baby-blues.
Langkah Kelima Sadarilah bahwa badai pasti berlalu. Rasa sakit setelah melahirkan pasti akan sembuh, rasa sakit ketika awal-awal memberi ASI pasti akan hilang, teror tangis bayi lambat laun akan berubah menjadi ocehan dan tawa yang menggemaskan, bayi yang “menjengkelkan” (karena menangis dan minum ASI terus) beberapa bulan lagi akan menjadi bayi mungil yang menakjubkan, dst.
Setiap kali merasa susah hati, ingatlah betapa beruntungnya kita karena telah dikaruniai anak. Ucapkan rasa syukur sebanyak-banyaknya untuk mengingat bahwa rasa sakit, perasaan tak karuan, lelah, dan lain-lain, tidak ada apa-apanya dengan nikmat karunia anak yang sehat dan lucu.
Sedikit tips tentang mengatasi baby blues syndrome:
Jika telanjur mengalami baby blues syndrome, usahakan untuk tetap menjaga emosi, jangan terlalu labil (karena ditakutkan bisa mempengaruhi ASI).
Jika emosi sangat labil, mintalah dukungan emosi dari suami/orang tua/mertua, siapa saja yg saat itu sedang berada dekat kita, karena dukungan emosi (support) sangat berarti bagi kita yang sedang terkena baby blues syndrome
Jika saat baby blues syndrome, tiba2 kita merasa tidak mau merawat bayi kita atau bahkan membenci bayi kita (karena kadang ada yg memiliki masalah seperti ini), usahakan selalu ada orang ketiga di antara kita dan bayi kita utk menghindari hal2 yg tidak diinginkan. Dan jika ini yg terjadi, cobalah utk menghubungi psikiater
Cari teman atau saudara yang bisa diajak curhat
Cari orang yang bisa membantu Anda untuk merawat bayi atau mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Hal ini akan membantu Anda untuk bisa beristirahat.
Luangkan waktu untuk melakukan sesuatu bagi diri Anda sendiri, meskipun itu hanya berlangsung selama 15-20 menit/hari. Misalnya baca buku, jalan-jalan sekitar kompleks perumahan, mandi spa atau memanjakan diri di salon.
Keep a diary. Setiap hari, luapkan emosi dan perasaan Anda. Ini adalah salah satu cara untuk mengeluarkan semua perasaan dan rasa frustasi Anda. So, buat para ibu yang termasuk Blogger sejati, it shouldn’t be an issue, yes?
It’s okay to feel overwhelmed. Kelahiran seorang bayi membawa banyak perubahan dan menjadi orangtua memang bukan suatu perkara yang mudah.
You’re not expected to be a ‘supermom’. Jujurlah pada diri Anda sendiri seberapa banyak yang bisa Anda lakukan dan jangan pernah ragu untuk minta bantuan kepada orang lain saat Anda membutuhkannya.
Pengobatan Jika wanita tersebut sedang sedih, dukungan dari anggota keluarga dan teman-teman biasanya semuanya itu dibutuhkan. Tetapi bila depresi terdiagnosa, bantuan professional juga diperlukan. Biasanya, kombinasi konseling dan antidepresan dianjurkan. Seorang wanita yang mengalami postpartum psychosis bisa memerlukan rawat inap, terutama di ruangan yang memperbolehkan bayi tersebut tinggal bersama ibunya. Wanita tersebut membutuhkan obat-obatan antipsychotic sebaik antidepresan. Seorang wanita yang menyusui harus berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan berbagai obat-obatan ini untuk memastikan kapan saatnya dia bisa melanjutkan untuk menyusui. Pengobatan apa yang paling tepat untuk baby blues hampir mirip dengan pengobatan yang dilakukan terhadap kasus-kasus depresi pada umumnya,meliputi
Support
Konseling (talk therapy)
Obat-obatan akan membantu sesuai anjuran dokter.
Baby Blues Juga Menyerang Ayah

Depresi pasca melahirkan atau baby blues ternyata bukan hanya monopoli kaum ibu saja. Para ayah pun berpotensi mengalami gejala depresi tersebut. Demikian menurut sebuah riset terhadap 5.000 pasangan yang baru memiliki anak. Dari ribuan orangtua tersebut, ditemukan 14 persen ibu dan 10 persen ayah yang mengalami gejala-gejala depresi pasca melahirkan dari yang ringan sampai yang berat. Depresi pasca melahirkan bisa terjadi kapan saja, sesaat setelah melahirkan, hingga satu tahun kemudian. Gejala depresi yang umum dialami para ibu pascamelahirkan antara lain perasaan kosong yang luar biasa, diikuti dengan perasaan tidak berguna, tidak berharga, kehilangan nafsu makan, ketakukan bayinya akan disakiti, hingga rasa bersalah yang berlebihan. Kendati para ahli sepakat bahwa perubahan hormon menjadi penyebab munculnya gejala-gejala depresi, namun adanya bukti bahwa para ayah juga bisa mengalaminya, memberikan pandangan baru terhadap penyebab baby blues. Beberapa faktor lain yang diduga menimbulkan munculnya keadaan tersebut misalnya, pernah mengalami depresi sebelumnya, kelelahan, perkawinan kurang harmonis, kurang dukungan dari keluarga, hingga masalah keuangan. Kelahiran seorang bayi memang membawa perubahan, tak hanya untuk si ibu namun juga para ayah. Karenanya, begitu diketahui muncul gejala depresi, ceritakan pada orang-orang terdekat, juga kepada dokter untuk konsultasi yang dibutuhkan.
Dampak Baby Blues
Baby Blues yang diderita para ibu baru ini akan berdampak pada bayi, karena stres serta sikap tidak tulus ibu yang terus-menerus bisa berdampak negatif bagi bayi, diantaranya;
Bayi akan tumbuh menjadi anak yang mudah menangis, cenderung rewel, pencemas sekaligus pemurung
Si anak cenderung mudah sakit.
Gangguan perilaku anak pada usia 3 tahun
Defisit kognitif anak pada usia 4 tahun
Gangguan dalam hubungan ibu dan anak
Gangguan dalam hubungan interpersonal suami-istri dan terganggunya hubungan antar anggota keluarga yang mempengaruhi kohesi dalam keluarga.

One thought on “Psikologi

  1. Pingback: WANITA PADA SAAT PERSALINAN | beacreativemidwive

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s