SweeT EnemY

Memang menyenangkan kalau sejenak bisa melupakan setumpuk buku, tugas-tugas, ataupun pelajaran dari para guru yang selalu berambisi menebar kesuksesan pada target mereka, yaitu murid-murid sejati. Pemandangan itulah yang terlihat sekarang. Semuanya tengah menikmati waktu istirahat. Lalu lalang bebas di koridor sekolah, berlari menuju kantin, tertawa bebas, sibuk bergosip, main basket di lapangan ataupun cuma duduk-duduk sambil mendengarkan curhat temannya. Tapi lain dengan gadis cantik sang aset sekolah, Vio. Dia benar-benar tak peduli, malah semakin asik membalik-balikkan buku yang ada di tangannya.
”Nggak ke kantin vi??”,tanya Dira yang berjalan menuju pintu.
”Lagi males, dari tadi nungguin si Citra gak datang-datang!!”, jawab Vio.
”Gue duluan ya, moga tambah pintar!!!”,sorak Dira berlari meninggalkan Vio.
”Yoi”, balas vio.
Kemudian seakan direncanakan, saat Dira keluar lansung masuk seorang cowok yang berjalan menghampiri Vio.
”Coba liat, baca apaan sih lo?!”,sapa cowok itu sambil merampas buku yang ada di tangan Vio.
“Ih..resek ya lo, gak liat orang lagi baca, seenaknya aja maen rampas.”, balas Vio sambil merebut kembali buku itu dari tangan Ben.
“Eits,,, tunggu dulu, gue mau lihat seberapa penting arti buku bulshit ini buat lo..SMA itu indah choy..”,balas Ben sambil menjatuhkan buku itu di atas meja Vio.
“Eh..lo jangan kurang ajar ya!!..suka-suka gue dong mau ngapain.. males ngomong sama orang resek kayak lo..”,balas Vio smbil memukul meja dan bangkit dari tempat duduknya.”Satu lagi, lo pikir gue nggak bahagia disini..?! gue punya banyak temen, gue punya prestasi, gue punya jabatan, gue punya gaya, apa lagi?”,Vio semakin emosi.
”Lo mau tau apa yang gak lo punya??..CINTA!!!”,balas Ben sambil berdiri tepat di hadapan Vio..”Gue bingung banget sama lo, setiap cowok yang naksir sama lo, selalu lo jauhin, bahkan lo musuhin. Kenapa sih lo??”,Ben menambah ucapannya.
”Karna gue emang gak mau jatuh cinta sebelum dapetin mimpi gue!!! PUAS LO!!”,jawab Vio sambil berjalan meninggalkan Ben.
”Tunggu Vi,, ou jadi gitu, Violin Si sempurna gak bakal jatuh cinta. Ok! Ok! Gue berani taruhan kalo lo bakal ralat ucapan lo barusan..”,balas Ben sambil mengejar Vio.
”Heh..mau lo apa sih, ngapain lo buntutin gue..udah resek, suka cari gara-gara ..ih..”,Vio marah sambil membalikkan badannya ke arah Ben.
”Sabar dong..!! Gue mau…”,sejenak Ben berfikir.”Gue mau kita taruhan, kalau sampai lo jatuh cinta atau pacaran sampai lulus nanti, lo mesti lupain obsesi lo buat jadi spesialis jantung!! Gimana??”,tanya Ben licik.
”Gila..emang lo siapa pake ngatur. Mimpi gue dari kecil hancur cuma gara-gara hal konyol, kenapa gue mesti setuju sama lo??”,jawab Vio.
”Jadi lo takut! Takut karna lo bakalan jatuh cinta..”,Ben menantang.
Vio terdiam, emosinya mereda, sejenak mencoba berfikir atas ucapan Ben tadi.”Ok, gue setuju, tapi gue juga punya syarat buat lo.”,Vio bersuara.
”Apa?”,tanya Ben.
”Lo mesti dapetin cinta sejati, kalo gak berhasil ampe lulus nanti, say good bye ja buat mobil jelek lo itu.”
”Bodoh!! Di Indonesia ini cuma tiga orang yang punya, dan salah satunya itu gue. Dasar cupu!!”
”Biarin!! Walaupun lo yang punya satu-satunya di dunia ini, sekali jelek tetap aja jelek. . gimana deal kan??”, tanya Vio dengan gaya angkuh.
”Pintar juga lo.”, sejenak Ben berfikir.
”Lo takut kan???”
“Ok..Siapa takut, gue selalu jadi pemenang. Berarti intinya LO NGGAK BOLEH JATUH CINTA dan GUE MESTI JATUH CINTA..mm boleh, nanti gue bakal bikin bukti otentiknya biar lo gak curang, gue puas, sekarang lo siap siap aja kalah”,” Da.. Violin ”,ucap Ben sambil mengacak rambut Vio dan berlari meninggalkannya.
Ben emang cowok paling nyebelin bagi Vio, udah playboy, resek, dan gak pernah mau liat orang menang. Sebenarnya dulu mereka akur-akur aja, tapi terakir Vio tau kalau Ben itu suka mainin cewek, katanya sih biar bisa dapetin cinta sejati. Vio bener-bener gak suka itu. Sampai suatu hari tanpa sengaja Vio mempermalukan Ben di depan cewek-cewek yang pernah jadi pacarnya. Ben benar-benar marah. Sejak saat itu keduanya selalu bertengkar. Vio nggak merasa bersalah karna dia fikir itu pantas buat playboy seperti Ben. Anehnya setelah kejadian itu Ben seperti berubah, emang sih masih playboy, tapi nggak parah banget, palingan cuma di jadiin TTM, gak sampai pacaran. Malahan cewek-cewek yang pengen deket sama Ben. Ben bersumpah kalau dia bakal ngusik kehidupan Vio sampai dia nyerah dan ngakuin kalau seorang Ben nggak pantas dipermalukan. Ben berusaha mencari kekurangan Vio untuk balas dendam. Nyatanya Vio memang sempurna, dan Ben tak suka itu. Vio juga nggak seperti cewek-cewek lain yang memuja cocok-cowok ganteng yang ada di sekitar mereka. Itulah yang membuat Ben semakin penasaran dan terus mengganggu Vio.
^-^
Senyum bahagia menghiasi wajah capek anak-anak satu sekolahan, setelah mendengar bunyi bel, tanda berakirnya penderitaan mereka. Suasana yang tadi lesu seakan tersihir dan berubah menjadi semangat kembali. Semuanya berlomba-lomba menuju gerbang untuk mendapatkan kebebasan atas delapan jam yang melelahkan tadi. Begitupun Vio dengan cepat membereskan buku dan berjalan meninggalkan kelasnya.
”Vio…”,terdengar suara yang memanggilnya dari belakang, Vio pun menoleh.
”Elo Cit, cepetan!!”,seru Vio.
“Kemana aja sih lo tadi, gue disuruh kekelas lo, tapi lo malah keluar..”, gerutu Citra.
“Sori..sori.. tadi tu gue abis berantem sama si Ben, gue emosi trus pergi keluar deh.”,jelas Vio.
“Lo menang gak??”, tanya Citra antusias.
“Ye.. dasar, emang lo pikir gue tonjok-tonjokan, ya nggak lah..”,jawab Vio.
“Kali aja.. eh kemana nih sekarang??”, tanya Citra.
”Cari makan aja yuk, lapar banget, dari tadi belum makan.. ”,ajak Vio.
”Iya gue juga, yuk!!”
Vio dan Citra emang paling dekat, sayangnya sekarang beda kelas. Vio XI ia 1, sedangkan citra Ia 5. tapi mereka tetap kompak, malah makin akrab.
^-^
”Mama.. Vio pulang nih.. Ma..”,teriak Vio saat memasuki rumahnya.
“Eh si non udah pulang, ibuk belum pulang, katanya hari ini lembur..”,jelas bibi kesayangan Vio itu.
“Ya udah deh bi, Vio ke atas dulu,, oh ya bibi nggak usah siapin makanan, Vio udah makan tadi di luar, bibi istirahat aja.”,berkata seperti sedang menasehati orang yang lebih kecil darinya.
“Aduh si non .. udah cantik, pintar, baik hati lagi.”,bibi memuji.
Vio pun berjalan menuju kamarnya, kelihatan capek banget. Secepat kilat ia mengganti seragamnya dan langsung menghempaskan badan di atas tempat tidur. Menerawang seperti memikirkan sesuatu. Di kamar inilah Vio selalu mengungkapkan keluh kesahnya. Kamar yang juga menjadi tempat Vio berekspresi. Berkuran 6×5 meter dan dibagi menjadi dua bagian dengan tirai transparan berwarna pink. Bagian pertama dekat pintu masuk dibalut dengan nuansa siang. Dindingnya dilukis dengan gambar pemandangan laut yang sangat indah, bagian atas dibikin awan-awan putih tiga dimensi. Trus sudut-sudutnya bundar, ada pohon kecil dari kapas dan gabus, seperti pohon yang ditutupi salju. Di tengah terdapat 3 meja kecil pakai payung transparan yang besar. Seolah-olah jadi tempat peristirahatan di tepi pantai. Lalu ada burung-burung terbang yang digantungkan ke langit-langit kamarnya. Seperti sungguhan.
Bagian kedua dekat pintu kamar mandi dibuat seperti pemandangan malam. Di sudut kanan terdapat tempat tidur berwarna putih. Lemarinya dihiasi seperti susunan perumahan. Dindingnya dicat hitam plus bintang-bintang putih yang menyatu ke langit-langit. Seolah-olah pemandangan malam dari atas bukit. Bintangnya menyala kalau dimatiin lampu. Terakir, di belakang pintu masuk ada foto gede dengan bingkai tebal yang dikelilingi lampu. Yaitu foto Violin bersama papa mama dan kakaknya. Menjadi benda paling berharga dan selalu jadi penyemangat.
”Papa… dua tahun lagi menuju cita-cita Vio…demi papa…I love you.” ,Vio berkata lirih sambil terus memandangi foto papanya.
^-^
”Pagi ini ngapain ya.”
”Hari minggu nggak boleh ngebosenin..”
”Belajar?? udah semalam.”
”Keluar?? Males..”
”Ngapain yah??”
Vio terus bicara sendiri sambil memikirkan hal yang akan ia lakukan.
”Sms Citra aja deh!!”
[ciT k hUm gw dong!!Ada yg mau gw ceritain..cpT yei..]
—Vio—
[oK!!! Kbtulan bgt,gw lg bosn…wait me hneY..]
—Citra—
”Vio ayo turun! Sarapan dulu!”,suara mama Vio terdengar pelan.
“Iya ma.. Vio datang!”
Vio pun berlari menuruni tangga dan menuju meja makan.
“Enak nih…nasi goreng keju..mm..”,seru Vio, dan mulai melahap sarapannya itu.
“Pasti dong! Buatan mama..”,jawab mama Vio dengan bangga.
”Ma!! Menurut mama, bagusnya Vio ntar kuliahnya di mana, di sini aja atau di luar?”,tanya Vio memulai percakapan di meja makan itu.
”Mama bangga sama Vio, benar-benar serius. Kalau mama sih terserah Vionya aja. Tapi mendingan disini aja deh, Vi. Mama nggak mau jauh-jauh dari Vio.. ”,jawab mama.
”Iya Vio juga nggak mau jauh-jauh dari mama. Vio tu sayaaaaaang baget sama mama, Vio akan belajar terus biar bisa masuk FK favorit.”
”Mama yakin kok Vio bisa. Kan Vio yang paling pintar.. ”,tutur mama Vio sambil tersenyum menatap anak kesayangannya itu.
Satu lagi kebanggaan Vio. Yaitu sang mama tercinta. Mama yang benar-benar kuat. Jadi single parent plus wanita karir. Walaupun sangat sibuk, tapi tak pernah berhenti menyayangi Vio. Karna sejak papanya meninggal mamalah yang meghandle semuanya.
”Mama berangkat dulu ya Vi.”
”Hati-hati ya ma, muach..”
“Nggak keluar non , kan hari minggu??”,tanya si bibi yang sedang berdiri di samping Vio.
”Lagi males!! Oh ya bi, ntar kalau teman Vio datang, langsung disuruh ke atas aja, Vio tungguin di kamar.”
”Ok boss!!”,jawab si bibi sambil mengacungkan jempolnya.
^-^
”Lima panggilan tak terjawab, siapa nih?
Hah, Ben. Ngapain lagi tu anak.
Penting nggak ya?? Apa gue telfon balik aja….?
Iya deh..”
– – –
“Sori tadi gue lagi makan. Ada perlu apa?? Cepetan.”
”Perjanjian kemaren udah gue print, sekarang lo mesti tanda tangan, gue tunggu lo di La Brea kafe, lo ajak satu orang saksi dari pihak lo, ok!!”
”Eh.. nggak mau, nggak mau. Kok lo sih yang mutusin, gue lagi males keluar, besok-besok deh…”
”Lo ngindar ya..takut?”
”Enak aja, siapa yang takut…..mm kalo gitu lo ke rumah gue aja, kebetulan Citra juga kesini”
”Ok, pas banget gue lagi di jalan deket….”
– – –
Vio menutup telfonnya..
^-^
”Cari siapa den?”,tanya bibi.
”Vionya ada?”
”O teman non Vio…Ada..ada.. Tadi kata non Vio kalau ada temannya langsung disuruh ke atas aja. Silakan den!, jelas bibi.
”Makasih bi..”
Vio yang lagi nulis di meja belajar cantiknya, tiba-tiba tersentak saat ada yang mengetuk pintu kamarnya.
”Akirnya datang juga tu anak..”,”Masuk aja Cit”,teriak Vio.
Ben dan temannya pun masuk, matanya menerawang menangkap semua keindahan kamar Vio, kemudian matanya tertuju pada Vio yang sedang duduk membelakanginya. Sesaat kemudian Vio membalikkan badannya ke arah pintu, dan benar-benar kaget melihat dua cowok yang tersenyum manis ke arahnya.
”Aaa………………………….aa..”,Vio berteriak dan kaget setengah mati, diikuti aksi cekatan melempar bolpoin yang di pegangnya ke arah Ben.
”Heh.. keluar!! Ngapain lo masuk kamar gue, dasar! Nggak tau aturan. Lo mau ngintipin gue ya.”,” Keluar..keluar..”,gerutu Vio sambil mendorong mereka keluar.
”Eh….kok lo yang marah sih. Bibi lo yang nyuruh gue ke atas, trus lo sendiri yang nyuruh gue masuk. Siapa juga yang mau ngintipin.”,Ben menjawab dengan cepat.
“gue pikir tadi tu Citra, makanya gue suruh masuk, lagian lo datang nggak bilang-bilang, cepat banget sih..”,sela Vio.
“Salah lo sendiri, gue mau bilang udah di depan, lo malah tutup telfonnya.”,jawab Ben kesal.
“iya..gue lupa, tapi tetap lo yang salah.”
Vio terus adu mulut walaupun dengan posisi cuma kepala yang nongol keluar dan badannya sembunyi di balik pintu.
“Udah….udah.. jangan bertengkar terus.. kita minta maaf.”,jawab suara yang berasal dari sebelah Ben.
”Eh,,, ada teman lo Ben.. ya udah, tunggu di luar bentar, gue ganti baju dulu…awas Ben kalau lo ngintip.”
Praak…Vio pun menutup pintu kamarnya.
Gila aja, gue kan malu Cuma pake hotpen sama baju yang seksi gini… lagian si Citra pake lama lagi. Kalo tadi dia udah datang kan gue bisa langsung ganti baju..urgh.. (batin Vio).
Dengan cepat Vio mengganti baju, nyisir rambutnya yang lebih dari sebahu itu, dan buru-buru keluar menuju ruang tamu atas yang ada di depan kamarnya.
“Kapan datang Cit??”,tanya Vio sambil merapat ke sebelah Citra yang sudah duduk manis di hadapan Ben dan temannya.
”Barusan, trus gue lihat Ben sama temannya ikut nimbrung deh..”,jawab Citra dan mengedipkan mata ke arah Vio.
”Teman lo Ben?”,tanya Vio.
“Bion, sepupunya Ben.”,jawab cowok itu dengan cepat tanpa membiarkan Ben menjawab terlebih dahulu seraya mengulurkan tangannya ke depan Vio.
”O sepupunya Ben..gue Vio…Violin. Sori ya tadi udah marah-marah, kaget banget.”,jawab Vio sambil membalas jabatan tangan Bion.
“Ye .. kaget nggak kaget kan lo emang marah terus. ”,sela Ben dengan semangat.
”Iya gue pemarah.. Kalau sama LO!!! Resek..”,Vio kesal.
“Biarin,,, gue resek Cuma sama lo doang kok. Lo nggak liat fans gue tu banyak banget, nah lo!!”,balas Ben.
“BODO!!”, sahut Vio.
“Udah Vi.. berantem terus!! Ben ngapain kesini?? O iya..Lo mau cerita apa tadi?”,Tanya Citra menghentikan perdebatan mereka.
“Bentar ya , kita ngambil minum dulu.”,kata Vio sambil menarik tangan citra dan berjalan menuruni tangga.
“Ih..Vi, jangan cepat-cepat dong, kalau gue jatuh lo mau tanggung jawab.”,Citra protes.
”Lo jangan bawel dong! Mau gue ceritain nggak??”,sahut Vio.
Vio pun mulai menceritakan kejadian di sekolah kemaren. Citra menjadi pendengar setia. Tentu saja dengan tangan yang sibuk bekerja membuat minuman buat tamunya itu.
”Hah Vi!! Gila..!! lo nekat banget.. gimana coba kalau lo kalah!! Lo rela kehilangan cita-cita lo itu. Nggak ada yang bisa tahan dengan cinta. Dua taun Vi. Siapa aja bisa jatuh cinta.”,tukas Citra antusias.
”Lo tenang aja , gue pasti bisa kok, demi bokap gue.”,jawab Vio pelan.
“Lagian sih..Ben lo ladenin..dia kan emang selalu pengen ngejatuhin lo. Trus dia juga paling pinter ngerayu cewek. Bukan masalah dong bagi dia buat dapetin cinta.”,balas Citra.
”Belum tentu Cit.. mana ada playboy punya cinta sejati…udah yuk ke atas.”,ajak Vio.
”Kita liat aja ntar.”,sahut Citra mengakiri pembicaraan mereka.
^-^
“Di minum dong!!”,seru Vio.
”Wuih..gila.. ini kertas perjanjian atau kerajinan tangan sih?? Keren abiss.. ya nggak Vi?”,puji Citra saat memegang kertas perjanjian yang dibikin Ben.
”Nggak ah..biasa aja..”,jawab Vio ketus.
”Bilang aja kalau lo itu nggak mau ngakuin kehebatan gue?!!”,balas Ben bangga.
Emang bagus sih. Ben bikin nuansa etnik gitu, ada hiasan huruf-huruf timbulnya plus ornamen-ornamen unik. Dibuat dua rangkap lagi.
”Jadi deal kan. Bion saksi pihak gue dan Citra dari pihak lo. Coba lo baca lagi, trus tanda tangan di sini.”,jelas Ben.
“Ok!! Saksi bacakan!!”,seru Vio.
Bion dan Citra pun membaca dengan serentak. Diikuti dengan penandatanganan oleh saksi dan kedua belah pihak bersangkutan.

SURAT PERJANJIAN TARUHAN
Ben VS Vio

Di bawah ini yang bertanda tangan
Nama:Ben Antonio Nama:Violin Ferdinand
Umur:16 tahun Umur:16 tahun
Menyatakan
Sepakat dan setuju atas 2 poin perjanjian berikut:
1. Jika Vio jatuh cinta dan pacaran dalam 2th ini,
maka Vio harus melupakan cita-citanya.
2. Jika Ben nggak bisa mendapatkan cinta sejati
dalam 2th ini, maka Ben harus melepaskan
mobil modifikasinya.
Demikian perjanjian ini di buat dalam kesadaran
dan tanpa paksaan.
Aug, 8th 2oo8
Pihak vs:

(Ben) (Vio)
Saksi-saksi:

(Citra) (Bion)
nb: Curang berarti kalah.

”Selesai!!!”
”Tapi kayaknya ada yang kurang deh Bi.. ”,seru Citra tiba-tiba.
”Apaan? Udah semua kok.”,Bion bingung.
”Kayaknya mesti pake foto deh. Biar lebih jelas.”,jawab Citra.
“Benar juga!! Mm..sini dompet lo Ben!”, pinta Bion seraya merampas dompet Ben dari saku belakangnya dan dangan cepat mengeluarkan sebuah foto dari dalamnya.
“Apa-apaan nih.”, Ben protes.
“Kalian nurut aja”, tukas Citra yang kemudian berlari ke kamar Vio dan keluar lagi dengan membawa sekotak lem dan foto Vio.
Dengan cepat kedua foto itu tertempel di masing-masing kertas.
“Nah yang ada foto Vio buat Ben, yang ada foto Ben buat Vio.”,”Komplit deh.”,seru Citra sambil memberikannya ke tangan Vio dan Ben.
Vio yang tadi terdiam dan melongo melihat aksi cepat Citra akirnya bicara.
“Nggak nggak nggak, nggak usah pake foto. Ntar gue disantet lagi. nggak mau! ”,protes Vio.
“Ih..Yang ada lo yang nyantet gue. Foto gue buat gue n foto dia buat dia. ”,jawab Ben sambil menukar kertas yang ada ditangannya dengan Vio.
“Ya udah.. kalau nggak mau gue batal aja jadi saksi!!”,ancam Citra.
“Gue juga.”,tambah Bion.
“Lagian foto aja kok ribet banget. Gimana? Setuju?”,tanya Citra.
”Iya..”, jawab Vio dan Ben serentak dan menukar kembali seperti perintah Citra.
“Lo siap-siap aja kalah… dan jaga baik-baik tu kertas..gue pulang dulu.”,cela Ben.
“KePeDean lo..udah sana pergi.”,Vio tak mau kalah.
”Kita pulang dulu ya Vi..good luck aja.”,sambung Bion ramah.
“Ok!!”, jawab Vio. “Lo gimana Cit?? Mau pulang juga? Sekalian aja bareng Bion.”, usul Vio.
”Boleh juga..”
Vio pun mengantarkan mereka ke depan pintu. Mobil Ben melaju menjauhi rumah Vio, meredam semua suara berisik adu mulut Ben vs Vio selama di rumah tadi.
Sepi juga. . .
^-^
”Bi.. Vio keluar bentar ya, bilagin sama mama..”, sorak Vio sambil berlari ke garasi mobil.
”Mau kemana non, udah sore gini??”, Tanya bibi mengejar Vio.
”Mau ke toko buku, ada yang mesti Vio cari.. dah bibi.”
“Hati-hati non..”, teriak Bibi.
Mobil Vio melaju menuju toko buku yang ada di ujung komplek perumahan Vio. Persisnya di pinggir jalan raya. Entah kenapa tiba-tiba wajah Bion terlintas di fikirannya, tapi dengan cepat Vio menepis semua itu. Lagian siapa sih yang nggak terkesan sama cowok ganteng, ramah dan baik pula.
Sepuluh menit berlalu, Viopun sampai di tempat yang dituju. Sebenarnya jarak toko itu kerumah Vio nggak terlalu jauh. Yang bikin lama jalan muter sama polisi tidurnya. Jadi nggak bisa ngebut deh.
”Gue mesti dapat buku itu sekarang, kalau nggak bisa kacau nih!!”,batin Vio.
Dengan cekatan Vio mencari buku yang ia butuhkan, buku penunjang buat karya tulisnya. Menelusuri setiap etalase dan rak-rak buku yang ada di toko itu.
”Yaps.. ini dia, Genetika dan Kejanggalannya,,akirnya dapat juga. ”,ucap Vio puas.
Vio berjalan menuju kasir, ia terus tersenyum, mungkin senyum kepuasan karna berhasil mendapatkan apa yang ia cari. Buku itu lumayan langka, di dalamnya berisi tentang ulasan plus penemuan dan fakta-fakta dari tokoh genetika dunia. Vio tersentak saat ada suara yang memenggilnya dari belakang, dengan reflek Vio menolehkan kepalannya.
”Bion??? Ngapain??”, tanya Vio kaget.
”Lagi cari bacaan, bosan di rumah.”, jawab Bion pelan.
”Udah lama?”, tanya Vio lagi.
“Lumayan lah, udah ngelilingin semuanya, trus gue liat cewek mirip Vio, gue buntutin, eh ternyata benar, emang Vio.”, jelas Bion.
“Lo lagi cari apa Vi, buru-buru banget kayaknya?”
”Oh, ini buku buat sumber karya tulis.”, jawab Vio sambil memperlihatkan buku yang sedang di pegangnya.
”Lo rajin banget ya, seperti yang gue duga.”, Ben memuji.
”Biasa aja kali. Kan demi tugas.”, balas Vio.
”Gue masih belum ngerti deh Vi ,tentang taruhan lo sama Ben , yang lo nggak boleh jatuh cinta itu”, Bion mengalihkan pembicaraan.
”Emang Ben nggak cerita? Cuma masalah prinsip aja.”
Bion mengangguk. Walau sebenarnya ia masih belum mengerti.
”Gue mau bayar dulu, lupain aja, nggak penting kok!! ”, jawab Vio tergesa-gesa.
Bion menatap heran.
”Sory ya Bi gue duluan.. mau nyelesain tugas dulu. Kapan-kapan kita sambung lagi.”, Vio membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Bion.
”Ok! Kapan-kapan ya Vi.”, sahut Bion dengan senyum lebar.
Bodoh!! Kenapa tadi gue mesti kayak gitu. Kan nggak enak sama Bion.. Lagian dia juga kenapa ngungkit-ngungkit itu. Emang nggak ngerti atau pura-pura nggak ngerti ya. Atau jangan-jangan Ben manipulasi gue.. ah.. bodo.!! Biarin aja ntar dia juga tau sendiri. Batin Vio.
^-^
Seperti biasa Vio memulai rutinitasnya setiap malam, duduk manis di hadapan setumpuk buku dan kertas-kertas yang selalu menjadi saksi kepintarannya. Melakukan semua dengan sepenuh hati, selalu berusaha menghindari hal yang akan mengganggu konsentrasinya, walaupun terkadang menyakitkan. Tapi untuk mendapatkan sesuatu memang perlu pengorbanan dan perjuangan. Kata-kata sederhana inilah yang selalu menjadi motifasi bagi Vio.
To be continue

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s