Emboli Air Ketuban atau Emboli Cairan Amnion (ECA)

image

1. Pengertian

Emboli adalah penyumbatan pembuluh darah yang terjadi di berbagai bagian tubuh oleh embolus (zat asing) yang di bawa ke tempat tersebut oleh aliran darah.

Emboli air ketuban atau emboli cairan amnion adalah masuknya cairan ketuban beserta komponennya ke dalam sirkulasi darah ibu. Yang dimaksud komponen disini ialah unsur-unsur yang terdapat di air ketuban, seperti lapisan kulit janin yang terlepas, rambut janin, lapisan lemak janin, dan musin/cairan kental.

Emboli cairan ketuban jarang dijumpai, kemungkinan banyak kasus tidak terdiagnosa , diagnosa yang dibuat adalah Shock obstetric , perdarahan post partum atau edema pulmoner akut.

2. Faktor Resiko

1. Meningkatnya usia ibu
2. Multiparitas (banyak anak)
3. Adanya mekoneum
4. Laserasi serviks
5. Kematian janin dalam kandungan
6. Kontraksi yang terlalu kuat
7. Persalinan singkat
8. Plasenta akreta
9. Air ketuban yang banyak
10. Robeknya rahim
11. Adanya riwayat alergi atau atopi pada ibu
12. Adanya infeksi pada selaput ketuban
13. Bayi besar


3. Patofisiologi

Cotton pada tahun 1996, mengemukakan teori untuk menjelaskan kerusakan yang terjadi dalam kasus emboli air ketuban. Secara patofisiologis, terjadi dua fase :
a. Fase pertama

Air ketuban beserta komponennya memasuki sirkulasi darah -> adanya mediator biokimiawi yang dikeluarkan oleh tubuh -> terjadi vasospasme arteri paru-paru -> terjadi hipertensi pembuluh darah dari paru -> kenaikan tekanan ventrikel kanan -> terjadi hipoksia -> adanya kerusakan otot jantung dan paru-paru -> gagal jantung kiri -> terjadi kegagalan pernafasan

b. Fase kedua

Adanya mediator biokimiawi -> gangguan pembekuan darah (DIC) -> fase perdarahan yang ditandai dengan perdarahan dan hilangnya kontraksi rahim.


3. Tanda dan Gejala

a.Hipotensi ( syok ), terutama disebabkan reaksi anapilactis terhadap adanya bahan – bahan air
ketuban dalam darah terutama emboli meconium bersifat lethal
b. Gawat janin ( bila janin belum dilahirkan )
C. Edema paru atau sindrom distress pernafasan dewasa.
d. Henti kardiopulmoner
e. Sianosis
f. Koagulopati
g. Dispnea / sesak nafas
h. Kejang

4. Penatalaksanaan

1. Terapi krusnal , meliputi: resusitasi , ventilasi , bantuan sirkulasi , koreksi defek yang khusus ( atonia uteri , defek koagulasi )
2. Penggatian cairan intravena & darah diperlukan untuk mengkoreksi hipovolemia & perdarahan .
3. Oksitosin yang di tambahkan ke infus intravena membantu penanganan atonia uteri.
4. Morfin ( 10 mg ) dapat membantu mengurangi dispnea dan ancietas .
5. Heparin membantu dalam mencegah defibrinasi intravaskular dengan menghambat proses perbekuan
6. Amniofilin ( 250 – 500 mg ) melalui IV mungkin berguna bila ada bronkospasme .
7. Isoproternol di berikan perlahan – lahan melalui Iv untuk menyokong tekanan darah sistolik kira – kira 100 mmHg
8. Kortikosteroid secara IV mungkin bermanfaat .
9. 0ksigen selalu merupakan indikasi intubasi dan tekan akhir ekspirasi positif (PEEP) mungkin diperlukan .
10. Untuk memperbaiki defek koagulasi dapat digunakan plasma beku segar dan sedian trombosit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s